Begini Kata Al-Qur'an Menjawab Mereka yang Mengingkari Hari Akhir
Jum'at, 09 Agustus 2024 - 13:26 WIB
loading...
A
A
A
Orang-orang kafir (mendustakan) ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan-Nya Mereka itulah yang berputus asa dari rahmatKu, dan buat mereka siksa yang pedih ( QS Al-'Ankabut [29] : 23).
"Anda lihat ayat-ayat di atas dan semacamnya tidak secara langsung menuding si pengingkar, tetapi kandungan ayat-ayat itu sedemikian jelas dan tegas menyentuh setiap pengingkar," tutur Qurasih..
Baca juga: Keadaan Kaum Perempuan Menjelang Akhir Zaman
Abdul-Karim Al-Khatib dalam bukunya "Qadhiyat Al-Uluhiyah baina Al-Falsafah wa Ad-Din", mengibaratkan gaya bahasa demikian dengan keadaan satu kelompok yang berbicara tentang pembunuhan.
Ketika itu tampil seorang yang menguraikan kekejaman pembunuh dan akibat-akibat yang akan dialaminya. Ketika menguraikan hal tersebut, si pembunuh ikut hadir mendengarkan ucapan-ucapan tadi. Tentu saja, pelaku pembunuhan dalam hal ini akan merasa bahwa pembicaraan pada hakikatnya ditujukan kepadanya walaupun dari segi redaksi tidak demikian.
Namun justru karena itu, hal ini malah bisa membawa pengaruh ke dalam jiwanya, sehingga diharapkan dapat menimbulkan rasa takut, atau penyesalan yang mengantarkannya kepada kesadaran dan pengakuan. Dampak psikologis ini tentu akan berbeda bila sejak semula pembicara menuding si pelaku kejahatan secara langsung.
Kemungkinan besar ia malahan akan menyangkal. Jadi, dalam gaya demikian, redaksi-redaksi Al-Quran tidak lagi mengarah kepada akal manusia, tetapi lebih banyak diarahkan kepada jiwanya dengan menggunakan bahasa "hati".
Seperti diketahui, bahasa hati tidak (selalu) membutuhkan argumentasi-argumentasi logis. Karena itu, uraian-uraian
Al-Quran dalam berbagai masalah tidak selalu disertai bukti argumentatif. Namun hal ini bukan berarti ayat-ayat lain yang menguraikan hari kebangkitan tidak menggunakan argumentasi sebagai bahasa untuk akal.
Baca juga: Sungai Eufrat Mengering, Tanda Akhir Zaman
Perhatikan misalnya surat Yasin (36) : 78-81 yang mengemukakan argumentasi filosofis, atau surat Al-Baqarah (2) : 259-260, serta surat Al-Kahf (18) : 9-26 yang mengemukakan alasan historis, atau surat Al-Hajj (22) : 5-7 yang menggunakan
analogi, serta surat Al-Najm (53) : 31 yang menguraikan keniscayaannya dari segi tujuan dan hikmah.
"Anda lihat ayat-ayat di atas dan semacamnya tidak secara langsung menuding si pengingkar, tetapi kandungan ayat-ayat itu sedemikian jelas dan tegas menyentuh setiap pengingkar," tutur Qurasih..
Baca juga: Keadaan Kaum Perempuan Menjelang Akhir Zaman
Abdul-Karim Al-Khatib dalam bukunya "Qadhiyat Al-Uluhiyah baina Al-Falsafah wa Ad-Din", mengibaratkan gaya bahasa demikian dengan keadaan satu kelompok yang berbicara tentang pembunuhan.
Ketika itu tampil seorang yang menguraikan kekejaman pembunuh dan akibat-akibat yang akan dialaminya. Ketika menguraikan hal tersebut, si pembunuh ikut hadir mendengarkan ucapan-ucapan tadi. Tentu saja, pelaku pembunuhan dalam hal ini akan merasa bahwa pembicaraan pada hakikatnya ditujukan kepadanya walaupun dari segi redaksi tidak demikian.
Namun justru karena itu, hal ini malah bisa membawa pengaruh ke dalam jiwanya, sehingga diharapkan dapat menimbulkan rasa takut, atau penyesalan yang mengantarkannya kepada kesadaran dan pengakuan. Dampak psikologis ini tentu akan berbeda bila sejak semula pembicara menuding si pelaku kejahatan secara langsung.
Kemungkinan besar ia malahan akan menyangkal. Jadi, dalam gaya demikian, redaksi-redaksi Al-Quran tidak lagi mengarah kepada akal manusia, tetapi lebih banyak diarahkan kepada jiwanya dengan menggunakan bahasa "hati".
Seperti diketahui, bahasa hati tidak (selalu) membutuhkan argumentasi-argumentasi logis. Karena itu, uraian-uraian
Al-Quran dalam berbagai masalah tidak selalu disertai bukti argumentatif. Namun hal ini bukan berarti ayat-ayat lain yang menguraikan hari kebangkitan tidak menggunakan argumentasi sebagai bahasa untuk akal.
Baca juga: Sungai Eufrat Mengering, Tanda Akhir Zaman
Perhatikan misalnya surat Yasin (36) : 78-81 yang mengemukakan argumentasi filosofis, atau surat Al-Baqarah (2) : 259-260, serta surat Al-Kahf (18) : 9-26 yang mengemukakan alasan historis, atau surat Al-Hajj (22) : 5-7 yang menggunakan
analogi, serta surat Al-Najm (53) : 31 yang menguraikan keniscayaannya dari segi tujuan dan hikmah.
(mhy)
Lihat Juga :