Syahidnya Yahya Sinwar: Ingat 3 Sahabat Nabi, Bertempur Habis-habisan sampai Napas Terakhir
Senin, 21 Oktober 2024 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Ini Mengapa Byzantium dan Persia Takluk dengan Kekhalifahan Islam
Rasa bangga dari penyair pemberani ini segera pula menular kepada anggota-anggota tentara yang lain. Mereka berkata: "Ibnu Rawahah memang benar!"
Mereka lalu maju terus. Ketika sudah sampai di perbatasan Balqa', di sebuah desa bernama Masyarif, mereka bertemu dengan pasukan Heraklius, yang terdiri dari orang-orang Romawi dan Arab. Bilamana posisi musuh sudah dekat pihak Muslimin segera mengelak ke Mu'ta, yang dilihatnya sebagai kubu pertahanan akan lebih baik daripada Masyarif.
Di Mu'tah inilah pertempuran sengit antara 200.000 tentara Heraklius dengan 3.000 tentara Muslimin mulai berkobar.
Alangkah agungnya iman, alangkah kuatnya! Bendera Nabi dibawa oleh Zaid bin Harithah dan dia terus maju ke tengah-tengah musuh. Ia yakin bahwa kematiannya itu takkan dapat dielakkan. Tetapi mati di sini berarti syahid di jalan Allah. Selain kemenangan, hanya ada satu pilihan, yaitu mati syahid. Dan di sinilah Zaid bertempur mati-matian sehingga akhirnya hancur luluh ia oleh tombak musuh.
Saat itu juga benderanya disambut oleh Ja'far bin Abi Thalib dari tangannya. Ketika itu usianya baru 33 tahun, sebagai pemuda yang berwajah tampan dan berani, Ja'far terus bertempur dengan membawa bendera itu.
Bilamana kudanya oleh musuh dikepung, diterobosnya kuda itu dan ditetaknya, dan dia sendiri terjun ke tengah-tengah musuh, menyerbu dengan mengayunkan pedangnya ke leher siapa saja yang kena.
Bendera waktu itu dipegang di tangan kanan Ja'far; ketika tangan ini terputus, dipegangnya dengan tangan kirinya; dan bila tangan kiri ini pun terputus, dipeluknya bendera itu dengan kedua pangkal lengannya sampai ia syahid. Konon, yang menghantamnya orang dari Romawi dengan sekaligus hingga ia terbelah dua.
Baca juga: Catatan Emas Jihad Laut Daulah Thuluniyah Bendung Serangan Byzantium
Setelah Ja'far syahid bendera diambil oleh Abdullah bin Rawahah. Dia maju dengan kudanya membawa bendera itu. Sementara itu terpikir olehnya akan turun saja. Ia masih agak ragu-ragu. Kemudian katanya:
O diriku, bersumpah aku
Akan turun engkau, akan turun
Atau masih terpaksa juga
Jika orang sudah berperang
dan genderang sudah berkumandang
Kenapa kulihat kau masih membenci surga?
Kemudian diambilnya pedangnya dan dia maju terus bertempur sampai akhirnya dia pun syahid juga.
Mereka itulah Zaid, Ja'far dan Ibn Rawahah. Mereka bertiga telah mati syahid di jalan Allah, dalam satu peristiwa. Tetapi setelah berita ini diketahui oleh Nabi, beliau sangat terharu, terutama terhadap Zaid dan Ja'far.
Lalu katanya: "Mereka telah diangkat kepadaku di surga - seperti mimpi orang yang sedang tidur - di atas ranjang emas. Lalu saya lihat ranjang Abdullah bin Rawahah agak miring daripada ranjang kedua temannya itu." Lalu ditanya: "Kenapa begitu?" Dijawabnya: "Yang dua orang terus maju, tapi Abdullah agak ragu-ragu. Kemudian terus maju juga."
Ibnu Rawahah syahid setelah sebentar ragu-ragu lalu tampil lagi dengan keberanian yang luar biasa. (*)
Baca juga: Kisah Politik Islam yang Terpecah saat Byzantium Mempersatukan Eropa
Rasa bangga dari penyair pemberani ini segera pula menular kepada anggota-anggota tentara yang lain. Mereka berkata: "Ibnu Rawahah memang benar!"
Mereka lalu maju terus. Ketika sudah sampai di perbatasan Balqa', di sebuah desa bernama Masyarif, mereka bertemu dengan pasukan Heraklius, yang terdiri dari orang-orang Romawi dan Arab. Bilamana posisi musuh sudah dekat pihak Muslimin segera mengelak ke Mu'ta, yang dilihatnya sebagai kubu pertahanan akan lebih baik daripada Masyarif.
Di Mu'tah inilah pertempuran sengit antara 200.000 tentara Heraklius dengan 3.000 tentara Muslimin mulai berkobar.
Alangkah agungnya iman, alangkah kuatnya! Bendera Nabi dibawa oleh Zaid bin Harithah dan dia terus maju ke tengah-tengah musuh. Ia yakin bahwa kematiannya itu takkan dapat dielakkan. Tetapi mati di sini berarti syahid di jalan Allah. Selain kemenangan, hanya ada satu pilihan, yaitu mati syahid. Dan di sinilah Zaid bertempur mati-matian sehingga akhirnya hancur luluh ia oleh tombak musuh.
Saat itu juga benderanya disambut oleh Ja'far bin Abi Thalib dari tangannya. Ketika itu usianya baru 33 tahun, sebagai pemuda yang berwajah tampan dan berani, Ja'far terus bertempur dengan membawa bendera itu.
Bilamana kudanya oleh musuh dikepung, diterobosnya kuda itu dan ditetaknya, dan dia sendiri terjun ke tengah-tengah musuh, menyerbu dengan mengayunkan pedangnya ke leher siapa saja yang kena.
Bendera waktu itu dipegang di tangan kanan Ja'far; ketika tangan ini terputus, dipegangnya dengan tangan kirinya; dan bila tangan kiri ini pun terputus, dipeluknya bendera itu dengan kedua pangkal lengannya sampai ia syahid. Konon, yang menghantamnya orang dari Romawi dengan sekaligus hingga ia terbelah dua.
Baca juga: Catatan Emas Jihad Laut Daulah Thuluniyah Bendung Serangan Byzantium
Setelah Ja'far syahid bendera diambil oleh Abdullah bin Rawahah. Dia maju dengan kudanya membawa bendera itu. Sementara itu terpikir olehnya akan turun saja. Ia masih agak ragu-ragu. Kemudian katanya:
O diriku, bersumpah aku
Akan turun engkau, akan turun
Atau masih terpaksa juga
Jika orang sudah berperang
dan genderang sudah berkumandang
Kenapa kulihat kau masih membenci surga?
Kemudian diambilnya pedangnya dan dia maju terus bertempur sampai akhirnya dia pun syahid juga.
Mereka itulah Zaid, Ja'far dan Ibn Rawahah. Mereka bertiga telah mati syahid di jalan Allah, dalam satu peristiwa. Tetapi setelah berita ini diketahui oleh Nabi, beliau sangat terharu, terutama terhadap Zaid dan Ja'far.
Lalu katanya: "Mereka telah diangkat kepadaku di surga - seperti mimpi orang yang sedang tidur - di atas ranjang emas. Lalu saya lihat ranjang Abdullah bin Rawahah agak miring daripada ranjang kedua temannya itu." Lalu ditanya: "Kenapa begitu?" Dijawabnya: "Yang dua orang terus maju, tapi Abdullah agak ragu-ragu. Kemudian terus maju juga."
Ibnu Rawahah syahid setelah sebentar ragu-ragu lalu tampil lagi dengan keberanian yang luar biasa. (*)
Baca juga: Kisah Politik Islam yang Terpecah saat Byzantium Mempersatukan Eropa
(mhy)
Lihat Juga :