Benarkah Surga Adam Berada di Bumi dan Tidak Abadi?

Sabtu, 09 November 2024 - 18:08 WIB
loading...
Benarkah Surga Adam...
Jumhur ulama berpendapat bahwa surga yang ditinggali oleh Nabi Adam adalah surga yang ada di langit, yaitu Surga Mawa, surga keabadian. Ilustrasi: Ist
A A A
JUMHUR ulama berpendapat bahwa surga yang ditinggali oleh Nabi Adam adalah surga yang ada di langit, yaitu Surga Ma'wa, surga keabadian. Maknanya, di surga itu pula iblis tinggal. Namun begitu, ada ulama yang berpendapat bahwa surga Adam itu berada di bumi dan tidak abadi.

"Ulama itu mengatakan, bahwa surga yang ditinggali oleh Adam as ketika itu bukanlah surga keabadian, karena di sana ia masih mendapat pelarangan, yaitu untuk tidak mendekati pohon terlarang," tulis Ibnu Katsir dalam bukunya berjudul "Qashash Al-Anbiyaa" atau Kisah Para Nabi.

Menurut Ibnu Katsir, banyak sekali pertanyaan yang harus dijawab oleh para ulama dari kelompok pendapat yang kedua untuk membuktikan kebenaran penafsiran mereka, di antaranya: "Tidak dapat disangkal bahwa Allah mengusir iblis dari hadapan-Nya ketika iblis menolak perintah-Nya untuk bersujud kepada Adam."

Baca juga: Masuk Surga Sambil Tertawa

Lalu iblis diperintahkan untuk keluar dari surga dan turun ke bumi. Namun perintah ini bukanlah perintah syar'i, karena perintah syar'i itu dapat (bisa jadi) dilanggar, tapi perintah Allah kepada iblis itu merupakan perintah takdir yang tidak mungkin dilanggar ataupun diacuhkan.

Oleh karenanya dalam surat Al-A'raf disebutkan, “Keluarlah kamu dari sana (surga) dalam keadaan terhina dan terusir!” ( QS Al-A'raf : 18).

Disebutkan pula, “Maka turunlah kamu darinya (surga): karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya.” ( QS Al-A'raf : 13).

Dikatakan pula, “(Kalau begitu) keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk.” ( QS Al-Hijr : 34).

Ibnu Katsir menjelaskan dhamir (haa) pada kata “minhaa” bisa kembali pada kata “jannah” (surga), atau “samaa” (langit) atau “manzilah” (kedudukan).

"Tapi pada kata apapun dhamir itu kembali namun tetap saja setelah itu iblis sudah tidak diperbolehkan lagi untuk datang ke tempat yang dijauhkan atau terusir darinya, tidak untuk menetap dan tidak juga untuk sekadar berlalu atau mampir saja," ujarnya.

Baca juga: Jadilah Perempuan Perindu Surga

Menurut Ibnu Katsir, Al-Qur'an telah menyebutkan iblis itu membisikkan kata-katanya kepada Adam atau berbicara kepadanya, contohnya:

Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?” ( QS Thaha : 120).

“Tuhanmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga). Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku ini benar-benar termasuk para penasehatmu,” dia (setan) membujuk mereka dengan tipu daya.” (QS Al-A'raf: 20 -22).

"Ayat-ayat ini menunjukkan bahwasannya iblis berada bersama Adam dan Hawa di surga tempat tinggal mereka saat itu," ujar Ibnu Katsir.

Lalu para ulama yang mengusung pendapat bahwa surga Adam itu bukan surga keabadian menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan, bahwasanya tidak menutup kemungkinan bahwa iblis mendatangi Adam dan Hawa di surga hanya untuk sekadar melewatinya saja, bukan untuk menetap di sana. Atau bisa jadi ia membisikkan kata-katanya itu di depan pintu surga, atau di bawah langit. Namun tentu saja ketiga kemungkinan ini masih dapat diperdebatkan. Wallahu a'lam.

Baca juga: Penyebab Terhalangnya Wanita Masuk Surga

Surga di Langit Apa Bumi?

Selanjutnya, perbedaan pendapat yang paling sering terlontar tentang surga yang ditinggali oleh Nabi Adam adalah, apakah surga itu berada di langit ataukah di bumi? Lalu, apakah surga itu abadi atau tidak?

Ibnu Katsir mengatakan jumhur ulama berpendapat bahwa surga yang ditinggali oleh Nabi Adam adalah surga yang ada di langit, yaitu Surga Ma'wa, surga keabadian.

Pasalnya, ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits Nabi SAW menunjukkan hal itu, contohnya firman Allah: “Wahai Adam! Tinggallah kamu dan istrimu di dalam surga”.

Menurut Ibnu Katsir alif lam pada kata “al-jannah” (surga) tidak menunjukkan untuk makna umum dan tidak juga dikenali secara lafazh, namun dikenali secara akal, yakni Surga Ma'wa yang sering digunakan dalam syariat.

Contoh lainnya adalah perkataan Nabi Musa kepada Nabi Adam as, “Apa motivasi yang membuatmu mengeluarkan dirimu sendiri dan kami semua dari surga?”

Imam Muslim juga meriwayatkan dalam Kitab Shahihnya, dari Abu Malik Al-Asyja'i (nama aslinya adalah Saad bin Thariq), dari Abu Hazim Salamah bin Dinar, dan diriwayatkan pula dari Abu Hurairah dan Abu Malik, dari Rib'i, dari Hudzaifah, mereka berkata, Rasulullah SAW bersabda:

Baca juga: 3 Macam Akhlak Penghuni Surga

Hari itu Allah akan mengumpulkan seluruh manusia. Kemudian orang-orang yang beriman berdiri ketika surga sudah semakin menjauh dari mereka, lalu mereka datang kepada Nabi Adam dan berkata, “Wahai bapak kami, mintalah agar pintu surga dibukakan untuk kami.”

Lalu Nabi Adam berkata, “Apakah kalian dikeluarkan dari surga hanya karena kesalahan bapak kalian saja?”

Ibnu Katsir menjelaskan hadis ini sangat jelas menunjukkan bahwa surga yang dimaksud adalah Surga Ma'wa, namun tidak terlalu kuat untuk tidak diperdebatkan.

Bukan Surga Keabadian

Ulama lain mengatakan, bahwa surga yang ditinggali oleh Adam as ketika itu bukanlah surga keabadian, karena di sana ia masih mendapat pelarangan, yaitu untuk tidak mendekati pohon terlarang.

Nabi Adam juga tidur di sana dan dikeluarkan dari sana, bahkan iblis pun masuk ke dalamnya. Ini semua menunjukkan bahwa surga yang dimaksud bukanlah surga keabadian (Surga Ma'wa).

Menurut Ibnu Katsir, penafsiran ini disampaikan oleh Ubay bin Ka'ab, Abdullah bin Abbas, Wahab bin Munabbih, Sufyan bin Uyainah, dan diunggulkan oleh Ibnu Qutaibah dalam Kitabnya “Al-Maarif”, juga oleh Al-Qadhi Mundzir bin Said Al-Baluthi dalam kitab tafsirnya, bahkan dibahas secara terpisah.

Penafsiran ini juga menjadi pendapat dari Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya.

Abu Abdillah Muhammad bin Umar Ar-Razi bin Khatib Ar-Ray juga menukilkan penafsiran ini dalam kitab tafsirnya dari Abul Qasim Al-Balkhi dan Abu Muslim Al-Asfahani, dan dinukilkan pula oleh Qurthubi dalam kitab tafsirnya dari kelompok Mu'tazilah dan Qadariyah.

Pendapat ini juga secara tegas dituliskan dalam Kitab Taurat yang ada di tangan Ahli Kitab sekarang ini.

Baca juga: Gambaran Ulama Tentang Kenikmatan Surga

Perbedaan pendapat mengenai permasalahan ini dituliskan secara lengkap oleh Abu Muhammad bin Hazm dalam kitabnya “al-Milal wa AnNihal”, juga oleh Abu Muhammad bin Athiyah dalam kitab tafsirnya, juga oleh Abu Isa Ar-Rummani dalam kitab tafsirnya, serta oleh Abul Qasim Ar-Ragib dan Al-Gadhi Al-Mawardi dalam kitab tafsirnya.

Al-Mawardi mengatakan, “Ada dua pendapat berbeda dari para ulama mengenai surga yang ditempati oleh Nabi Adam dan Hawa.

Pertama, menyatakan bahwa itu adalah surga keabadian, sedangkan yang kedua menyatakan bahwa itu adalah surga yang diperuntukkan bagi keduanya sebagai tempat ujian, bukan surga keabadian yang telah dikhususkan oleh Allah sebagai tempat ganjaran.

Para ulama yang berpendapat kedua juga terbagi lagi menjadi dua pendapat yang berbeda, yang pertama menyatakan bahwa surga yang diperuntukkan bagi Adam dan Hawa terletak di atas langit, sebab ketika mereka dikeluarkan dari sana mereka diperintahkan untuk “turun”.

Pendapat ini disampaikan oleh Hasan. Sedangkan yang kedua menyatakan bahwa surga itu ada di muka bumi, sebab mereka berdua masih diberi taklif (pembebanan) untuk tidak mendekati pohon terlarang. Dan pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Jubair. Ia menambahkan, mereka menempatinya setelah iblis menolak untuk bersujud kepada Adam.” Wallahu a'lam bishshawab.

Menurut Ibnu Katsir, itulah yang disampaikan oleh Al-Mawardi. "Dan dari apa yang ia ungkapkan, ia menyebutkan ada tiga pendapat dari para ulama, dan dari perkataannya terasa bahwa ia tidak memiliki pendapat sendiri tentang hal itu," ujarnya.

Oleh karena itu, Abu Abdillah Ar-Razi dalam kitab tafsirnya menyebutkan ada empat kelompok ulama terkait perbedaan pendapat dalam masalah ini, tiga di antaranya sama seperti yang diuraikan oleh Al-Mawardi, dan yang keempat adalah para ulama yang tidak mengungkapkan pendapatnya. Lalu Abu Abdillah memilih pendapat pertama yang diunggulkannya. Wallahu a'lam.

Pendapat yang menyatakan bahwa surga tersebut bukanlah Surga Ma'wa meski terletak di atas langit, ini diriwayatkan dari Abu Ali Al-Jubba'i.
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Sebelum Menjadi Kiblat...
Sebelum Menjadi Kiblat Umat Islam, Kakbah Sudah Dibangun Nabi Adam AS
Gambaran dan 15 Nama...
Gambaran dan 15 Nama Surga Menurut Al Quran, Simak di Sini Saja!
Kisah-kisah Isra Mikraj...
Kisah-kisah Isra Mikraj (4): Rasulullah SAW Diperlihatkan Surga dan Neraka serta Para Penghuninya
5 Hal yang Bisa Membuat...
5 Hal yang Bisa Membuat Rumah Menjadi Surga, Kaum Muslim Wajib Tahu!
Doa agar Dibangunkan...
Doa agar Dibangunkan Rumah di Surga, Mudah Dihafal!
Menag Ingatkan Anak...
Menag Ingatkan Anak di Era Digital: Jangan Sampai HP Jadi Jalan Masuk Iblis
Rekomendasi
Perbedaan Fenomena Matahari...
Perbedaan Fenomena Matahari Terbit dari Barat Versi Al-Qur'an dan Ilmuwan Barat
Iihhh... 13 Kaki Hewan...
Iihhh... 13 Kaki Hewan Ini Terlihat Sangat Aneh
Elemen Kimia Terpenting...
Elemen Kimia Terpenting Ditemukan di Laboratorium Ilmuwan Terhebat dalam Sejarah
Artikel Terkini
7 Kisah Para Nabi di...
7 Kisah Para Nabi di Bulan Muharram yang Diabadikan Al Quran
Bolehkah Menggabungkan...
Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Sunnah?
Tahun Baru Islam 1448...
Tahun Baru Islam 1448 H Jadi Momentum Kebangkitan Umat Islam Hadapi Tantangan Global
Puasa Tasua, Keutamaan...
Puasa Tasua, Keutamaan dan Jadwal Pelaksanaannya
Tak Banyak yang Tahu,...
Tak Banyak yang Tahu, Ini 7 Larangan di Bulan Muharram
Ucapkan Selamat Tahun...
Ucapkan Selamat Tahun Baru 1448 Hijriah, Menag Ajak Umat Jaga Persatuan
Infografis
Politikus Muslim Mulai...
Politikus Muslim Mulai Kuasai Politik AS, Sinyal Kebangkitan Islam di Paman Sam?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved