Haekal: Khalifah Umar Pecat Khalid bin Walid karena Krisis Kepercayaan
Rabu, 19 Juni 2024 - 13:02 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Khalifah Umar Pecat Khalid bin Walid demi Selamatkan Tauhid Umat
Akan tetapi Khalid masih juga bertahan pada rasa harga diri yang tinggi dan pada kemampuan dirinya. Lalu ia memutuskan sendiri apa yang dikira menjadi haknya dalam membagi-bagikan hadiah dari harta rampasan perang, yang sebenarnya bertentangan dengan pendapat Amirulmukminin, dan sudah tidak sesuai dengan kebijaksanaannya.
Segala anggapan buruk terhadap Khalid sebelum dan sesudah peristiwa Malik bin Nuwairah sudah bertimbun dalam hati Umar. Yang sudah terjadi dengan pemanggilan Khalid ke Hims untuk tampil di depan umum sebagai pihak yang tertuduh, topi kehormatannya ditanggalkan dan ia harus diikat dengan serbannya sendiri, ia disoal seolah ia sudah mengkhianati amanat umat.
Sesudah itu dilanjutkan dengan pemecatan dan diasingkan jauh dari medan kebanggaan dan kejayaannya sampai ia menemui ajalnya di atas ranjang seperti seekor keledai liar, dan ada pengecut yang tak bisa tidur!
"Semoga Allah memberi rahmat kepada Khalid dan kepada Umar. Keduanya merupakan dua kekuatan yang paling tangguh," ujar Haekal.
Semenanjung Arab terbuka luas bagi kedua kekuatan yang tadinya terpencil itu. Setelah kedua kekuatan itu terbuka dan tersebar luas, kedua raja Persia dan Romawi bersama-sama merasa kesal. Kemudian kedua kekuatan itu saling berbenturan, dan sudah tentu salah satunya harus ada yang mengerut supaya yang lain dapat menyebar.
Baca juga: Kasus Khalid bin Walid, Cara Pandang Umar dan Abu Bakar
Khalid sudah rela menjadi kekuatan yang mengerut itu, agar tidak terjadi perbenturan yang akan membuat kedua kekuatan itu binasa. Sudah merupakan karunia Allah juga bahwa ketika pengerutan itu terjadi keadaan kaum Muslimin di Syam sudah tenteram dengan kekuasaan yang mereka bangun, keadilan sudah dapat ditegakkan dan kebijakan pemerintah berjalan mantap.
Akan tetapi Khalid masih juga bertahan pada rasa harga diri yang tinggi dan pada kemampuan dirinya. Lalu ia memutuskan sendiri apa yang dikira menjadi haknya dalam membagi-bagikan hadiah dari harta rampasan perang, yang sebenarnya bertentangan dengan pendapat Amirulmukminin, dan sudah tidak sesuai dengan kebijaksanaannya.
Segala anggapan buruk terhadap Khalid sebelum dan sesudah peristiwa Malik bin Nuwairah sudah bertimbun dalam hati Umar. Yang sudah terjadi dengan pemanggilan Khalid ke Hims untuk tampil di depan umum sebagai pihak yang tertuduh, topi kehormatannya ditanggalkan dan ia harus diikat dengan serbannya sendiri, ia disoal seolah ia sudah mengkhianati amanat umat.
Sesudah itu dilanjutkan dengan pemecatan dan diasingkan jauh dari medan kebanggaan dan kejayaannya sampai ia menemui ajalnya di atas ranjang seperti seekor keledai liar, dan ada pengecut yang tak bisa tidur!
"Semoga Allah memberi rahmat kepada Khalid dan kepada Umar. Keduanya merupakan dua kekuatan yang paling tangguh," ujar Haekal.
Semenanjung Arab terbuka luas bagi kedua kekuatan yang tadinya terpencil itu. Setelah kedua kekuatan itu terbuka dan tersebar luas, kedua raja Persia dan Romawi bersama-sama merasa kesal. Kemudian kedua kekuatan itu saling berbenturan, dan sudah tentu salah satunya harus ada yang mengerut supaya yang lain dapat menyebar.
Baca juga: Kasus Khalid bin Walid, Cara Pandang Umar dan Abu Bakar
Khalid sudah rela menjadi kekuatan yang mengerut itu, agar tidak terjadi perbenturan yang akan membuat kedua kekuatan itu binasa. Sudah merupakan karunia Allah juga bahwa ketika pengerutan itu terjadi keadaan kaum Muslimin di Syam sudah tenteram dengan kekuasaan yang mereka bangun, keadilan sudah dapat ditegakkan dan kebijakan pemerintah berjalan mantap.
(mhy)
Lihat Juga :