Kisah Khalifah Utsman bin Affan Dapat Dukungan Ali bin Abi Thalib
Selasa, 03 Desember 2024 - 14:30 WIB
loading...
Kisah Khalifah Utsman bin Affan Dapat Dukungan Ali bin Abi Thalib dalam hal tindakannya membakar mushaf al-Quran diluar Mushaf Utsman. Ilustrasi: AI
A
A
A
Kisah Utsman bin Affan mendapat dukungan Ali bin Abi Thalib ketika terjadi protes atas tindakannyamembakar mushaf-mushaf Al-Qur'an selain mushaf dirinya dalam rangka menyeragamkan bacaan al-Qur'an. Sejumlah sahabat dan Tabiin sempat marah dengan tindakannya itu. Namun Ali bin Abi Thalib mendukungnya.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Usman bin Affan, Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987) mengisahkan ketika ketika ditanya tentang pembakaran mushaf-mushaf itu Ali bin Abi Talib menjawab: "Kalau dia tidak melakukan itu saya yang akan melakukannya."
Sungguhpun begitu orang masih saja melampaui batas dalam mengecam Utsman karena memerintahkan pembakaran mushaf-mushaf itu.
Di depan orang banyak Ali berkata: "Saudara-saudara, janganlah kalian berlebihan dalam mengatakan Utsman telah membakar mushaf. Dia membakarnya itu sepengetahuan sahabat-sahabat Muhammad SAW. Kalau saya dibaiat seperti dia, niscaya akan saya lakukan seperti yang dikerjakannya itu."
Baca juga: Kisah Utsman bin Affan Merobohkan Masjid Nabawi, Mengganti dengan yang Lebih Megah
Kala itu, masih ada golongan mengecam Khalifah Utsman karena dua masalah. Pertama tindakannya membongkar Masjid Nabawi dengan dibangun yang baru dan lebih megah. Lalu ditambah pembakaran mushaf-mushaf al-Quran kecuali Mushaf Utsman.
Dalil mereka adalah hal seperti itu tidak dilakukan pendahulunya, Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Haekal mengatakan mengapa mereka tidak menyalahkan Umar bin Khattab yang sudah berijtihad dengan pikiran dalam banyak hal, padahal ada juga orang yang menentang ijtihadnya itu?
Ataukah karena mereka memandang Utsman lunak dan menganggapnya lemah lalu tidak mengakuinya, hal yang tidak mereka lakukan terhadap Umar karena ia bersikap keras dan tegas?
Ataukah karena mereka melihat Umar menempuh cara hidup seperti mereka, hidup melarat, melupakan dirinya dan hanya semata-mata mengabdi kepada Allah, sehingga tak ada orang yang mempersalahkannya dengan keyakinan bahwa segala yang dilakukannya itu dasarnya jelas dan meyakinkan?
Di samping itu mereka melihat Utsman dalam hidup mewah, yang tak dapat dicapai oleh kebanyakan orang lalu mereka merasa iri hati sehingga kritik dan kecaman mereka itu merupakan manifestasi atas rasa iri hati itu?
Betapa pun juga, kata Haekal, perkembangan yang terjadi di negeri-negeri Arab itu sejak masa Rasulullah, dari segi intelektual dan ekonomi besar sekali pengaruhnya dalam membentuk sikap orang-orang itu terhadap Utsman.
Baca juga: Kisah Utsman bin Affan Membakar Mushaf Al-Quran, selain Mushafnya Sendiri
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Usman bin Affan, Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987) mengisahkan ketika ketika ditanya tentang pembakaran mushaf-mushaf itu Ali bin Abi Talib menjawab: "Kalau dia tidak melakukan itu saya yang akan melakukannya."
Sungguhpun begitu orang masih saja melampaui batas dalam mengecam Utsman karena memerintahkan pembakaran mushaf-mushaf itu.
Di depan orang banyak Ali berkata: "Saudara-saudara, janganlah kalian berlebihan dalam mengatakan Utsman telah membakar mushaf. Dia membakarnya itu sepengetahuan sahabat-sahabat Muhammad SAW. Kalau saya dibaiat seperti dia, niscaya akan saya lakukan seperti yang dikerjakannya itu."
Baca juga: Kisah Utsman bin Affan Merobohkan Masjid Nabawi, Mengganti dengan yang Lebih Megah
Kala itu, masih ada golongan mengecam Khalifah Utsman karena dua masalah. Pertama tindakannya membongkar Masjid Nabawi dengan dibangun yang baru dan lebih megah. Lalu ditambah pembakaran mushaf-mushaf al-Quran kecuali Mushaf Utsman.
Dalil mereka adalah hal seperti itu tidak dilakukan pendahulunya, Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Haekal mengatakan mengapa mereka tidak menyalahkan Umar bin Khattab yang sudah berijtihad dengan pikiran dalam banyak hal, padahal ada juga orang yang menentang ijtihadnya itu?
Ataukah karena mereka memandang Utsman lunak dan menganggapnya lemah lalu tidak mengakuinya, hal yang tidak mereka lakukan terhadap Umar karena ia bersikap keras dan tegas?
Ataukah karena mereka melihat Umar menempuh cara hidup seperti mereka, hidup melarat, melupakan dirinya dan hanya semata-mata mengabdi kepada Allah, sehingga tak ada orang yang mempersalahkannya dengan keyakinan bahwa segala yang dilakukannya itu dasarnya jelas dan meyakinkan?
Di samping itu mereka melihat Utsman dalam hidup mewah, yang tak dapat dicapai oleh kebanyakan orang lalu mereka merasa iri hati sehingga kritik dan kecaman mereka itu merupakan manifestasi atas rasa iri hati itu?
Betapa pun juga, kata Haekal, perkembangan yang terjadi di negeri-negeri Arab itu sejak masa Rasulullah, dari segi intelektual dan ekonomi besar sekali pengaruhnya dalam membentuk sikap orang-orang itu terhadap Utsman.
Baca juga: Kisah Utsman bin Affan Membakar Mushaf Al-Quran, selain Mushafnya Sendiri
Lihat Juga :