Aktivitas di Pondok Pesantren Annur 3 Murah Banyu, Malang

Selain Menimba Ilmu Agama, Santri Belajar Makna Hidup, dan Nilai-Nilai Kemanusiaan

loading...
Selain Menimba Ilmu Agama, Santri Belajar Makna Hidup, dan Nilai-Nilai Kemanusiaan
Pintu gerbang Pondok Pesantren Annur 3 Murah Banyu, Kecamatan Bululawang , Kabupaten Malang,Jawa Timur. Suasana di pesantren ini masih sangat asri dengan banyaknya pohon rindang danbangunan bernuasa tradisional Jawa. Foto/Koran SINDO/Yuswantoro
Cemburu pada samudera yang menampung segala...

Cemburu pada sang ombak, yang selalu bergerak...

SEPENGGAL lagu yang dilantunkan Iwan Fals ini mengisyaratkan makna air dalam perjalanan hidup manusia. Lagu ini menghadirkan makna mendalam tentang manusia yang harus belajar pada air samudra.

Semangat dan filosofi belajar pada air yang menghidupi, juga hadir di Pondok Pesantren (Ponpes) Annur 3 Murah Banyu.

Pesantren ini terletak di wilayah Kecamatan Bukulawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sejak berdiri pada 1984 silam, KH Achmad Qusyairi Anwar, sang pendiri pesantren, telah menyematkan kata "Murah Banyu", yang artinya dalam bahasa Indonesia " Murah Air".

"Air selalu penting dalam kehidupan manusia, karena air selalu menghidupi kehidupan," ujar Muhammad Umar Faruq, putra pertama KH Achmad Qusyairi Anwar, yang kini turut membantu mengelola pesantren tersebut.

Pria ramah yang akrab disapa Gus Umar tersebut mengungkapkan, ayahnya sengaja menyematkan nama Murah Banyu, namun hingga kini tidak banyak yang mengungkapkan makna di balik penyematan nama tersebut.

"Karena ayah saya tidak banyak menyampaikan alasannya, makanya banyak yang menafsirkan nama Murah Banyu tersebut. Dan semua penafsiran-penafsiran tersebut, dinilai oleh ayah saya baik," ujar anak pertama dari 10 bersaudara ini.

Ada yang menafsirkan, Murah Banyu itu terkait dengan sejarah pesantren yang awalnya memang sulit air. Saat itu para satri putri harus mengambil air untuk kehidupan sehari-hari di Sungai Manten, yang letaknya jauh di belakang pesantren.

Tidak ingin para santri putrinya kesulitan, akhirnya sang kiai berinisiatif membuat sumur bor. Hasilnya bisa dinikmati sampai sekarang, di mana pesantren ini kini memiliki kelimpahan air dari sumur bor tersebut.
halaman ke-1
cover top ayah
وَمَا عَلَّمۡنٰهُ الشِّعۡرَ وَمَا يَنۡۢبَغِىۡ لَهٗؕ اِنۡ هُوَ اِلَّا ذِكۡرٌ وَّقُرۡاٰنٌ مُّبِيۡنٌۙ
Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya. Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang jelas,

(QS. Yasin:69)
cover bottom ayah
preload video