Kisah Bilal Mengikat Khalid bin Walid karena Perintah Umar bin Khattab
Kamis, 13 Juni 2024 - 14:33 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Toleransi Khalifah Umar bin Khattab Terhadap Penduduk Yerusalem
Begitu keadaan Abu Ubaidah dan semua pasukan Muslimin dalam menyaksikan pemandangan itu. Lalu bagaimana Khalid sendiri? Mampukah kita membayangkan apa yang sedang berkecamuk dalam hatinya saat itu, apa yang sedang membahana dalam pikirannya?
Kata-kata tercengang, pedih, kebanggaan yang terluka, kemarahan yang terpendam, pemberontakan di hati yang membara, secara satu persatu atau bersama-sama, rasanya akan terlalu sempit ruangan untuk dapat melukisan apa yang sekarang sedang bergejolak dalam hati laki-laki yang tak pernah menudukkan kepala itu, tak pernah merendahkan diri selama hidupnya.
Bahkan di zaman jahiliahnya dan di zaman islamnya pun sudah merupakan lambang kebanggaan, kehormatan dan harga diri yang tinggi. Dialah pahlawan dengan cirinya yang khas.
Alangkah sering sudah pedang Khalid memenggal kepala orang yang begitu angkuh, dialah jenderal perkasa yang dengan kemampuannya telah menunduk kan kabilah-kabilah dan kerajaan-kerajaan besar.
Kita lihat dia sekarang diikat dengan serbannya - orang yang sudah mengikat ribuan tawanan perang dengan rantai! Sudah kita lihatkah dia sekarang dituduh mengkhianati harta Muslimin padahal melalui tangannya Allah telah mengangkat martabat Islam dan kaum Muslimin! Ironis sekali!
Tidakkah lebih baik buat dia mati terkapar di medan kepahlawanan dan kehormatan diri daripada dibawa ke dalam suasana sebagai pengkhianat kerdil, yang akan mencampakkan kehormatan dirinya, menginjak-injak arti kepahlawanannya!
Baca juga: Penaklukan Yerusalem: Kisah Khalifah Umar Menolak Salat di Gereja
Sikap Khalid
Tetapi bagaimana ia bisa keluar dari situasi yang sangat hina ini? Bilal berdiri menanyakannya: "Yang diberikan kepada Asy'as sepuluh ribu itu dari hartanya sendiri atau dari harta perolehan perang?"
Dan dengan taat Bilal tidak membuka ikatan itu sebelum ia menjawab. Akan teruskah ia tidak menjawab dan pemandangan yang hina ini akan berlangsung lama? Atau akan mencabik ikatan itu dengan tangannya sendiri dan meletakkan kembali topi kehormatan di kepalanya dan menatap semua yang hadir dengan pandangan mata yang mematikan, yang sudah tidak asing lagi bagi kawan dan lawan seraya berkata kepada mereka: "Saya tidak akan menjawab. Terserah Umar apa yang akan diperbuatnya!"
Tetapi dia adalah prajurit sejati, dia salah seorang prajurit dari pasukan Mukminin, dan Umar adalah Amirulmukminin. Dia yang dengan pedangnya telah menebas kaum murtad pembangkang tatkala mereka memberontak, berusaha hendak menyaingi kepemimpinan Abu Bakr.
Memberontakkah ia kepada Umar lalu menyaingi hak-hak kepemimpinannya? Tidak! Imannya kepada Allah lebih besar daripada akan memberontak kepada orang yang oleh kaum Mukminin telah diserahi pimpinan.
Baca juga: Kisah Khalifah Umar Memasuki Yerusalem: Marah dengan Kuda yang Dianggap Sombong
Oleh karena itu, ketika Bilal berulang-ulang mengajukan pertanyaan: "Dari harta Andakah yang Anda berikan atau dari harta perolehan perang," ia menjawab: "Dari harta saya pribadi!"
Timbul gempar di kalangan Muslimin ketika mendengar kata-kata itu. Mereka girang bahwa Khalid sudah bicara. Terbayang oleh kebanyakan mereka, bahwa segalanya kini sudah selesai, dan dia akan kembali seperti semula memimpin wilayahnya di Kinnasrin, lalu sejarah pun akan dilupakan dan segala peranannya dengan apa yang telah terjadi akan dilupakan pula. Mereka merasa lebih tenang lagi karena lama setelah Bilal mendengar kata-kata Khalid, ia dilepas, dan topi kehormatannya dikembalikan, dan dikenakannya sendiri dengan tangannya seraya berkata: "Kita taat dan patuh kepada pemimpin-pemimpin kita, kita menghormati dan mengabdi kepada semua rakyat kita."
Begitu keadaan Abu Ubaidah dan semua pasukan Muslimin dalam menyaksikan pemandangan itu. Lalu bagaimana Khalid sendiri? Mampukah kita membayangkan apa yang sedang berkecamuk dalam hatinya saat itu, apa yang sedang membahana dalam pikirannya?
Kata-kata tercengang, pedih, kebanggaan yang terluka, kemarahan yang terpendam, pemberontakan di hati yang membara, secara satu persatu atau bersama-sama, rasanya akan terlalu sempit ruangan untuk dapat melukisan apa yang sekarang sedang bergejolak dalam hati laki-laki yang tak pernah menudukkan kepala itu, tak pernah merendahkan diri selama hidupnya.
Bahkan di zaman jahiliahnya dan di zaman islamnya pun sudah merupakan lambang kebanggaan, kehormatan dan harga diri yang tinggi. Dialah pahlawan dengan cirinya yang khas.
Alangkah sering sudah pedang Khalid memenggal kepala orang yang begitu angkuh, dialah jenderal perkasa yang dengan kemampuannya telah menunduk kan kabilah-kabilah dan kerajaan-kerajaan besar.
Kita lihat dia sekarang diikat dengan serbannya - orang yang sudah mengikat ribuan tawanan perang dengan rantai! Sudah kita lihatkah dia sekarang dituduh mengkhianati harta Muslimin padahal melalui tangannya Allah telah mengangkat martabat Islam dan kaum Muslimin! Ironis sekali!
Tidakkah lebih baik buat dia mati terkapar di medan kepahlawanan dan kehormatan diri daripada dibawa ke dalam suasana sebagai pengkhianat kerdil, yang akan mencampakkan kehormatan dirinya, menginjak-injak arti kepahlawanannya!
Baca juga: Penaklukan Yerusalem: Kisah Khalifah Umar Menolak Salat di Gereja
Sikap Khalid
Tetapi bagaimana ia bisa keluar dari situasi yang sangat hina ini? Bilal berdiri menanyakannya: "Yang diberikan kepada Asy'as sepuluh ribu itu dari hartanya sendiri atau dari harta perolehan perang?"
Dan dengan taat Bilal tidak membuka ikatan itu sebelum ia menjawab. Akan teruskah ia tidak menjawab dan pemandangan yang hina ini akan berlangsung lama? Atau akan mencabik ikatan itu dengan tangannya sendiri dan meletakkan kembali topi kehormatan di kepalanya dan menatap semua yang hadir dengan pandangan mata yang mematikan, yang sudah tidak asing lagi bagi kawan dan lawan seraya berkata kepada mereka: "Saya tidak akan menjawab. Terserah Umar apa yang akan diperbuatnya!"
Tetapi dia adalah prajurit sejati, dia salah seorang prajurit dari pasukan Mukminin, dan Umar adalah Amirulmukminin. Dia yang dengan pedangnya telah menebas kaum murtad pembangkang tatkala mereka memberontak, berusaha hendak menyaingi kepemimpinan Abu Bakr.
Memberontakkah ia kepada Umar lalu menyaingi hak-hak kepemimpinannya? Tidak! Imannya kepada Allah lebih besar daripada akan memberontak kepada orang yang oleh kaum Mukminin telah diserahi pimpinan.
Baca juga: Kisah Khalifah Umar Memasuki Yerusalem: Marah dengan Kuda yang Dianggap Sombong
Oleh karena itu, ketika Bilal berulang-ulang mengajukan pertanyaan: "Dari harta Andakah yang Anda berikan atau dari harta perolehan perang," ia menjawab: "Dari harta saya pribadi!"
Timbul gempar di kalangan Muslimin ketika mendengar kata-kata itu. Mereka girang bahwa Khalid sudah bicara. Terbayang oleh kebanyakan mereka, bahwa segalanya kini sudah selesai, dan dia akan kembali seperti semula memimpin wilayahnya di Kinnasrin, lalu sejarah pun akan dilupakan dan segala peranannya dengan apa yang telah terjadi akan dilupakan pula. Mereka merasa lebih tenang lagi karena lama setelah Bilal mendengar kata-kata Khalid, ia dilepas, dan topi kehormatannya dikembalikan, dan dikenakannya sendiri dengan tangannya seraya berkata: "Kita taat dan patuh kepada pemimpin-pemimpin kita, kita menghormati dan mengabdi kepada semua rakyat kita."
(mhy)
Lihat Juga :