Haekal: Khalifah Umar Pecat Khalid bin Walid karena Krisis Kepercayaan
Rabu, 19 Juni 2024 - 13:02 WIB
loading...
Umar bin Kattab memecat Khalid dari segala jabatannya sama dengan alasan ketika ia memecatnya dari pimpinan militer, begitu ia memangku tugas Khalifah. Ilustrasi: art station
A
A
A
Muhammad Husain Haekal berpendapat Umar bin Kattab memecat Khalid bin Walid dari segala jabatannya sama dengan alasan ketika ia memecatnya dari pimpinan militer, begitu ia memangku tugas khalifah .
"Krisis kepercayaan antara kedua orang itu sudah ada sejak di masa Khalifah Abu Bakar atau sebelumnya," tulis Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab, Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (PT Pustaka Litera AntarNusa, 2000).
Umar sudah lama mengharapkan Abu Bakar memecat Khalid ketika terjadi peristiwa Malik bin Nuwairah atau peristiwa lain.
Kala itu, Khalifah Abu Bakar menolak usulan Umar bin Khattab. Nah, begitu Umar menjadi Kalifah, ia memecat sebagai panglima tertinggi, digantikan Abu Ubaidah bin Jarrah.
Baca juga: Kisah Kesedihan Khalifah Umar atas Wafatnya Khalid bin Walid
Khalid memegang jabatan setingkat batalion. Pimpinan angkatan bersenjata Muslimin di Yarmuk masih tetap berada di tangannya. Nama besarnya dan kepercayaan Abu Bakar kepadanya berjalan tanpa harus ia dipecat, hanya cukup dengan mengembalikan Abu Ubaidah ke tempatnya dalam pimpinan militer dan Khalid sendiri berada di bawah panji Abu Ubaidah.
Sesudah Khalid mendapat kemenangan di Yarmuk dan membebaskan Damsyik, peranannya bersipongang ke seluruh Semenanjung, seperti juga di Irak dan di Syam.
Di samping itu pasukan Romawi masih tetap kuat berhadapan dengan pasukan Muslimin. Tidak bisa lain buat Umar harus menerima sepupunya itu kendati masih dengan berat hati dan dia sangat mengagumi peranannya kendati tetap masih dengan prasangka buruknya.
Sesudah kemudian Heraklius lari ke ibu kota kerajaannya dan pasukan Muslimin berhasil menumpas pembangkangan di utara Syam serta memperkuat perbatasannya dengan pihak Romawi, Umar merasa sudah aman dari kemungkinan kembalinya Heraklius dan pasukannya.
Buat Khalid sendiri hanya tinggal nafsu keangkuhannya yang harus dibungkam, dan mengenai rampasan perang dan yang lain ia harus tunduk kepada pendapat Khalifah, seperti yang dilakukan oleh semua wakilnya.
"Krisis kepercayaan antara kedua orang itu sudah ada sejak di masa Khalifah Abu Bakar atau sebelumnya," tulis Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab, Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (PT Pustaka Litera AntarNusa, 2000).
Umar sudah lama mengharapkan Abu Bakar memecat Khalid ketika terjadi peristiwa Malik bin Nuwairah atau peristiwa lain.
Kala itu, Khalifah Abu Bakar menolak usulan Umar bin Khattab. Nah, begitu Umar menjadi Kalifah, ia memecat sebagai panglima tertinggi, digantikan Abu Ubaidah bin Jarrah.
Baca juga: Kisah Kesedihan Khalifah Umar atas Wafatnya Khalid bin Walid
Khalid memegang jabatan setingkat batalion. Pimpinan angkatan bersenjata Muslimin di Yarmuk masih tetap berada di tangannya. Nama besarnya dan kepercayaan Abu Bakar kepadanya berjalan tanpa harus ia dipecat, hanya cukup dengan mengembalikan Abu Ubaidah ke tempatnya dalam pimpinan militer dan Khalid sendiri berada di bawah panji Abu Ubaidah.
Sesudah Khalid mendapat kemenangan di Yarmuk dan membebaskan Damsyik, peranannya bersipongang ke seluruh Semenanjung, seperti juga di Irak dan di Syam.
Di samping itu pasukan Romawi masih tetap kuat berhadapan dengan pasukan Muslimin. Tidak bisa lain buat Umar harus menerima sepupunya itu kendati masih dengan berat hati dan dia sangat mengagumi peranannya kendati tetap masih dengan prasangka buruknya.
Sesudah kemudian Heraklius lari ke ibu kota kerajaannya dan pasukan Muslimin berhasil menumpas pembangkangan di utara Syam serta memperkuat perbatasannya dengan pihak Romawi, Umar merasa sudah aman dari kemungkinan kembalinya Heraklius dan pasukannya.
Buat Khalid sendiri hanya tinggal nafsu keangkuhannya yang harus dibungkam, dan mengenai rampasan perang dan yang lain ia harus tunduk kepada pendapat Khalifah, seperti yang dilakukan oleh semua wakilnya.
Lihat Juga :