Reconquista dan Kisah Runtuhnya Kekhalifahan Islam di Eropa
Kamis, 25 Juli 2024 - 14:57 WIB
loading...
Reconquista adalah perlawanan melalui jalur perang oleh kerajaan-kerajaan Kristen yang ada di Semenanjung Iberia utara terhadap kekuasaan dan pendudukan Islam. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Reconquista adalah perlawanan melalui jalur perang oleh kerajaan-kerajaan Kristen yang ada di Semenanjung Iberia utara terhadap kekuasaan dan pendudukan Islam di wilayah Semenanjung Iberia selatan.
"Tujuannya adalah merebut kembali daerah tersebut dan juga mengusir Islam," tulis Daniel Callahan dalam bukunya berjudul "Jerusalem and the Cross in the Life and Writings of Adhemar of Chabannes".
Pada tahun 1031, Kekhalifahan Umayah Cordoba telah runtuh. Tidak ada kesepakatan emirat atau provinsi-provinsi Kekhalifahan Cordoba untuk mengangkat khalifah baru menggantikan Hisyam III.
Akhirnya provinsi-provinsi mendeklarasikan diri menjadi kerajaan-kerajaan kecil atau dinasti-dinasti kecil di daerah masing-masing.
Baca juga: Kisah Pertempuran Manzikert dan Lahirnya Kesultanan Turki Seljuk Rum: Byzantium Terdesak
Roger Collins dalam bukunya berjudul "A History of Spain - Caliphs and Kings" menyebut pendirian tersebut terkenal dengan sebutan pemerintahan Muluk al-Thawaif, atau pemerintahan dengan banyaknya berdiri thaifah-thaifah (sistem pemerintahan) kecil.
Thaifah merupakan pemerintahan Islam di wilayah-wilayah pecahan dari Kekhalifahan Cordoba yang memerdekakan diri. Thaifah-thaifah tersebut berdiri sendiri dan mengelola pemerintahannya sendiri.
Oleh sebab itu, mereka lebih mudah dikalahkan oleh Kerajaan Kristen di Semenanjung Iberia dengan Reconquista. Selain itu, mereka juga saling bermusuhan antara satu dengan yang lainnya. Jumlahnya sebanyak 30 thaifah pasca pembubaran Kekhalifahan Cordoba.
Realita tersebut membuat kekuatan Islam semakin lemah sehingga kerajaan-kerajaan Kristen mulai berani menyerang Islam seperti Kerajaan Castilla, Aragon, Navarre, Leon, dan Portugal.
Pada tahun 1031 hingga 1090, dapat dikatakan bahwa Islam di bawah supremasi kekuatan kerajaan Kristen. Banyak faktor selain pembubaran Kekhalifahan Cordoba yang membuat Islam lemah.
"Tujuannya adalah merebut kembali daerah tersebut dan juga mengusir Islam," tulis Daniel Callahan dalam bukunya berjudul "Jerusalem and the Cross in the Life and Writings of Adhemar of Chabannes".
Pada tahun 1031, Kekhalifahan Umayah Cordoba telah runtuh. Tidak ada kesepakatan emirat atau provinsi-provinsi Kekhalifahan Cordoba untuk mengangkat khalifah baru menggantikan Hisyam III.
Akhirnya provinsi-provinsi mendeklarasikan diri menjadi kerajaan-kerajaan kecil atau dinasti-dinasti kecil di daerah masing-masing.
Baca juga: Kisah Pertempuran Manzikert dan Lahirnya Kesultanan Turki Seljuk Rum: Byzantium Terdesak
Roger Collins dalam bukunya berjudul "A History of Spain - Caliphs and Kings" menyebut pendirian tersebut terkenal dengan sebutan pemerintahan Muluk al-Thawaif, atau pemerintahan dengan banyaknya berdiri thaifah-thaifah (sistem pemerintahan) kecil.
Thaifah merupakan pemerintahan Islam di wilayah-wilayah pecahan dari Kekhalifahan Cordoba yang memerdekakan diri. Thaifah-thaifah tersebut berdiri sendiri dan mengelola pemerintahannya sendiri.
Oleh sebab itu, mereka lebih mudah dikalahkan oleh Kerajaan Kristen di Semenanjung Iberia dengan Reconquista. Selain itu, mereka juga saling bermusuhan antara satu dengan yang lainnya. Jumlahnya sebanyak 30 thaifah pasca pembubaran Kekhalifahan Cordoba.
Realita tersebut membuat kekuatan Islam semakin lemah sehingga kerajaan-kerajaan Kristen mulai berani menyerang Islam seperti Kerajaan Castilla, Aragon, Navarre, Leon, dan Portugal.
Pada tahun 1031 hingga 1090, dapat dikatakan bahwa Islam di bawah supremasi kekuatan kerajaan Kristen. Banyak faktor selain pembubaran Kekhalifahan Cordoba yang membuat Islam lemah.
Lihat Juga :