Simbol Ketakwaan Sejati Dicontohkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
Sabtu, 15 Juni 2024 - 05:15 WIB
loading...
Simbol ketakwaan yang sesungguhnya kepada Allah Rabbul ‘Alamin adalah pengorbanan Ibrahim (seorang ayah) yang menyembelih Ibrahim (anaknya) dan Ismail menerima dengan ikhlas. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Simbol ketakwaan yang sesungguhnya kepada Allah Rabbul ‘Alamin adalah pengorbanan Ibrahim (seorang ayah) yang menyembelih Ibrahim (anaknya). Artinya, ketika Ismail memberikan dan menyerahkan dirinya untuk disembelih itulah bukti ketundukan yang sempurna kepada Rabbul Izzati wal Jalalah.
Hal itu dikatakan Nabi Ismail berkata kepada ayahnya :
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan mendapati aku insyaAllah termasuk orang-orang yang bersabar.” (QS. Ash-Shaffat : 102).
Akibat kesabaran dan ketaatan Nabi Ibrahim dan anaknya, maka Allah gantikan dengan seekor kambing lalu Allah menyebutkan:
“Dan Kami gantikan dengan sembelihan yang agung.” (QS. Ash-Shaffat : 107)
Dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim dalamIghatsatul Lahfan. pengorbanan antar bapak dan anak itu menunjukkan bahwasanya sembelihan di Idul Adha adalah merupakan sembelihan yang agung, sembelihan yang besar disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini memberikan kepada kita simbol bahwasanya seorang hamba hendaklah mengorbankan dirinya terhadap Rabbul ‘Alamin, Rabb yang telah menciptakan dirinya, yang telah memberikan kepada dia berbagai macam kenikmatan-kenikmatan yang sangat banyak kepadanya. Itulah iman, itulah ketaatan dan ketundukan.
Ketika seorang hamba menyembelih kambingnya tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa itu adalah sembelihan yang agung dan besar. Ia adalah ibadah. Sebagaimana Allah berfirman:
Hal itu dikatakan Nabi Ismail berkata kepada ayahnya :
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّـهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan mendapati aku insyaAllah termasuk orang-orang yang bersabar.” (QS. Ash-Shaffat : 102).
Akibat kesabaran dan ketaatan Nabi Ibrahim dan anaknya, maka Allah gantikan dengan seekor kambing lalu Allah menyebutkan:
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
“Dan Kami gantikan dengan sembelihan yang agung.” (QS. Ash-Shaffat : 107)
Dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim dalamIghatsatul Lahfan. pengorbanan antar bapak dan anak itu menunjukkan bahwasanya sembelihan di Idul Adha adalah merupakan sembelihan yang agung, sembelihan yang besar disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini memberikan kepada kita simbol bahwasanya seorang hamba hendaklah mengorbankan dirinya terhadap Rabbul ‘Alamin, Rabb yang telah menciptakan dirinya, yang telah memberikan kepada dia berbagai macam kenikmatan-kenikmatan yang sangat banyak kepadanya. Itulah iman, itulah ketaatan dan ketundukan.
Ketika seorang hamba menyembelih kambingnya tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa itu adalah sembelihan yang agung dan besar. Ia adalah ibadah. Sebagaimana Allah berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّـهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٢﴾ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ
Lihat Juga :