Ini Mengapa Surat Al-Ma'un Melegenda di Kalangan Muhammadiyah

Kamis, 21 November 2024 - 16:10 WIB
loading...
Ini Mengapa Surat Al-Maun...
PKO ialah Penolong Kesengsaraan Oemoem yang bentuk kegiatannya meliputi bidang kesehatan dan pemeliharaan fakir miskin melalui rumah yatim dan rumah miskin. Foto: Ist
A A A
MUHAMMADIYAH kini tengah memperingati milad yang ke-112. Organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini lahir pada 8 Dzulhijjah 1330 H atau bertepatan dengan 18 November 1912 M. Bagaimana sejatinya gambaran masa lalu perjuangan salah satu ormas terbesar di Indonesia ini?

Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan mengatakan perhatian dan fokus kegiatan Muhammadiyah pada periode generasi pendiri yaitu pada pemberdayaan dan pemihakan terhadap kaum pinggiran. Ini terlihat dari usaha gerakan ini mendirikan rumah sakit , panti asuhan, dan rumah miskin.

"Fokus kegiatan demikian terutama tercermin dalam lembaga yang dibentuk sejak tahun 1920 yang dikenal dengan akronim PKU (dulu PKO)," tulis Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan dalam "Kiai Ahmad Dahlan Mengganti Jimat, Dukun, dan Yang Keramat Dengan Ilmu Pengetahuan Basis Pencerahan Umat Bagi Pemihakan Terhadap Si Ma’un" dalam buku "KH Ahmad Dahlan (1868-1923)".

Buku ini diterbitkan Museum Kebangkitan Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015. Abdul Munir Mulkan adalah Guru Besar tetap UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Guru Besar Emiritus Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Baca juga: Profil Singkat Kiai Ahmad Dahlan dan Siasatnya Membangun Muhammadiyah

Kepanjangan akronim PKO ialah Penolong Kesengsaraan Oemoem yang bentuk kegiatannya meliputi bidang kesehatan dan pemeliharaan fakir miskin melalui rumah yatim dan rumah miskin.

"Seluruhnya merupakan usaha pemberdayaan bagi si Ma’un, kaum pinggiran yang terasing dan diasingkan dari Islam yang fungsional," jelasnua.

Menurutnya, dalam hubungan itulah pengajaran Kiai Ahmad Dahlan tentang Surat Al-Ma’un seperti berkembang menjadi semacam legenda.

Dalam surat ke-107, termaktub dalam Al-Qur’an, Allah mengkritik orang-orang yang rajin melakukan ibadah salat lima waktu, namun tidak peduli terhadap perbaikan nasib mereka yang terpinggir, terasing, menderita dan tertindas. Bahkan adalah sebuah dusta, jika orang rajin mengerjakan ibadah namun mengabaikan nasib mereka yang terpinggirkan sistem sosial yang tidak adil.

Gerakan awal Muhammadiyah lebih ditujukan pada pemberdayaan kaum pinggiran atau si Ma’un tersebut yang dalam masyarakat Islam lebih dikenal dengan sebutan mustadl’afin. Umat yang terpinggirkan yang miskin, penyakitan, dan tidak berpendidikan demikian itu masih lebih menderita lagi karena hidup dalam perangkap gugon-tuhon, yaitu kepercayaan yang berakibat mereka hidup dalam bayangan ilmu gaib, jimat dan dukun.

Baca juga: Kiai Ahmad Dahlan dan Pembaharuan Pendidikan: Strategi Melawan Penjajah

Kondisi demikian itu lebih mengenaskan lagi, nasib umat yang terperangkap dalam kemiskinan, kebodohan, dan kepenyakitan tersebut di atas, sikap elite keagamaan Islam yang tidak peduli pada situasi objektif yang dihadapi umatnya.

Para pemimpin umat sibuk dengan dirinya sendiri, lupa pada tanggung jawab sosial mencerahi kehidupan umat yang dipimpinnya.

Dalam situasi demikian itulah pembaruan Kiai Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah-nya menjadi lebih berarti. Fokus pembaruan Kiai Ahmad Dahlan terletak pada usahanya menyadarkan umat akan nasib dan tanggung jawabnya atas kehidupan duniawi yang mereka hadapi.

Implementasi dari gagasan itu ialah pembersihan ajaran Islam dari kepercayaan takhayul dan khurafat serta yang menjadi bagian dari kultus pemujaan terhadap raja.

Demikian pula pembersihan ketergantungan umat pada peran dukun dalam kehidupan masyarakat dan pemujaan pada kuburan.

Baca juga: Ketika Kiai Ahmad Dahlan Dituduh Kafir karena Meniru Sekolah Belanda

Berdasar gagasan tersebut, gerakan pembaruan Kiai Ahmad Dahlan bisa disimpulkan meliputi beberapa hal berikut:

1. Pemahaman ajaran Islam dari sumbernya, Al-Quran dan Sunnah dengan akal yang tersusun dalam ilmu pengetahuan modern.

2. Mempermudah umat dalam memahami ajaran Islam dari sumbernya dengan penerjemahan Al-Quran dan Sunnah dengan bahasa Melayu.

3. Mendirikan sekolah modern dengan mendorong anak-anak muda (pria dan wanita) mengikuti sekolah tersebut.

4. Mengelola ibadah sosial (zakat harta, zakat fitrah, penyembelihan hewan korban) dengan manajemen modern.

5. Menyantuni kaum fakir miskin, si Ma’un, sehingga bisa hidup sehat melalui lembaga Penolong Kesengsaraan Umum dengan mendirikan rumah sakit, panti asuhan, panti miskin, dan panti jompo. Lembaga dan sekolah modern didirikan sebagai usaha untuk menjemput takdir bagi kesejahteraan si Ma’un dan seluruh kemanusiaan universal.

Baca juga: Kisah Kiai Ahmad Dahlan Merombak Ruang Tamu Rumahnya Menjadi Ruang Kelas

6. Mengembangkan kerja sama kemanusiaan melalui suatu organisasi modern.

7. Menggerakkan umat untuk saling menolong membiayai kegiatan publik melalui pengelolaan secara transparan zakat (zakat harta dan zakat fitrah), infak dan sedekah serta wakaf.

Menurut Abdul Munir Mukhan, berbagai gagasan tersebut antara lain bisa dibaca dari Anggaran Dasar pertama yang disahkan pemerintah Hindia Belanda.
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Sejarah Kiswah Kakbah:...
Sejarah Kiswah Kakbah: Dari Beragam Warna hingga Hitam yang Mendunia
Dibangun Lebih dari...
Dibangun Lebih dari Rp1.500 Triliun! 20 Fakta Menakjubkan Masjidil Haram
Jejak Para Singa Allah:...
Jejak Para Singa Allah: Deretan Panglima Perang Terhebat dalam Sejarah Islam
Inilah Penyebab Utama...
Inilah Penyebab Utama Iran Menjadi Negara Syiah
Kisah Runtuhnya Kekaisaran...
Kisah Runtuhnya Kekaisaran Sassaniyah: Transformasi Jati Diri Bangsa Persia di Bawah Islam
Sejarah dan Asal-usul...
Sejarah dan Asal-usul Ucapan Minal Aidin Wal Faizin
Rekomendasi
Megastruktur Berusia...
Megastruktur Berusia 11.000 Tahun Ditemukan di Bawah Laut Baltik
Elemen Kimia Terpenting...
Elemen Kimia Terpenting Ditemukan di Laboratorium Ilmuwan Terhebat dalam Sejarah
Subuh ke Magrib hanya...
Subuh ke Magrib hanya 1 Jam, Puasa di Murmansk Cuma 60 Menit
Artikel Terkini
Bolehkah Puasa pada...
Bolehkah Puasa pada 1 Muharram? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Khotbah Jumat : 5 Pelajaran...
Khotbah Jumat : 5 Pelajaran dalam Pergantian Tahun Baru Hijriyah
Mengapa Muharram Menjadi...
Mengapa Muharram Menjadi Bulan Pertama Tahun Hijriah? Ini Sejarah dan Keistimewaannya
Jangan Salah Kaprah!...
Jangan Salah Kaprah! Begini Cara Menyambut Tahun Baru Islam Menurut Syariat
Bacaan Niat 3 Jenis...
Bacaan Niat 3 Jenis Puasa Sunnah di Bulan Muharram
Deretan Dalil Kuat Anjuran...
Deretan Dalil Kuat Anjuran 3 Puasa Sunnah di Bulan Muharram
Infografis
Abu Musa Jabir Bin Hayyan,...
Abu Musa Jabir Bin Hayyan, Ilmuwan Islam di Bidang Kimia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved