Muhammadiyah dan Pemberdayaan Perempuan: Kisah Lahirnya Aisyiyah
Rabu, 27 November 2024 - 13:43 WIB
loading...
A
A
A
Dalam daftar mubaligh (juru dakwah), Nyai Dahlan tercatat pada nomor pertama mbuballighah (guru ngaji perempuan), seperti suaminya Kiai Ahmad Dahlan sebagai mubaligh.
Nyai Dahlan pernah memenuhi undangan untuk sidang ulama di Solo pada 1921, tanpa disertai Kiai Dahlan.
Baca juga: Ketika Kiai Ahmad Dahlan Dituduh Kafir karena Meniru Sekolah Belanda
Sapa Tresna
Pada awalnya, organisasi ini memiliki nama Sopo Tresno, yang memiliki makna literal ‘siapa suka atau siapa cinta’. Lahirnya Sopo Tresno digagasi oleh Kiai Ahmad Dahlan bersama istrinya, Nyai Ahmad Dahlan. Pada waktu itu, Sopo Tresno belum menjadi organisasi, hanya suatu forum pengajian untuk wanita, baik tua maupun muda.
Pembentukan organisasi perempuan Muhammadiyah ini diawali dengan adanya rapat yang dilaksanakan di kediaman Kiai Ahmad Dahlan pada tahun 1917. Rapat tersebut dihadiri oleh beberapa pengurus Muhammadiyah antara lain KH Fachrudin, KH Mochtar, Ki Bagus Hadikusumo serta pengurus Muhammadiyah lainnya. Rapat tersebut menghasilkan keputusan bahwa organisasi tersebut akan dibentuk dengan nama Aisyiyah, atas usul Haji Fachrudin.
Nama Aisyiyah terinspirasi dari nama istri Nabi Muhammad SAW, yaitu Aisyah yang dikenal cerdas dan mumpuni. Muhammadiyah memiliki arti pengikut Nabi Muhammad, sedangkan Aisyiyah memiliki arti pengikut Aisyah.
Keduanya merupakan pasangan serasi dalam berdakwah, seperti figur Muhammad dan Aisyah, bahwa Aisyiyah akan berjuang berdampingan bersama Muhammadiyah.
Organisasi Aisyiyah diresmikan pada 22 April 1917, yang dikepalai oleh Nyai Ahmad Dahlan atau Siti Walidah. Lalu lima tahun kemudian, organisasi ini ikut menjadi bagian dari Muhammadiyah, organisasi yang didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan.
Baca juga: Pendidikan Muhammadiyah: Kisah KH Ahmad Dahlan Dianggap Muktazilah sampai Murtad
Nyai Dahlan pernah memenuhi undangan untuk sidang ulama di Solo pada 1921, tanpa disertai Kiai Dahlan.
Baca juga: Ketika Kiai Ahmad Dahlan Dituduh Kafir karena Meniru Sekolah Belanda
Sapa Tresna
Pada awalnya, organisasi ini memiliki nama Sopo Tresno, yang memiliki makna literal ‘siapa suka atau siapa cinta’. Lahirnya Sopo Tresno digagasi oleh Kiai Ahmad Dahlan bersama istrinya, Nyai Ahmad Dahlan. Pada waktu itu, Sopo Tresno belum menjadi organisasi, hanya suatu forum pengajian untuk wanita, baik tua maupun muda.
Pembentukan organisasi perempuan Muhammadiyah ini diawali dengan adanya rapat yang dilaksanakan di kediaman Kiai Ahmad Dahlan pada tahun 1917. Rapat tersebut dihadiri oleh beberapa pengurus Muhammadiyah antara lain KH Fachrudin, KH Mochtar, Ki Bagus Hadikusumo serta pengurus Muhammadiyah lainnya. Rapat tersebut menghasilkan keputusan bahwa organisasi tersebut akan dibentuk dengan nama Aisyiyah, atas usul Haji Fachrudin.
Nama Aisyiyah terinspirasi dari nama istri Nabi Muhammad SAW, yaitu Aisyah yang dikenal cerdas dan mumpuni. Muhammadiyah memiliki arti pengikut Nabi Muhammad, sedangkan Aisyiyah memiliki arti pengikut Aisyah.
Keduanya merupakan pasangan serasi dalam berdakwah, seperti figur Muhammad dan Aisyah, bahwa Aisyiyah akan berjuang berdampingan bersama Muhammadiyah.
Organisasi Aisyiyah diresmikan pada 22 April 1917, yang dikepalai oleh Nyai Ahmad Dahlan atau Siti Walidah. Lalu lima tahun kemudian, organisasi ini ikut menjadi bagian dari Muhammadiyah, organisasi yang didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan.
Baca juga: Pendidikan Muhammadiyah: Kisah KH Ahmad Dahlan Dianggap Muktazilah sampai Murtad
(mhy)
Lihat Juga :