Ruang Lingkup Tugas-Tugas Khalifah Menurut Surat Al-Hajj Ayat 40
Senin, 02 September 2024 - 15:07 WIB
loading...
Mendirikan salat merupakan gambaran dari hubungan yang baik dengan Allah, sedangkan menunaikan zakat merupakan gambaran dari keharmonisan hubungan dengan sesama manusia. Ilustrasi: SINDOnews
A
A
A
Seorang khalifah adalah siapa yang diberi kekuasaan mengelola suatu wilayah, baik besar atau kecil. Cukup banyak ayat yang menggambarkan tugas-tugas seorang khalifah. Namun, Prof Dr Quraish Shihab mengatakan, ada suatu ayat yang bersifat umum dan dianggap dapat mewakili sebagian besar ayat lain yang berbicara tentang hal di atas, yaitu:
alladzîna im makkannâhum fil-ardli aqâmush-shalâta wa âtawuz-zakâta wa amarû bil-ma‘rûfi wa nahau ‘anil-mungkar, wa lillâhi ‘âqibatul-umûr
Artinya: (Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan/kemantapan (hidup) di bumi, mereka menegakkan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan. ( QS 22 :41)
Baca juga: 5 Sifat Pemimpin Terpuji Menurut Al-Quran
Dalam bukunya berjudul " Membumikan Al-Quran , Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat" (Mizan, 1996), Quraish Shihab menjelaskan mendirikan salat merupakan gambaran dari hubungan yang baik dengan Allah, sedangkan menunaikan zakat merupakan gambaran dari keharmonisan hubungan dengan sesama manusia.
Makruf adalah suatu istilah yang berkaitan dengan segala sesuatu yang dianggap baik oleh agama, akal dan budaya, dan sebaliknya dari munkar.
Dari gabungan itu semua, seseorang yang diberi kedudukan oleh Allah untuk mengelola suatu wilayah, ia berkewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat yang hubungannya dengan Allah baik, kehidupan masyarakatnya harmonis, dan agama, akal dan budayanya terpelihara.
Tafsir as-Sa'di
Sementara itu, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di, menafsirkan ayat ini sebagai berikut:
Baca juga: Sifat-Sifat Terpuji Seorang Pemimpin Menurut Al-Quran
Kemudian, Allah menyebutkan tanda orang yang menolongNya. Dengan itu, bisa diketahui bahwa orang yang mengklaim diri menolong Allah dan menolong agama-Nya, akan tetapi tidak memenuhi kriteria sifat ini, maka ia dusta.
Allah berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi ini,” maksudnya Kami menjadikan mereka memilikinya dan menguasainya tanpa ada pihak penentang yang menentang ataupun menghadang, “niscaya mereka menegakkan salat,” pada waktu-waktunya, ketentuan-ketetuannya, rukun-rukunnya dan syarat-syaratnya, baik dalam salat Jumat maupun jamaah.
“Dan menunaikan zakat,” yang menjadi kewajiban mereka secara khusus dan kewajiban atas orang-orang yang berada di bawah tanggungannya secara umum.
اَلَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ وَاَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَلِلّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ
alladzîna im makkannâhum fil-ardli aqâmush-shalâta wa âtawuz-zakâta wa amarû bil-ma‘rûfi wa nahau ‘anil-mungkar, wa lillâhi ‘âqibatul-umûr
Artinya: (Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan/kemantapan (hidup) di bumi, mereka menegakkan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan. ( QS 22 :41)
Baca juga: 5 Sifat Pemimpin Terpuji Menurut Al-Quran
Dalam bukunya berjudul " Membumikan Al-Quran , Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat" (Mizan, 1996), Quraish Shihab menjelaskan mendirikan salat merupakan gambaran dari hubungan yang baik dengan Allah, sedangkan menunaikan zakat merupakan gambaran dari keharmonisan hubungan dengan sesama manusia.
Makruf adalah suatu istilah yang berkaitan dengan segala sesuatu yang dianggap baik oleh agama, akal dan budaya, dan sebaliknya dari munkar.
Dari gabungan itu semua, seseorang yang diberi kedudukan oleh Allah untuk mengelola suatu wilayah, ia berkewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat yang hubungannya dengan Allah baik, kehidupan masyarakatnya harmonis, dan agama, akal dan budayanya terpelihara.
Tafsir as-Sa'di
Sementara itu, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di, menafsirkan ayat ini sebagai berikut:
Baca juga: Sifat-Sifat Terpuji Seorang Pemimpin Menurut Al-Quran
Kemudian, Allah menyebutkan tanda orang yang menolongNya. Dengan itu, bisa diketahui bahwa orang yang mengklaim diri menolong Allah dan menolong agama-Nya, akan tetapi tidak memenuhi kriteria sifat ini, maka ia dusta.
Allah berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi ini,” maksudnya Kami menjadikan mereka memilikinya dan menguasainya tanpa ada pihak penentang yang menentang ataupun menghadang, “niscaya mereka menegakkan salat,” pada waktu-waktunya, ketentuan-ketetuannya, rukun-rukunnya dan syarat-syaratnya, baik dalam salat Jumat maupun jamaah.
“Dan menunaikan zakat,” yang menjadi kewajiban mereka secara khusus dan kewajiban atas orang-orang yang berada di bawah tanggungannya secara umum.
Lihat Juga :