Ini Mengapa Karier Utsman bin Affan di Militer Tak Sehebat Ali bin Abi Thalib
Senin, 30 September 2024 - 14:47 WIB
loading...
Dapat saja kita mengatakan bahwa Utsman orang yang memang suka damai. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Utsman bin Affan adalah khalifah ketiga yang berkuasa pada tahun 644 sampai 656 dan merupakan Khulafaur Rasyidin dengan masa kekuasaan terlama. Sama seperti dua pendahulunya, Utsman termasuk salah satu sahabat utama Nabi Muhammad SAW . Pernikahannya berturut-turut dengan dua putri Muhammad dan Khadijah membuatnya mendapat julukan Dzun Nurrain (pemilik dua cahaya).
Karir militer Utsman nyaris tak terdengar dalam kehidupannya. Padahal, sebagaimana para sahabat Nabi lainnya, Utsman juga ikut dalam berbagai pertempuran.
Muhammad Husain Haikal dalam buku yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Usman bin Affan, Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menyebut perang yang pernah diikuti Utsman antara lain Perang Uhud , perang Khandaq , perang Khaibar dan dalam pembebasan Makkah .
"Dia juga ikut dalam ekspedisi Hunain, Ta'if dan Tabuk," ujar Haekal.
Baca juga: Kisah Kekalahan Ali bin Abi Thalib dari Utsman bin Affan dalam Pemilihan Khalifah
Dalam semua tugasnya itu ia tidak berbeda dengan Muslimin yang lain, tidak harus di depan atau di belakang. Dia memang bukan pahlawan perang seperti Hamzah bin Abdul-Muttalib , Ali bin Abi Thalib , Zubair bin Awwam , Sa'ad bin Abi Waqqas dan Khalid bin Walid yang telah dapat menggerakkan semangat perang dalam hati mereka dan mendorong mereka terjun ke dalam barisan di medan laga menghadapi maut tanpa ada rasa gentar.
"Malah orang yang berhati cabar pun akan berangkat di waktu perang, yang dalam barisan demikian ia bukan berada di depan, juga bukan di belakang," kata Haekal.
Menurut Haekal, dapat saja kita mengatakan bahwa Utsman orang yang memang suka damai sedapat mungkin. Tetapi imannya itu yang mendorongnya berangkat bersama Rasulullah dalam berbagai peperangan: Hal ini dibuktikan oleh sikapnya terhadap Quraisy dalam kejadian di Hudaibiyah.
Perjanjian Hudaibiyah
Dalam tahun ke-6, Rasulullah berangkat memimpin 300 orang Muslimin dengan tujuan melakukan Umrah di Makkah dengan cara damai tanpa bermaksud menyerang.
Baca juga: Keluhan Khalifah Utsman bin Affan dan Kritik Pedas Ali bin Abu Thalib
Mengetahui perjalanan mereka ini Quraisy bersumpah, bahwa Muhammad dan sahabat-sahabatnya tidak boleh memasuki Makkah dengan paksa. Rasulullah melihat pasukan berkuda Makkah sudah tampak di luar kota itu. Ia dan sahabat-sahabatnya turun dari kudanya di Hudaibiyah hendak secara damai berziarah ke Baitullah dan mengagungkan kesuciannya.
Rasulullah hendak mengutus Umar bin Khattab sebagai delegasi kepada Quraisy. Tetapi Umar keberatan mengingat Quraisy sudah tahu betapa kerasnya permusuhan dan ketegasannya kepada mereka. Dia khawatir mereka akan melakukan sesuatu terhadap dirinya. Maka ia mengusulkan supaya Utsman bin Affan yang bertindak sebagai utusan. Di Makkah Utsman lebih disukai daripada Umar.
Karir militer Utsman nyaris tak terdengar dalam kehidupannya. Padahal, sebagaimana para sahabat Nabi lainnya, Utsman juga ikut dalam berbagai pertempuran.
Muhammad Husain Haikal dalam buku yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Usman bin Affan, Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menyebut perang yang pernah diikuti Utsman antara lain Perang Uhud , perang Khandaq , perang Khaibar dan dalam pembebasan Makkah .
"Dia juga ikut dalam ekspedisi Hunain, Ta'if dan Tabuk," ujar Haekal.
Baca juga: Kisah Kekalahan Ali bin Abi Thalib dari Utsman bin Affan dalam Pemilihan Khalifah
Dalam semua tugasnya itu ia tidak berbeda dengan Muslimin yang lain, tidak harus di depan atau di belakang. Dia memang bukan pahlawan perang seperti Hamzah bin Abdul-Muttalib , Ali bin Abi Thalib , Zubair bin Awwam , Sa'ad bin Abi Waqqas dan Khalid bin Walid yang telah dapat menggerakkan semangat perang dalam hati mereka dan mendorong mereka terjun ke dalam barisan di medan laga menghadapi maut tanpa ada rasa gentar.
"Malah orang yang berhati cabar pun akan berangkat di waktu perang, yang dalam barisan demikian ia bukan berada di depan, juga bukan di belakang," kata Haekal.
Menurut Haekal, dapat saja kita mengatakan bahwa Utsman orang yang memang suka damai sedapat mungkin. Tetapi imannya itu yang mendorongnya berangkat bersama Rasulullah dalam berbagai peperangan: Hal ini dibuktikan oleh sikapnya terhadap Quraisy dalam kejadian di Hudaibiyah.
Perjanjian Hudaibiyah
Dalam tahun ke-6, Rasulullah berangkat memimpin 300 orang Muslimin dengan tujuan melakukan Umrah di Makkah dengan cara damai tanpa bermaksud menyerang.
Baca juga: Keluhan Khalifah Utsman bin Affan dan Kritik Pedas Ali bin Abu Thalib
Mengetahui perjalanan mereka ini Quraisy bersumpah, bahwa Muhammad dan sahabat-sahabatnya tidak boleh memasuki Makkah dengan paksa. Rasulullah melihat pasukan berkuda Makkah sudah tampak di luar kota itu. Ia dan sahabat-sahabatnya turun dari kudanya di Hudaibiyah hendak secara damai berziarah ke Baitullah dan mengagungkan kesuciannya.
Rasulullah hendak mengutus Umar bin Khattab sebagai delegasi kepada Quraisy. Tetapi Umar keberatan mengingat Quraisy sudah tahu betapa kerasnya permusuhan dan ketegasannya kepada mereka. Dia khawatir mereka akan melakukan sesuatu terhadap dirinya. Maka ia mengusulkan supaya Utsman bin Affan yang bertindak sebagai utusan. Di Makkah Utsman lebih disukai daripada Umar.
Lihat Juga :