alexametrics

Mengenal Lebih Dekat Mazhab Syafi'i (1)

loading...
Mengenal Lebih Dekat Mazhab Syafii (1)
Ustaz Muhammad Ajib, pengajar Rumah Fiqih Indonesia (RFI) yang juga lulusan S-2 Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta Konsentrasi Ilmu Syariah. Foto/Dok RFI
Jika ingin tau seberapa hebat dan dalamnya ilmu suatu mazhab maka kenali dan pelajarilah ilmu tentang mazhab tersebut. Berikut ini ulasan Ustaz Muhammad Ajib, pengajar Rumah Fiqih Indonesia (RFI) mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Mazhab Syafi'i. Semoga bisa memberikan wawasan yang mencerahkan mengenai madzhab Syafi'i.

Siapa Sebenarnya Imam Syafi'i?
Imam Syafi'i (wafat 204 H) adalah salah satu imam besar dari imam 4 mazhab yang ada. Beliau adalah seorang imam besar yang ahli Qur'an, ahli Hadis, ahli Ushul Fiqih, ahli Fiqih dan ahli bahasa yang terkemuka di masanya.

Imam Nawawi (wafat 676 H) mengatakan bahwa nama lengkap Imam Syafi'i adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Sa'ib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin al-Mutthalib bin Abdi Manaf bin Qushai.



Imam adz-Dzahabi (wafat 748 H) mengatakan bahwa Imam Syafi'i lahir di Gaza (Palestina) pada tahun 150 H. Imam as-Suyuti (wafat 911 H) juga mengatakan beliau lahir di Gaza tahun 150 H dan wafat tahun 204 H.

Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H) mengatakan bahwa nasab Imam Syafi'i bertemu dengan nasabnya Rasulullah SAW pada Abdi Manaf bin Qushai. Jadi ternyata Imam Syafi'i memiliki nilai yang tinggi dan keunggulan yang hebat dari segi nasab.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat 852 H) mengatakan bahwa Imam Syafi'i ketika berusia 7 tahun sudah hafal Qur'an. Bahkan tidak hanya sekadar hafal saja, beliau juga menguasai ilmu tafsirnya, ulumul Qur'an dan segala macam ilmu yang terkandung di dalam Quran. Kemudian saat berusia 10 tahun beliau sudah hafal kitab hadis tershahih di dunia setelah Quran yaitu Kitab Al-Muwatta' karya Imam Malik (wafat 279 H).

Menuntut Ilmu ke Bani Hudzail
Imam Nawawi mengatakan bahwa Imam Syafi'i awal mulanya belajar bahasa arab murni yaitu bahasa arab yang asli dengan tingkat bahasa yang sangat tinggi. Beliau belajar dengan kaum Hudzail yang sangat terkenal kefasihan bahasa arabnya hingga Imam Syafi'i dikenal sebagai al-Imam fi al-Lughah (bahasa).

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat 852 H) mengatakan bahwa Bani Hudzail adalah kabilah arab yang sangat fasih bahasa arabnya. Bahkan Imam Ibnu Katsir juga mengatakan bahwa Imam Syafi'i telah menguasai bahasa Arab yang sangat fasih dari kabilah Hudzail.

Menuntut Ilmu ke Makkah
Imam Al-Baihaqi (wafat 458 H) mengatakan bahwa pada mulanya Imam Syafi'i belajar syi'ir Arab dan menguasai kefasihan bahasa Arab dan telah hafal Qur'an dan Hadis di usia 7 tahun sampai usia 10 tahun. Baru kemudian beliau belajar ilmu fiqih di Makkah dengan seorang ulama besar yang bernama Imam Muslim bin Khalid az-Zanji (wafat 180 H).

Kemudian setelah Imam Syafi'i menguasai ilmu yang diajarkan oleh Imam Muslim bin Khalid az-Zanji (wafat 180 H) dan ulama Makkah lainnya beliau diizinkan gurunya untuk berfatwa di usia yang masih belia.

Imam Ibnu Katsir juga mengatakan bahwa Imam Muslim bin Khalid az-Zanji (wafat 180 H) pernah berkata kepada Imam Syafi'i: "Wahai anak muda, sungguh telah datang masa bagimu untuk berfatwa dalam masalah agama".

Menuntut Ilmu ke Madinah

Setelah beberapa tahun belajar di Makkah, Imam Syafii hijrah ke Madinah untuk belajar dengan seorang ulama besar ahli hadits pendiri mazhab Maliki yaitu Imam Malik bin Anas (wafat 279 H).

Imam Baihaqi mengatakan bahwa dulu Imam Syafi'i pernah berkata: "Saya telah hafal kitab hadits al-Muwatta karya Imam Malik sebelum bertemu dengannya. Ketika saya membacakan Kitab Al-Muwatta' melalui hafalanku, Imam Malik terkagum-kagum dengan hafalan haditsku".

Selama tinggal di Madinah, Imam Syafi'i telah menguasai ilmu mazhab Maliki yang dikenal dengan ahlul hadits. Hingga akhirnya dikenal di kalangan para ulama bahwa beliau termasuk Ashabu Malik (pengikut mazhab Maliki).

Menuntut Ilmu ke Iraq

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat 852 H) mengatakan bahwa setelah Imam Syafi'i belajar dan menguasai ilmu mazhab Maliki, beliau pergi ke Iraq untuk belajar dengan seorang ulama besar mazhab Hanafi yaitu Imam Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani (wafat 189 H).

Selama beberapa tahun di Iraq, Imam Syafi'i menguasai ilmu mazhab Hanafi. Dari sinilah kemudian Imam Syafi'i dikenal sebagai imam besar yang menguasai ilmu dua mazhab besar. Sebab beliau telah menguasai ilmu madzhab maliki yang terkenal dengan sebutan ahlul hadits dan menguasai ilmu mazhab Hanafi yang terkenal dengan sebutan ahlur ra'yi.

Selanjutnya beliau pergi ke Yaman untuk belajar dengan Yahya bin Husain dan diangkat sebagai mufti dan sekretaris negara. Beliau juga sempat dituduh sebagai pengikut syiah. Namun, akhirnya ditolong oleh gurunya Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani (wafat 189 H) karena memang tidak terbukti kesyi'ahan beliau. Lalu Imam Syafi'i kembali ke Iraq lagi.

Beliau juga sempat kembali ke Makkah dan telah menjadi ulama besar untuk mengajar di Makkah. Kemudian beliau mulai menyusun Kitab ushul Fiqih sampai akhirnya beliau kembali lagi ke Iraq untuk meresmikan dan mendirikan sebuah mazhab baru. Beliau juga menyusun kitab ushul fiqih yang dikenal dengan Kitab ar-Risalah dan menyusun kitab fiqih yang dikenal dengan kitab Al-Hujjah di Iraq.

Banyak ulama besar yang belajar dengan beliau di Iraq di antaranya Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H), Imam az-Za’farani (wafat 260 H), Imam al-Karabisi (wafat 248 H) dan Imam Abu Tsaur (wafat 240 H).

Hijrah ke Mesir Sampai Beliau Wafat
Pada tahun 199 H, Imam Syafi’i pindah ke Mesir dan merubah beberapa pendapatnya yang pernah beliau ucapkan di Iraq. Selama kurang lebih 4 tahun di Mesir beliau menyusun Kitab Al-Umm. Banyak ulama besar yang belajar dengan beliau di Mesir di antaranya Imam Al-Buwaiti (wafat 231 H), Imam Al-Muzani (wafat 264 H), Imam Rabi' al-Muradi (wafat 270 H), Imam Rabi al-Jaizi (wafat 256 H) dan Imam Harmalah (wafat 243 H).

Imam Nawawi (wafat 676 H) mengatakan bahwa Imam Syafii wafat pada malam Jumat di akhir bulan Rajab tahun 204 H di Mesir pada usia ke 54. Beliau dimakamkan di Mesir pada hari Jumat setelah waktu Ashar.

Sanad Keilmuan Imam Syafi'i
Imam Syafi'i memiliki sanad keilmuan yang tersambung sampai ke Rasulullah SAW. Imam Nawawi (wafat 676 H) mengatakan bahwa Imam Syafi'i memiliki guru banyak sekali. Di antara guru yang masyhur adalah Imam Malik, Imam Sufyan bin Uyainah (wafat 198 H) dan Imam Muslim bin Khalid az-Zanji (wafat 180 H).

Adapun Guru beliau yang bernama Imam Malik adalah murid dari Rabi'ah bin Abi Abdirrahman dari Anas bin Malik. Imam Malik juga murid dari Nafi' dari Ibnu Umar. Kedua sahabat ini belajar dari Rasulullah SAW.

Adapun guru beliau yang bernama Imam Sufyan bin Uyainah (wafat 198 H) adalah murid dari Amr bin Dinar dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar dari Rasulullah SAW.

Adapun guru beliau Imam Muslim bin Khalid az-Zanji (wafat 180 H) adalah murid Ibnu Juraij dari Atho' bin Abi Rabah dari Ibnu Abbas. Ibnu Abbas juga mengambil ilmu dari Umar bin al-Khattab, Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Tsabit. Semuanya dari Rasulullah SAW.Bersambung...
(rhs)
cover top ayah
وَاِنَّهٗ لَتَذۡكِرَةٌ لِّلۡمُتَّقِيۡنَ
Sesungguhnya, Al-Qur'an itu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

(QS. Al-Haqqah:48)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak