Kisah Sri Sultan Hamengku Buwono Memerintahkan Kiai Ahmad Dahlan Pergi Haji
Sabtu, 07 Desember 2024 - 15:40 WIB
loading...
A
A
A
Sepulang haji, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII memerintahkan Kiai Ahmad Dahlan diam-diam bergabung dalam Boedi Oetomo.
Dukungan pihak kraton juga dilihat dari kenyataan pengelola Masjid Besar Kauman Yogyakarta sebagai bagian tak terpisah dari situs Kerajaan hingga saat ini dipercayakan pada anak-cucu Kiai Ahmad Dahlan yang merupakan pengurus teras Muhammadiyah.
Sejak Muhammadiyah berdiri, kegiatan ibadah Masjid Besar Kauman dikelola sesuai dengan paham keagamaan yang berkembang di kalangan Muhammadiyah.
Dukungan pihak kerajaan terhadap langkah pembaruan yang dilakukan Kiai Ahmad Dahlan merupakan salah satu kekuatan penting yang membuat Muhammadiyah terus berkembang meluas.
Suasana sosial-politik yang melingkupi kehidupan Kiai Ahmad Dahlan relatif berbeda dengan tokoh pembaharu Islam di berbagai belahan dunia seperti pembaharu dari Saudi Arabia, Mesir, Iran, Afghanistan, Aljazair, Pakistan atau India.
Jika para pembaharu itu banyak berhubungan dengan pusat kebudayaan Eropa, terutama Prancis dan Inggris, Kiai Ahmad Dahlan memperoleh pendidikan di lingkungan kerajaan, terutama dari ayahnya sendiri sebagai seorang pejabat Kraton.
Baca juga: Muhammadiyah Dekat dengan Kaum Proletar: Simak Pidato Kiai Ahmad Dahlan
Pergaulan Kiai Dahlan dengan elite kerajaan, elite Jawa dan beberapa orang Belanda (termasuk para pendeta dan pastur) memberi ruang lebih luas baginya menjelajahi berbagai persoalan yang berkembang pada masanya baik di tingkat dunia global atau nasional dan lokal.
Dukungan pihak kraton juga dilihat dari kenyataan pengelola Masjid Besar Kauman Yogyakarta sebagai bagian tak terpisah dari situs Kerajaan hingga saat ini dipercayakan pada anak-cucu Kiai Ahmad Dahlan yang merupakan pengurus teras Muhammadiyah.
Sejak Muhammadiyah berdiri, kegiatan ibadah Masjid Besar Kauman dikelola sesuai dengan paham keagamaan yang berkembang di kalangan Muhammadiyah.
Dukungan pihak kerajaan terhadap langkah pembaruan yang dilakukan Kiai Ahmad Dahlan merupakan salah satu kekuatan penting yang membuat Muhammadiyah terus berkembang meluas.
Suasana sosial-politik yang melingkupi kehidupan Kiai Ahmad Dahlan relatif berbeda dengan tokoh pembaharu Islam di berbagai belahan dunia seperti pembaharu dari Saudi Arabia, Mesir, Iran, Afghanistan, Aljazair, Pakistan atau India.
Jika para pembaharu itu banyak berhubungan dengan pusat kebudayaan Eropa, terutama Prancis dan Inggris, Kiai Ahmad Dahlan memperoleh pendidikan di lingkungan kerajaan, terutama dari ayahnya sendiri sebagai seorang pejabat Kraton.
Baca juga: Muhammadiyah Dekat dengan Kaum Proletar: Simak Pidato Kiai Ahmad Dahlan
Pergaulan Kiai Dahlan dengan elite kerajaan, elite Jawa dan beberapa orang Belanda (termasuk para pendeta dan pastur) memberi ruang lebih luas baginya menjelajahi berbagai persoalan yang berkembang pada masanya baik di tingkat dunia global atau nasional dan lokal.
(mhy)
Lihat Juga :