Kisah Utsman bin Affan Mengadili Ubaidillah Putra Umar bin Khattab
Selasa, 08 Oktober 2024 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Utsman bin Affan Melindungi Keluarganya yang Murtad
At-Tabari mengutip sebuah sumber dari Syua'ib dan dari Saif dan Abu Mansur yang mengatakan: "Saya mendengar Kumazian bercerita tentang ayahnya - Hormuzan - yang terbunuh, dengan mengatakan: Orang-orang Persia di Madinah saat itu sedang rihat. Ketika itulah Fairuz singgah kepada ayah dengan membawa sebilah khanjar berkepala dua, dan diterima oleh ayah yang lalu menanyakan: "Akan Anda gunakan untuk di kota ini?"
"Untuk koleksi," jawabnya, dan ada orang yang melihatnya. Sesudah musibah menimpa Umar ia berkata, "saya melihat khanjar itu di tangan Hormuzan yang kemudian diberikan kepada Fairuz. Lalu Ubaidillah datang dan ia dibunuhnya."
Sesudah Utsman berkuasa ia memanggil saya dan ia memberi hak kepada saya terhadap dia -yakni Ubaidillah bin Umar- dengan mengatakan: "Anakku, orang itu pembunuh ayahmu dan Anda lebih berhak daripada kami, maka bunuhlah dia. Setelah itu saya ajak dia keluar. Ketika itu tak ada siapa pun selain kami berdua. Mereka meminta saya yang bertindak. Sayakah yang akan membunuhnya? Mereka menjawab: Ya. Lalu mereka memaki Ubaidillah. Kata saya: Adakah kalian akan mencegahnya? Mereka menjawab: Tidak, dan mereka memakinya. Saya serahkan kepada Allah dan kepada mereka. Mereka membawa saya, begitu saya sampai di rumah saya berhadapan dengan orang-orang terkemuka."
Demikian sumber at-Tabari. Pengampunan atas Ubaidillah itu atas usaha Kumazian, anak Hormuzan. Pendapat ini bertentangan dengan pendapat lain yang sudah umum.
Baca juga: Mimpi Bertemu Nabi dan Kronologi Terbunuhnya Utsman bin Affan
Menurut Haekal, kebanyakan para narasumber menyebutkan bahwa sesudah pelantikan Utsman di samping Masjid, Ubaidillah dibawa dari penjara untuk diadili.
Sesudah tampil di depannya, Utsman berkata kepada orang-orang yang hadir itu: "Berikanlah pendapat kalian mengenai orang yang telah melakukan pembunuhan dalam Islam ini!"
Dalam hal ini Ali bin Abi Thalib berkata: "Tidak adil membiarkan dia, dan saya berpendapat dia juga harus dibunuh."
Tetapi salah seorang dari yang hadir menentang pendapat Ali dengan mengatakan: "Umar baru kemarin terbunuh, sekarang anaknya akan dibunuh pula!"
At-Tabari mengutip sebuah sumber dari Syua'ib dan dari Saif dan Abu Mansur yang mengatakan: "Saya mendengar Kumazian bercerita tentang ayahnya - Hormuzan - yang terbunuh, dengan mengatakan: Orang-orang Persia di Madinah saat itu sedang rihat. Ketika itulah Fairuz singgah kepada ayah dengan membawa sebilah khanjar berkepala dua, dan diterima oleh ayah yang lalu menanyakan: "Akan Anda gunakan untuk di kota ini?"
"Untuk koleksi," jawabnya, dan ada orang yang melihatnya. Sesudah musibah menimpa Umar ia berkata, "saya melihat khanjar itu di tangan Hormuzan yang kemudian diberikan kepada Fairuz. Lalu Ubaidillah datang dan ia dibunuhnya."
Sesudah Utsman berkuasa ia memanggil saya dan ia memberi hak kepada saya terhadap dia -yakni Ubaidillah bin Umar- dengan mengatakan: "Anakku, orang itu pembunuh ayahmu dan Anda lebih berhak daripada kami, maka bunuhlah dia. Setelah itu saya ajak dia keluar. Ketika itu tak ada siapa pun selain kami berdua. Mereka meminta saya yang bertindak. Sayakah yang akan membunuhnya? Mereka menjawab: Ya. Lalu mereka memaki Ubaidillah. Kata saya: Adakah kalian akan mencegahnya? Mereka menjawab: Tidak, dan mereka memakinya. Saya serahkan kepada Allah dan kepada mereka. Mereka membawa saya, begitu saya sampai di rumah saya berhadapan dengan orang-orang terkemuka."
Demikian sumber at-Tabari. Pengampunan atas Ubaidillah itu atas usaha Kumazian, anak Hormuzan. Pendapat ini bertentangan dengan pendapat lain yang sudah umum.
Baca juga: Mimpi Bertemu Nabi dan Kronologi Terbunuhnya Utsman bin Affan
Menurut Haekal, kebanyakan para narasumber menyebutkan bahwa sesudah pelantikan Utsman di samping Masjid, Ubaidillah dibawa dari penjara untuk diadili.
Sesudah tampil di depannya, Utsman berkata kepada orang-orang yang hadir itu: "Berikanlah pendapat kalian mengenai orang yang telah melakukan pembunuhan dalam Islam ini!"
Dalam hal ini Ali bin Abi Thalib berkata: "Tidak adil membiarkan dia, dan saya berpendapat dia juga harus dibunuh."
Tetapi salah seorang dari yang hadir menentang pendapat Ali dengan mengatakan: "Umar baru kemarin terbunuh, sekarang anaknya akan dibunuh pula!"
Lihat Juga :