Sejarah Lahirnya Ahmadiyah: Ketika Umat Islam Tenggelam ke Tingkat Paling Bawah
Kamis, 28 November 2024 - 16:53 WIB
loading...
A
A
A
Situasi ummat Islam di India saat itu, boleh jadi tidak jauh berbeda dengan keadaan ummat Islam Indonesiadi zaman pemerintahan kolonial Belanda.
Dalam keadaan demikian, kaum ulama Islam sebagai digambarkan oleh Maulana Muhammad 'Ali, telah tenggelam sampai ke tingkat yang paling bawah. "Sehingga pertarungan antar-sesama kelompok Muslim, karena perbedaan paham yang kecil saja telah dipandang sebagai pengabdian terhadap Islam yang paling besar, dan menghukum Muslim lainnya sebagai kafir," tulis Maulana Muhammad Ali dalam buku "Mirza Ghulam Ahmad of Qadian, His Life and Mission" (Lahore: Ahmadiyah Anjuman Isha'at Islam, 1959).
Demikianlah situasi umat Islam yang melatarbelakangi munculnya gerakan Mahdiisme Ahmadiyah. Drs. Muslih Fathoni, M.A. dalam bukunya berjudul "Faham Mahdi Syi'ah dan Ahmadiyah dalam Perspektif (PT. RajaGrafindo Persada, 1994) menyebutdi sini Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku telah diangkat sebagai al-Mahdi dan al-Masih oleh Tuhan, merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk memajukan Islam dan ummat Muslim dengan memberi interpretasi baru terhadap ayat-ayat al-Qur-an sesuai dengan tuntutan zamannya, sebagai yang diilhamkan Tuhan kepadanya.
Baca juga: Perusakan Masjid Ahmadiyah, DPR Ingatkan Masyarakat Jangan Main Hakim Sendiri
Motif Mirza ini tampaknya didorong oleh gencamya serangan kaum misionaris Kristen dan propaganda kaum Hindu terhadap umatIslam saat itu.
Dalam hubungan ini, Wilfred Cantwell Smith dalam "Modern Islam in India" (New Delhi: Usha Publication, 1979) menggambarkan bahwa Ahmadiyah yang lahir menjelang akhir abad ke-19, di tengah huru-hara runtuhnya masyarakat Islam lama dan infiltrasi budaya dengan sikapnya yang baru, serangan gencar kaum misionaris Kristen (terhadap Islam), dan berdirinya Universitas Aligarh yang baru, maka lahimya Ahmadiyah adalah sebagai protes terhadap keberhasilan kaum misionaris Kristen memperoleh pengikut-pengikut baru.
Hal itu juga sebagai protes terhadap paham rasionalis dan westernisasi yang dibawa oleh Sayyid Ahmad Khan dengan Aligarh-nya. Di samping itu, di saat yang sama, demikian Smith menambahkan, lahirnya Ahmadiyah juga sebagai protes atas kemerosotan Islam pada umumnya.
Sayangnya pembaharuan al-Mahdi Ahmadiyah ini menyentuh keyakinan ummatIslam yang sangat sensitif, yaitu masih adanya nabi dan wahyu yang diturunkan Tuhan sesudah al-Quran dan sesudah kerasulan Nabi Muhammad. "Inilah kiranya yang menyebabkan timbulnya reaksi keras dan permusuhan umat Islamterhadap aliran yang baru lahir itu," ujarMuslih Fathoni.
Baca juga: Apakah Hamas Itu Syiah? Ini Jawabannya
Dalam keadaan demikian, kaum ulama Islam sebagai digambarkan oleh Maulana Muhammad 'Ali, telah tenggelam sampai ke tingkat yang paling bawah. "Sehingga pertarungan antar-sesama kelompok Muslim, karena perbedaan paham yang kecil saja telah dipandang sebagai pengabdian terhadap Islam yang paling besar, dan menghukum Muslim lainnya sebagai kafir," tulis Maulana Muhammad Ali dalam buku "Mirza Ghulam Ahmad of Qadian, His Life and Mission" (Lahore: Ahmadiyah Anjuman Isha'at Islam, 1959).
Demikianlah situasi umat Islam yang melatarbelakangi munculnya gerakan Mahdiisme Ahmadiyah. Drs. Muslih Fathoni, M.A. dalam bukunya berjudul "Faham Mahdi Syi'ah dan Ahmadiyah dalam Perspektif (PT. RajaGrafindo Persada, 1994) menyebutdi sini Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku telah diangkat sebagai al-Mahdi dan al-Masih oleh Tuhan, merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk memajukan Islam dan ummat Muslim dengan memberi interpretasi baru terhadap ayat-ayat al-Qur-an sesuai dengan tuntutan zamannya, sebagai yang diilhamkan Tuhan kepadanya.
Baca juga: Perusakan Masjid Ahmadiyah, DPR Ingatkan Masyarakat Jangan Main Hakim Sendiri
Motif Mirza ini tampaknya didorong oleh gencamya serangan kaum misionaris Kristen dan propaganda kaum Hindu terhadap umatIslam saat itu.
Dalam hubungan ini, Wilfred Cantwell Smith dalam "Modern Islam in India" (New Delhi: Usha Publication, 1979) menggambarkan bahwa Ahmadiyah yang lahir menjelang akhir abad ke-19, di tengah huru-hara runtuhnya masyarakat Islam lama dan infiltrasi budaya dengan sikapnya yang baru, serangan gencar kaum misionaris Kristen (terhadap Islam), dan berdirinya Universitas Aligarh yang baru, maka lahimya Ahmadiyah adalah sebagai protes terhadap keberhasilan kaum misionaris Kristen memperoleh pengikut-pengikut baru.
Hal itu juga sebagai protes terhadap paham rasionalis dan westernisasi yang dibawa oleh Sayyid Ahmad Khan dengan Aligarh-nya. Di samping itu, di saat yang sama, demikian Smith menambahkan, lahirnya Ahmadiyah juga sebagai protes atas kemerosotan Islam pada umumnya.
Sayangnya pembaharuan al-Mahdi Ahmadiyah ini menyentuh keyakinan ummatIslam yang sangat sensitif, yaitu masih adanya nabi dan wahyu yang diturunkan Tuhan sesudah al-Quran dan sesudah kerasulan Nabi Muhammad. "Inilah kiranya yang menyebabkan timbulnya reaksi keras dan permusuhan umat Islamterhadap aliran yang baru lahir itu," ujarMuslih Fathoni.
Baca juga: Apakah Hamas Itu Syiah? Ini Jawabannya
(mhy)
Lihat Juga :