Benarkah Surga Adam Berada di Bumi dan Tidak Abadi?
Sabtu, 09 November 2024 - 18:08 WIB
loading...
A
A
A
Nabi Adam juga tidur di sana dan dikeluarkan dari sana, bahkan iblis pun masuk ke dalamnya. Ini semua menunjukkan bahwa surga yang dimaksud bukanlah surga keabadian (Surga Ma'wa).
Menurut Ibnu Katsir, penafsiran ini disampaikan oleh Ubay bin Ka'ab, Abdullah bin Abbas, Wahab bin Munabbih, Sufyan bin Uyainah, dan diunggulkan oleh Ibnu Qutaibah dalam Kitabnya “Al-Maarif”, juga oleh Al-Qadhi Mundzir bin Said Al-Baluthi dalam kitab tafsirnya, bahkan dibahas secara terpisah.
Penafsiran ini juga menjadi pendapat dari Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya.
Abu Abdillah Muhammad bin Umar Ar-Razi bin Khatib Ar-Ray juga menukilkan penafsiran ini dalam kitab tafsirnya dari Abul Qasim Al-Balkhi dan Abu Muslim Al-Asfahani, dan dinukilkan pula oleh Qurthubi dalam kitab tafsirnya dari kelompok Mu'tazilah dan Qadariyah.
Pendapat ini juga secara tegas dituliskan dalam Kitab Taurat yang ada di tangan Ahli Kitab sekarang ini.
Baca juga: Gambaran Ulama Tentang Kenikmatan Surga
Perbedaan pendapat mengenai permasalahan ini dituliskan secara lengkap oleh Abu Muhammad bin Hazm dalam kitabnya “al-Milal wa AnNihal”, juga oleh Abu Muhammad bin Athiyah dalam kitab tafsirnya, juga oleh Abu Isa Ar-Rummani dalam kitab tafsirnya, serta oleh Abul Qasim Ar-Ragib dan Al-Gadhi Al-Mawardi dalam kitab tafsirnya.
Al-Mawardi mengatakan, “Ada dua pendapat berbeda dari para ulama mengenai surga yang ditempati oleh Nabi Adam dan Hawa.
Pertama, menyatakan bahwa itu adalah surga keabadian, sedangkan yang kedua menyatakan bahwa itu adalah surga yang diperuntukkan bagi keduanya sebagai tempat ujian, bukan surga keabadian yang telah dikhususkan oleh Allah sebagai tempat ganjaran.
Para ulama yang berpendapat kedua juga terbagi lagi menjadi dua pendapat yang berbeda, yang pertama menyatakan bahwa surga yang diperuntukkan bagi Adam dan Hawa terletak di atas langit, sebab ketika mereka dikeluarkan dari sana mereka diperintahkan untuk “turun”.
Pendapat ini disampaikan oleh Hasan. Sedangkan yang kedua menyatakan bahwa surga itu ada di muka bumi, sebab mereka berdua masih diberi taklif (pembebanan) untuk tidak mendekati pohon terlarang. Dan pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Jubair. Ia menambahkan, mereka menempatinya setelah iblis menolak untuk bersujud kepada Adam.” Wallahu a'lam bishshawab.
Menurut Ibnu Katsir, itulah yang disampaikan oleh Al-Mawardi. "Dan dari apa yang ia ungkapkan, ia menyebutkan ada tiga pendapat dari para ulama, dan dari perkataannya terasa bahwa ia tidak memiliki pendapat sendiri tentang hal itu," ujarnya.
Oleh karena itu, Abu Abdillah Ar-Razi dalam kitab tafsirnya menyebutkan ada empat kelompok ulama terkait perbedaan pendapat dalam masalah ini, tiga di antaranya sama seperti yang diuraikan oleh Al-Mawardi, dan yang keempat adalah para ulama yang tidak mengungkapkan pendapatnya. Lalu Abu Abdillah memilih pendapat pertama yang diunggulkannya. Wallahu a'lam.
Pendapat yang menyatakan bahwa surga tersebut bukanlah Surga Ma'wa meski terletak di atas langit, ini diriwayatkan dari Abu Ali Al-Jubba'i.
Menurut Ibnu Katsir, penafsiran ini disampaikan oleh Ubay bin Ka'ab, Abdullah bin Abbas, Wahab bin Munabbih, Sufyan bin Uyainah, dan diunggulkan oleh Ibnu Qutaibah dalam Kitabnya “Al-Maarif”, juga oleh Al-Qadhi Mundzir bin Said Al-Baluthi dalam kitab tafsirnya, bahkan dibahas secara terpisah.
Penafsiran ini juga menjadi pendapat dari Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya.
Abu Abdillah Muhammad bin Umar Ar-Razi bin Khatib Ar-Ray juga menukilkan penafsiran ini dalam kitab tafsirnya dari Abul Qasim Al-Balkhi dan Abu Muslim Al-Asfahani, dan dinukilkan pula oleh Qurthubi dalam kitab tafsirnya dari kelompok Mu'tazilah dan Qadariyah.
Pendapat ini juga secara tegas dituliskan dalam Kitab Taurat yang ada di tangan Ahli Kitab sekarang ini.
Baca juga: Gambaran Ulama Tentang Kenikmatan Surga
Perbedaan pendapat mengenai permasalahan ini dituliskan secara lengkap oleh Abu Muhammad bin Hazm dalam kitabnya “al-Milal wa AnNihal”, juga oleh Abu Muhammad bin Athiyah dalam kitab tafsirnya, juga oleh Abu Isa Ar-Rummani dalam kitab tafsirnya, serta oleh Abul Qasim Ar-Ragib dan Al-Gadhi Al-Mawardi dalam kitab tafsirnya.
Al-Mawardi mengatakan, “Ada dua pendapat berbeda dari para ulama mengenai surga yang ditempati oleh Nabi Adam dan Hawa.
Pertama, menyatakan bahwa itu adalah surga keabadian, sedangkan yang kedua menyatakan bahwa itu adalah surga yang diperuntukkan bagi keduanya sebagai tempat ujian, bukan surga keabadian yang telah dikhususkan oleh Allah sebagai tempat ganjaran.
Para ulama yang berpendapat kedua juga terbagi lagi menjadi dua pendapat yang berbeda, yang pertama menyatakan bahwa surga yang diperuntukkan bagi Adam dan Hawa terletak di atas langit, sebab ketika mereka dikeluarkan dari sana mereka diperintahkan untuk “turun”.
Pendapat ini disampaikan oleh Hasan. Sedangkan yang kedua menyatakan bahwa surga itu ada di muka bumi, sebab mereka berdua masih diberi taklif (pembebanan) untuk tidak mendekati pohon terlarang. Dan pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Jubair. Ia menambahkan, mereka menempatinya setelah iblis menolak untuk bersujud kepada Adam.” Wallahu a'lam bishshawab.
Menurut Ibnu Katsir, itulah yang disampaikan oleh Al-Mawardi. "Dan dari apa yang ia ungkapkan, ia menyebutkan ada tiga pendapat dari para ulama, dan dari perkataannya terasa bahwa ia tidak memiliki pendapat sendiri tentang hal itu," ujarnya.
Oleh karena itu, Abu Abdillah Ar-Razi dalam kitab tafsirnya menyebutkan ada empat kelompok ulama terkait perbedaan pendapat dalam masalah ini, tiga di antaranya sama seperti yang diuraikan oleh Al-Mawardi, dan yang keempat adalah para ulama yang tidak mengungkapkan pendapatnya. Lalu Abu Abdillah memilih pendapat pertama yang diunggulkannya. Wallahu a'lam.
Pendapat yang menyatakan bahwa surga tersebut bukanlah Surga Ma'wa meski terletak di atas langit, ini diriwayatkan dari Abu Ali Al-Jubba'i.
(mhy)
Lihat Juga :