Perang Salib: Ketika Masalah Ekonomi Menjadi Pemicu Utama
Senin, 19 Agustus 2024 - 14:57 WIB
loading...
A
A
A
Ketergantungan Eropa terhadap Asia sangat besar karena Eropa mempunyai musim dingin, sehingga tanah mereka tidak dapat banyak menghasilkan komoditas pertanian.
Setelah sebagian Timur Tengah dapat ditaklukkan oleh pasukan Salib I, ekspektasi Eropa terhadap kekayaan Timur Tengah tidak sesuai harapan. Pasukan Salib hanya menguasai daerah barat Sungai Yordan yang tanahnya tidak cocok untuk pertanian.
Baca juga: Begini Kondisi Kekhalifahan Islam Menjelang Perang Salib I
Daerah subur di Timur Tengah terdapat di timur Sungai Yordan, timur Damaskus, dan Mesir, yang semuanya masih dalam kekuasaan Islam.
Kontrol pasukan Salib hanya daerah pesisir pantai seperti pelabuhan di Acre dan Antiokhia, sementara kota pelabuhan terbesar dan teramai yaitu Alexandria belum dikuasai.
Oleh sebab itu pasca Perang Salib IV, pertempuran bergeser ke Mesir. Pasukan Salib yang terdiri dari berbagai kerajaan di Eropa ingin menguasai Mesir, tidak hanya karena alasan politik untuk menumbangkan Dinasti Ayyubiyah dan Dinasti Mamlukiyah di masa berikutnya, dan bukan karena alasan keagamaan melindungi Kristen Koptik di Mesir, tetapi juga karena di Mesir terdapat Sungai Nil.
Sungai Nil membuat Mesir menjadi tanah yang subur dengan hasil pertanian yang melimpah.
Herodotus, sejarawan asal Yunani Kuno mengatakan bahwa Mesir merupakan hadiah dari Sungai Nil. Tanpa Sungai Nil tidak ada Mesir dan tanpa Sungai Nil tidak akan ada peradaban Mesir Kuno dan peradaban manusia.
Baca juga: Perang Salib: Byzantium Bersekutu dengan Shalahuddin Al Ayyubi
Faktanya pada zaman dahulu daerah yang dilalui sungai melahirkan suatu peradaban. Peradaban dilahirkan dari sebuah sumber daya alam berupa air yang memungkinkan adanya bercocok tanam.
Oleh sebab itu kekayaan dan kesuburan tanah Mesir karena adanya Sungai Nil sangat dibutuhkan pasukan Salib.
Setelah sebagian Timur Tengah dapat ditaklukkan oleh pasukan Salib I, ekspektasi Eropa terhadap kekayaan Timur Tengah tidak sesuai harapan. Pasukan Salib hanya menguasai daerah barat Sungai Yordan yang tanahnya tidak cocok untuk pertanian.
Baca juga: Begini Kondisi Kekhalifahan Islam Menjelang Perang Salib I
Daerah subur di Timur Tengah terdapat di timur Sungai Yordan, timur Damaskus, dan Mesir, yang semuanya masih dalam kekuasaan Islam.
Kontrol pasukan Salib hanya daerah pesisir pantai seperti pelabuhan di Acre dan Antiokhia, sementara kota pelabuhan terbesar dan teramai yaitu Alexandria belum dikuasai.
Oleh sebab itu pasca Perang Salib IV, pertempuran bergeser ke Mesir. Pasukan Salib yang terdiri dari berbagai kerajaan di Eropa ingin menguasai Mesir, tidak hanya karena alasan politik untuk menumbangkan Dinasti Ayyubiyah dan Dinasti Mamlukiyah di masa berikutnya, dan bukan karena alasan keagamaan melindungi Kristen Koptik di Mesir, tetapi juga karena di Mesir terdapat Sungai Nil.
Sungai Nil membuat Mesir menjadi tanah yang subur dengan hasil pertanian yang melimpah.
Herodotus, sejarawan asal Yunani Kuno mengatakan bahwa Mesir merupakan hadiah dari Sungai Nil. Tanpa Sungai Nil tidak ada Mesir dan tanpa Sungai Nil tidak akan ada peradaban Mesir Kuno dan peradaban manusia.
Baca juga: Perang Salib: Byzantium Bersekutu dengan Shalahuddin Al Ayyubi
Faktanya pada zaman dahulu daerah yang dilalui sungai melahirkan suatu peradaban. Peradaban dilahirkan dari sebuah sumber daya alam berupa air yang memungkinkan adanya bercocok tanam.
Oleh sebab itu kekayaan dan kesuburan tanah Mesir karena adanya Sungai Nil sangat dibutuhkan pasukan Salib.
(mhy)
Lihat Juga :