Kenabian Muhammad Berbeda dengan Kenabian Utusan Tuhan yang Lain
Kamis, 12 September 2024 - 14:42 WIB
loading...
A
A
A
Masyarakat pada masa Isa a.s. membutuhkan bukti-bukti yang bersifat suprarasional, karena mereka belum mencapai tingkat kedewasan yang memadai. Hal ini, tulisnya, sama dengan membujuk anak kecil untuk makan, padahal jika telah dewasa, ia akan makan tanpa dibujuk.
Memang Nabi Muhammad SAW tidak mengandalkan hal-hal yang bersifat suprarasional sebagai bukti kebenaran ajarannya.
Baca juga: Ilmu Keislaman di Masa Kenabian
Bukti kebenaran kenabian dan kerasulannya adalah Al-Quran dan diri beliau sendiri yang ummi (tidak pandai membaca dan menulis). Para pakar bersepakat dengan menggunakan berbagai tolok ukur untuk mengakui beliau sebagai manusia teragung yang pernah dikenal oleh sejarah kemanusiaan
Demikianlah kesimpulan Thomas Carlyle dalam bukunya On Heroes, Hero, Worship and the Heros in History dengan menggunakan tolok ukur kepahlawanan. Demikian pula Will Durant dalam The Story of Civilization in the World dengan tolok ukur hasil karya, Marcus Dodds dalam Muhammad, Buddha, and Christ, dengan tolok ukur keberanian moral, Nazme Luke dalam Muhammad Al-Rasul wa Al-Risalah dengan tolok ukur metode pembuktian ajaran, serta Michael Hart dalam bukunya tentang seratus tokoh dunia yang paling berpengaruh dalam sejarah, dengan tolok ukur pengaruh serta sederetan pakar lainnya.
"Mustahil bagi siapa pun yang mempelajari kehidupan dan karakter Muhammad (SAW), hanya mempunyai perasaan hormat saja terhadap Nabi mulia itu. Ia akan melampauinya sehingga meyakini bahwa beliau adalah salah seorang Nabi terbesar dari sang Pencipta," demikian Annie Besant menulis dalam The Life and Teachings of Muhammad.
Baca juga: Kenabian Muhammad SAW: Allah Taala Sudah Rencanakan Jauh Sebelum Beliau Lahir
Dalam konteks ini Al-Quran surat Alam Nasyrah ayat 4 menyatakan, "Sesungguhnya Kami pasti akan meninggikan namamu."
Dalam ayat lain dinyatakan: "Wahai seluruh manusia, telah datang kepada kamu bukti yang sangat jelas dan Tuhanmu (yakni Muhammad SAW), dan Kami telah (pula) menurunkan cahaya yang terang benderang (Al-Quran)" ( QS Al-Nisa' [4] : 174).
Memang Nabi Muhammad SAW tidak mengandalkan hal-hal yang bersifat suprarasional sebagai bukti kebenaran ajarannya.
Baca juga: Ilmu Keislaman di Masa Kenabian
Bukti kebenaran kenabian dan kerasulannya adalah Al-Quran dan diri beliau sendiri yang ummi (tidak pandai membaca dan menulis). Para pakar bersepakat dengan menggunakan berbagai tolok ukur untuk mengakui beliau sebagai manusia teragung yang pernah dikenal oleh sejarah kemanusiaan
Demikianlah kesimpulan Thomas Carlyle dalam bukunya On Heroes, Hero, Worship and the Heros in History dengan menggunakan tolok ukur kepahlawanan. Demikian pula Will Durant dalam The Story of Civilization in the World dengan tolok ukur hasil karya, Marcus Dodds dalam Muhammad, Buddha, and Christ, dengan tolok ukur keberanian moral, Nazme Luke dalam Muhammad Al-Rasul wa Al-Risalah dengan tolok ukur metode pembuktian ajaran, serta Michael Hart dalam bukunya tentang seratus tokoh dunia yang paling berpengaruh dalam sejarah, dengan tolok ukur pengaruh serta sederetan pakar lainnya.
"Mustahil bagi siapa pun yang mempelajari kehidupan dan karakter Muhammad (SAW), hanya mempunyai perasaan hormat saja terhadap Nabi mulia itu. Ia akan melampauinya sehingga meyakini bahwa beliau adalah salah seorang Nabi terbesar dari sang Pencipta," demikian Annie Besant menulis dalam The Life and Teachings of Muhammad.
Baca juga: Kenabian Muhammad SAW: Allah Taala Sudah Rencanakan Jauh Sebelum Beliau Lahir
Dalam konteks ini Al-Quran surat Alam Nasyrah ayat 4 menyatakan, "Sesungguhnya Kami pasti akan meninggikan namamu."
Dalam ayat lain dinyatakan: "Wahai seluruh manusia, telah datang kepada kamu bukti yang sangat jelas dan Tuhanmu (yakni Muhammad SAW), dan Kami telah (pula) menurunkan cahaya yang terang benderang (Al-Quran)" ( QS Al-Nisa' [4] : 174).
(mhy)
Lihat Juga :