Cahaya Keimanan Menyatukan Kembali Cinta yang Lama Terpisah
Jum'at, 21 Agustus 2020 - 13:43 WIB
loading...
Hampir sempurnalah sifat kewanitaan Zainab Al-Kubra, sosok istri yang setia, sabar, berjuang dan bermujahadah. Foto ilustrasi
A
A
A
Cinta sejati, kemana pun ia pergi pasti akan kembali. Inilah kisah cinta putri sulung Rasulullah, Zainab Al-Kubra binti Muhammad bin ‘Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kisahnya tentang kesetiaan suami istri yang dipisahkan oleh iman dan dipersatukan kembali oleh iman di batas ajalnya. Sangat mengharukan dan menggetarkan jiwa, yang bisa menjadi contoh keteladan pasangan muslim zaman sekarang.
Dirangkum dari buku "Nisaa' Haular Rasul/Mereka Adalah Para Shahabiyat' yang ditulis Mahmud Mahdi Al-Istambuli dan Musthafa ABu Nashr Asy-Syalabi, inilah kisah Zainab Al-Kubra;
Zainab terlahir dari ummul mukminin Khadijah binti Khuwailid, 10 tahun sebelum diangkat ayahnya sebagai Nabi Allah. Semasa hidup ibunya, sang putri yang menawan ini disunting oleh seorang pemuda terpandang di Makkah bernama, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ bin ‘Abdil ‘Uzza bin ‘Abdisy Syams bin ‘Abdi Manaf bin Qushay Al-Qurasyi namanya. Dia putra Halah bintu Khuwailid, saudari perempuan Khadijah. Ketika itu, Khadijah radhiyallahu ‘anhamenghadiahkan seuntai kalung untuk pengantin putrinya. (Baca juga : Kisah Perempuan Penghuni Surga Karena Konsisten Menjaga Auratnya )
Tatkala cahaya Islam merebak, Allah Subhanahu wa ta’ala membuka hati Zainab rradhiyallahu ‘anhauntuk menyambutnya. Namun, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ masih berada di atas agama nenek moyangnya. Dua insan di atas dua jalan yang berbeda…
Orang-orang musyrik pun mendesak Abul ‘Ash untuk menceraikan Zainab, namun Abul ‘Ash dengan tegas menolak mentah-mentah permintaan mereka. Akan tetapi, Zainabradhiyallahu ‘anha masih pula tertahan untuk bertolak ke bumi hijrah.
Ramadhan tahun kedua setelah hijrah, terukir peristiwa Badar. Dalam pertempuran itu, terbunuh tujuh puluh orang dari pihak musyrikin dan tertawan tujuh puluh orang dari mereka. Di antara tawanan itu ada Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’.
Penduduk Makkah pun mengirim tebusan untuk membebaskan para tawanan. Terselip di antara harta tebusan itu seuntai kalung milik Zainab radhiyallahu ‘anhauntuk kebebasan suaminya. Ketika melihat kalung itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkenang pada Khadijah radhiallahu ‘anha yang telah tiada. Betapa terharu hati beliau mengingat putri yang dicintainya. Lalu beliau berkata pada para shahabat, “Apabila kalian bersedia membebaskan tawanan yang ditebus oleh Zainab dan mengembalikan harta tebusan yang dia berikan, lakukanlah hal itu.” Para shahabat pun menjawab, “Baiklah, wahai Rasulullah!”
Kemudian mereka lepaskan Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ dan mengembalikan seuntai kalung Zainab yang dijadikan harta tebusan itu.
Ketika itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta Abul ‘Ash untuk berjanji agar membiarkan Zainab pergi meninggalkan negeri Makkah menuju Madinah. Kemudian Rasulullah mengutus Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu bersama salah seorang Anshar sembari berkata, “Pergilah kalian ke perkampungan Ya’juj sampai bertemu dengan Zainab, lalu bawalah dia kemari.”
Berpisahlah Zainab bintu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas jalan Islam, meninggalkan suaminya yang masih berkubang dalam kesyirikan.
Dirangkum dari buku "Nisaa' Haular Rasul/Mereka Adalah Para Shahabiyat' yang ditulis Mahmud Mahdi Al-Istambuli dan Musthafa ABu Nashr Asy-Syalabi, inilah kisah Zainab Al-Kubra;
Zainab terlahir dari ummul mukminin Khadijah binti Khuwailid, 10 tahun sebelum diangkat ayahnya sebagai Nabi Allah. Semasa hidup ibunya, sang putri yang menawan ini disunting oleh seorang pemuda terpandang di Makkah bernama, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ bin ‘Abdil ‘Uzza bin ‘Abdisy Syams bin ‘Abdi Manaf bin Qushay Al-Qurasyi namanya. Dia putra Halah bintu Khuwailid, saudari perempuan Khadijah. Ketika itu, Khadijah radhiyallahu ‘anhamenghadiahkan seuntai kalung untuk pengantin putrinya. (Baca juga : Kisah Perempuan Penghuni Surga Karena Konsisten Menjaga Auratnya )
Tatkala cahaya Islam merebak, Allah Subhanahu wa ta’ala membuka hati Zainab rradhiyallahu ‘anhauntuk menyambutnya. Namun, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ masih berada di atas agama nenek moyangnya. Dua insan di atas dua jalan yang berbeda…
Orang-orang musyrik pun mendesak Abul ‘Ash untuk menceraikan Zainab, namun Abul ‘Ash dengan tegas menolak mentah-mentah permintaan mereka. Akan tetapi, Zainabradhiyallahu ‘anha masih pula tertahan untuk bertolak ke bumi hijrah.
Ramadhan tahun kedua setelah hijrah, terukir peristiwa Badar. Dalam pertempuran itu, terbunuh tujuh puluh orang dari pihak musyrikin dan tertawan tujuh puluh orang dari mereka. Di antara tawanan itu ada Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’.
Penduduk Makkah pun mengirim tebusan untuk membebaskan para tawanan. Terselip di antara harta tebusan itu seuntai kalung milik Zainab radhiyallahu ‘anhauntuk kebebasan suaminya. Ketika melihat kalung itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkenang pada Khadijah radhiallahu ‘anha yang telah tiada. Betapa terharu hati beliau mengingat putri yang dicintainya. Lalu beliau berkata pada para shahabat, “Apabila kalian bersedia membebaskan tawanan yang ditebus oleh Zainab dan mengembalikan harta tebusan yang dia berikan, lakukanlah hal itu.” Para shahabat pun menjawab, “Baiklah, wahai Rasulullah!”
Kemudian mereka lepaskan Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ dan mengembalikan seuntai kalung Zainab yang dijadikan harta tebusan itu.
Ketika itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta Abul ‘Ash untuk berjanji agar membiarkan Zainab pergi meninggalkan negeri Makkah menuju Madinah. Kemudian Rasulullah mengutus Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu bersama salah seorang Anshar sembari berkata, “Pergilah kalian ke perkampungan Ya’juj sampai bertemu dengan Zainab, lalu bawalah dia kemari.”
Berpisahlah Zainab bintu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas jalan Islam, meninggalkan suaminya yang masih berkubang dalam kesyirikan.
Lihat Juga :