Khalid bin Walid dan Terbunuhnya Nabi Palsu Musailamah di Kebun Maut
Jum'at, 28 Agustus 2020 - 13:40 WIB
loading...
A
A
A
Pasukan Muslimin menyerbu kebun itu dan langsung menyerang musuh. Pedang-pedang Banu Hanifah itu justru terhambat oleh pepohonan di sekitar mereka. Sungguhpun begitu tidak mengurangi sengitnya pertempuran. Korban tidak sedikit di kedua belah pihak, meskipun di pihak Banu Hanifah dua kali lebih banyak. (Baca juga: Cinta Bersemi Dua Sejoli Nabi Palsu di Yamamah )
Tombak Wahsyi
Setelah perang Uhud dulu Wahsyi sudah masuk Islam. Orang asal Abisinia inilah yang dulu membunuh Hamzah, bapak syuhada dalam perang Uhud itu. Dalam perang Yamamah ini ia juga ikut serta. Tatkala dilihatnya Musailamah di kebun itu, diayunkannya tombaknya, dan bila sudah terasa pas, dibidikkannya kepada Musailamah. Bidikannya itu tidak meleset. Bersamaan dengan itu ada orang Ansar yang juga ikut menghantam Musailamah dengan pedangnya. Karena itulah Wahsyi berkata: "Hanya Allah yang tahu siapa di antara kita yang telah membunuhnya."
Baca juga: Klaim Gerakan Moral, KAMI Inkonsisten Jika Berubah Jadi Parpol
Ketika itu ada seseorang berteriak: "Yang membunuhnya seorang budak hitam." Semangat Banu Hanifah reda setelah mendengar teriakan bahwa Musailamah sudah terbunuh. Mereka menyerah tanpa mengadakan perlawanan lagi. Muslimin terus menghantam mereka.
Pada masa itu tanah Arab belum pernah mengalami pertumpahan darah sehebat pertempuran di Yamamah itu. Itu sebabnya "Kebun Rahman" ini kemudian diberi nama "Kebun Maut." Dan nama inilah yang terus dipakai dalam buku-buku sejarah.
Selesai pertempuran, atas permintaan Khalid bin Walid , Mujja'ah dibawa dari kemahnya. Dimintanya ia menunjukkan mayat Musailamah. Sementara sedang memeriksa mayat-mayat itu, mereka melalui mayat Muhakkam — Muhakkam ini berwajah tampan. Setelah Khalid melihatnya ia bertanya kepada Mujja'ah: “Dia ini kawanmu itu?”
"Bukan," jawab Mujja'ah. "Orang ini lebih baik dan lebih terhormat dari dia. Ini Muhakkam."
Baca juga: Data Valid Subsidi Gaji Rp2,4 Juta Baru 10,8 Juta Pekerja
Mujja'ah dan Khalid memasuki Kebun Maut itu. Mereka lalu di depan mayat Ruwaijil Usaifir Ukhainas itu. "Inilah orangnya. Kalian sekarang sudah bebas dari dia," kata Mujja'ah. "Orang inilah yang telah berbuat sekehendak hatinya terhadap kalian," sambung Khalid.
Malapetaka yang ditimbulkan Musailamah itu kini sudah berakhir dan sudah dicerabut dari akarnya. Angkatan bersenjatanya pun telah dikikis habis.
Tombak Wahsyi
Setelah perang Uhud dulu Wahsyi sudah masuk Islam. Orang asal Abisinia inilah yang dulu membunuh Hamzah, bapak syuhada dalam perang Uhud itu. Dalam perang Yamamah ini ia juga ikut serta. Tatkala dilihatnya Musailamah di kebun itu, diayunkannya tombaknya, dan bila sudah terasa pas, dibidikkannya kepada Musailamah. Bidikannya itu tidak meleset. Bersamaan dengan itu ada orang Ansar yang juga ikut menghantam Musailamah dengan pedangnya. Karena itulah Wahsyi berkata: "Hanya Allah yang tahu siapa di antara kita yang telah membunuhnya."
Baca juga: Klaim Gerakan Moral, KAMI Inkonsisten Jika Berubah Jadi Parpol
Ketika itu ada seseorang berteriak: "Yang membunuhnya seorang budak hitam." Semangat Banu Hanifah reda setelah mendengar teriakan bahwa Musailamah sudah terbunuh. Mereka menyerah tanpa mengadakan perlawanan lagi. Muslimin terus menghantam mereka.
Pada masa itu tanah Arab belum pernah mengalami pertumpahan darah sehebat pertempuran di Yamamah itu. Itu sebabnya "Kebun Rahman" ini kemudian diberi nama "Kebun Maut." Dan nama inilah yang terus dipakai dalam buku-buku sejarah.
Selesai pertempuran, atas permintaan Khalid bin Walid , Mujja'ah dibawa dari kemahnya. Dimintanya ia menunjukkan mayat Musailamah. Sementara sedang memeriksa mayat-mayat itu, mereka melalui mayat Muhakkam — Muhakkam ini berwajah tampan. Setelah Khalid melihatnya ia bertanya kepada Mujja'ah: “Dia ini kawanmu itu?”
"Bukan," jawab Mujja'ah. "Orang ini lebih baik dan lebih terhormat dari dia. Ini Muhakkam."
Baca juga: Data Valid Subsidi Gaji Rp2,4 Juta Baru 10,8 Juta Pekerja
Mujja'ah dan Khalid memasuki Kebun Maut itu. Mereka lalu di depan mayat Ruwaijil Usaifir Ukhainas itu. "Inilah orangnya. Kalian sekarang sudah bebas dari dia," kata Mujja'ah. "Orang inilah yang telah berbuat sekehendak hatinya terhadap kalian," sambung Khalid.
Malapetaka yang ditimbulkan Musailamah itu kini sudah berakhir dan sudah dicerabut dari akarnya. Angkatan bersenjatanya pun telah dikikis habis.
(mhy)
Lihat Juga :