Perang Salib: Ketika Masalah Ekonomi Menjadi Pemicu Utama
Senin, 19 Agustus 2024 - 14:57 WIB
loading...
Kontrol pasukan Salib hanya daerah pesisir pantai seperti pelabuhan di Acre dan Antiokhia, sementara kota pelabuhan terbesar dan teramai yaitu Alexandria belum dikuasai. Ilustrasi: National Geographic
A
A
A
Perang Salib di Timur Tengah memakan waktu 269 tahun, dimulai dari tahun 1096 hingga 1365. Itu jika Perang Salib X dihitung. Jika tidak, maka selama 176 tahun, yaitu dari tahun 1096 hingga 1272.
Jati Pamungkas, S.Hum, M.A. dalam bukunya berjudul "Perang Salib Timur dan Barat, Misi Merebut Yerusalem dan Mengalahkan Pasukan Islam di Eropa" menyebut merebut Yerusalem bagi Pasukan Salib bukan hanya masalah kejayaan dan agama, namun juga karena adanya faktor ekonomi di dalamnya.
Penaklukan Yerusalem adalah langkah awal menaklukkan Damaskus. Bukan sesuatu yang mustahil kota-kota penting di Timur Tengah seperti Bagdad, Alexandria, dan Kairo akan dikuasai pasukan Salib.
Baca juga: Makna Khusus Perang Salib: Pasukan Salib Tidak Murni Kerajaan Katolik
Eropa sangat membutuhkan barang-barang dari Timur Tengah seperti rempah-rempah, minyak wangi, dan produk pertanian seperti gandum.
"Ketika Turki Seljuk dan Dinasti Fatimiyah berkuasa di Timur Tengah, barang-barang perdagangan dari dan menuju Eropa sebenarnya tidak terganggu, tetapi Eropa mengharapkan sesuatu yang lebih ketika Kristen mempunyai kekuasaan wilayah di Timur Tengah dengan Kerajaan Surga-nya.
Komoditas perdagangan pada waktu itu dapat masuk ke Eropa umumnya melalui jalur laut. Laut yang dilalui adalah Laut Mediterania .
Jalur perdagangan laut pada waktu itu, Eropa mengandalkan kota-kota seperti Venesia, Bari, dan Palermo untuk menjadi pelabuhan bagi kapal-kapal yang berlayar dari Alexandria, Acre, dan Antiokhia.
Jalur darat yang umum hanya dua, yaitu Anatolia ke Konstantinopel, dan Tangier ke Tarifa atau Gibraltar. Khusus perdagangan darat keduanya pun harus melalui selat, yaitu Selat Bosporus dan Selat Gibraltar.
Komoditas perdagangan masuk ke Eropa didominasi dari Timur Tengah daripada Maroko . Oleh sebab itu menguasai Timur Tengah sama halnya menguasai dan mengamankan ekonomi bagi Eropa.
Baca juga: Perang Salib II: Bukan Hanya Perang Katolik dengan Islam
Pasca Perang Manzikert pada tahun 1071, hubungan Byzantium dengan Turki Seljuk memburuk. Hal tersebut berdampak buruk terhadap distribusi barang dagang dari Asia ke Eropa. Sebagai pemenang perang, Turki Seljuk membuat aturan khusus mengenai pajak sehingga barang dagangan tiba di Konstantinopel dengan harga yang jauh lebih mahal dari masa sebelumnya.
Hal tersebut juga berlaku ketika para pedagang dari Eropa berdagang di Alexandria, Antiokhia, dan Acre yang dikenai pajak yang cukup mahal oleh Dinasti Fathimiah. Dengan direbutnya kota-kota tersebut, otomatis komoditas barang dagang masuk ke Eropa semakin mudah dan Eropa dapat menentukan pajak harga barang dagangan sesuai kemauan atas kesepakatan beberapa kerajaan besar.
Jati Pamungkas, S.Hum, M.A. dalam bukunya berjudul "Perang Salib Timur dan Barat, Misi Merebut Yerusalem dan Mengalahkan Pasukan Islam di Eropa" menyebut merebut Yerusalem bagi Pasukan Salib bukan hanya masalah kejayaan dan agama, namun juga karena adanya faktor ekonomi di dalamnya.
Penaklukan Yerusalem adalah langkah awal menaklukkan Damaskus. Bukan sesuatu yang mustahil kota-kota penting di Timur Tengah seperti Bagdad, Alexandria, dan Kairo akan dikuasai pasukan Salib.
Baca juga: Makna Khusus Perang Salib: Pasukan Salib Tidak Murni Kerajaan Katolik
Eropa sangat membutuhkan barang-barang dari Timur Tengah seperti rempah-rempah, minyak wangi, dan produk pertanian seperti gandum.
"Ketika Turki Seljuk dan Dinasti Fatimiyah berkuasa di Timur Tengah, barang-barang perdagangan dari dan menuju Eropa sebenarnya tidak terganggu, tetapi Eropa mengharapkan sesuatu yang lebih ketika Kristen mempunyai kekuasaan wilayah di Timur Tengah dengan Kerajaan Surga-nya.
Komoditas perdagangan pada waktu itu dapat masuk ke Eropa umumnya melalui jalur laut. Laut yang dilalui adalah Laut Mediterania .
Jalur perdagangan laut pada waktu itu, Eropa mengandalkan kota-kota seperti Venesia, Bari, dan Palermo untuk menjadi pelabuhan bagi kapal-kapal yang berlayar dari Alexandria, Acre, dan Antiokhia.
Jalur darat yang umum hanya dua, yaitu Anatolia ke Konstantinopel, dan Tangier ke Tarifa atau Gibraltar. Khusus perdagangan darat keduanya pun harus melalui selat, yaitu Selat Bosporus dan Selat Gibraltar.
Komoditas perdagangan masuk ke Eropa didominasi dari Timur Tengah daripada Maroko . Oleh sebab itu menguasai Timur Tengah sama halnya menguasai dan mengamankan ekonomi bagi Eropa.
Baca juga: Perang Salib II: Bukan Hanya Perang Katolik dengan Islam
Pasca Perang Manzikert pada tahun 1071, hubungan Byzantium dengan Turki Seljuk memburuk. Hal tersebut berdampak buruk terhadap distribusi barang dagang dari Asia ke Eropa. Sebagai pemenang perang, Turki Seljuk membuat aturan khusus mengenai pajak sehingga barang dagangan tiba di Konstantinopel dengan harga yang jauh lebih mahal dari masa sebelumnya.
Hal tersebut juga berlaku ketika para pedagang dari Eropa berdagang di Alexandria, Antiokhia, dan Acre yang dikenai pajak yang cukup mahal oleh Dinasti Fathimiah. Dengan direbutnya kota-kota tersebut, otomatis komoditas barang dagang masuk ke Eropa semakin mudah dan Eropa dapat menentukan pajak harga barang dagangan sesuai kemauan atas kesepakatan beberapa kerajaan besar.
Lihat Juga :