Dokter Soetomo: PKU Muhammadiyah Perlawanan terhadap Darwinisme
Minggu, 01 Desember 2024 - 08:15 WIB
loading...
A
A
A
Dokter Soetomo dalam Suara Muhammadiyah tersebut menyatakan: “Meskipun perserikatan kami itu kelihatannya dan wujudnya ada berlainan dengan perserikatan lainnya, yang timbul di dunia pada waktu yang kurang lebih bersama-sama, yakni Perserikatan kami ini ada bersifat Islam, tetapi pada hakikatnya Perserikatan kami itu tiada lain hanya satu dari pada beberapa pertunjuk lahirnya pikiran baru, yang menggetarkan bahagian antero dunia yang berpikir.”
Dokter Soetomo selanjutnya menyatakan: “Lagi pula boleh dikatakan akan timbangan atau perlawanan pengajaran Darwin. Bukankah pengajaran Darwin itu berasas peperangan hidup?"
"Sudah tentu saja kejadiannya pengajaran ini menindas dan memusnahkan yang bersifat lembek. Karena bermaksud untuk diri sendiri, supaya dalam dunia ini mendapat tempat yang baik. Sedang pikiran baru itu timbul dari pada asas yang lain, yakni asas cinta kasih."
Asas cinta-kasih ini sudah barang tentu tiada mengizinkan, tiada memberi kesempatan, beberapa untuk keperluan diri sendiri. Akan tetapi mewajibkan berkurban untuk mencapai hidup mulia bagi umum.”
Dokter itu berikut berkata: “Dan kalau begitu, apakah yang disebut cinta kasih pada orang-tua, pada istri dan anak atau lainnya?
Tiada lain hanyalah mengurbankan diri untuk keselamatan dan kebahagiaan orang lain.
Baca juga: Kiai Ahmad Dahlan dan Pembaharuan Pendidikan: Strategi Melawan Penjajah
Begitu juga Perserikatan kami ini kemasukan (kentelan, Jawa) pikiran cinta-kasih, yang akan kita curahkan kepada sesama manusia, supaya dengan cinta-kasih dan kurban dapatlah tercapai hidup mulia yang kita maksud seperti tersebut di atas.”
Dalam acara yang sama, dokter Soetomo berkata: “Kita mendirikan sekolahan, kita ada mendirikan Hizbul Wathan untuk memajukan badan kita. Anak yatim pun dapat pemeliharaan dari kita. Banyaklah jalan yang hendak kita jalani. Tetapi, haruslah disebutkan di sini, bahwa start kita ada sempit.
Dokter tersebut juga menghimbau kepada publik untuk membantu dan berpartisipasi ketika rumah sakit itu didirikan tidak hanya untuk umat pemeluk Islam warga bumi putra, tapi juga bagi siapa saja warga bangsa dunia.
Dokter Soetomo selanjutnya menyatakan: “Lagi pula boleh dikatakan akan timbangan atau perlawanan pengajaran Darwin. Bukankah pengajaran Darwin itu berasas peperangan hidup?"
"Sudah tentu saja kejadiannya pengajaran ini menindas dan memusnahkan yang bersifat lembek. Karena bermaksud untuk diri sendiri, supaya dalam dunia ini mendapat tempat yang baik. Sedang pikiran baru itu timbul dari pada asas yang lain, yakni asas cinta kasih."
Asas cinta-kasih ini sudah barang tentu tiada mengizinkan, tiada memberi kesempatan, beberapa untuk keperluan diri sendiri. Akan tetapi mewajibkan berkurban untuk mencapai hidup mulia bagi umum.”
Dokter itu berikut berkata: “Dan kalau begitu, apakah yang disebut cinta kasih pada orang-tua, pada istri dan anak atau lainnya?
Tiada lain hanyalah mengurbankan diri untuk keselamatan dan kebahagiaan orang lain.
Baca juga: Kiai Ahmad Dahlan dan Pembaharuan Pendidikan: Strategi Melawan Penjajah
Begitu juga Perserikatan kami ini kemasukan (kentelan, Jawa) pikiran cinta-kasih, yang akan kita curahkan kepada sesama manusia, supaya dengan cinta-kasih dan kurban dapatlah tercapai hidup mulia yang kita maksud seperti tersebut di atas.”
Dalam acara yang sama, dokter Soetomo berkata: “Kita mendirikan sekolahan, kita ada mendirikan Hizbul Wathan untuk memajukan badan kita. Anak yatim pun dapat pemeliharaan dari kita. Banyaklah jalan yang hendak kita jalani. Tetapi, haruslah disebutkan di sini, bahwa start kita ada sempit.
Dokter tersebut juga menghimbau kepada publik untuk membantu dan berpartisipasi ketika rumah sakit itu didirikan tidak hanya untuk umat pemeluk Islam warga bumi putra, tapi juga bagi siapa saja warga bangsa dunia.
Lihat Juga :