Kisah Mirza Ghulam Ahmad: Mengaku Nabi untuk Islam, Kristen, dan Hindu
Rabu, 11 Desember 2024 - 14:39 WIB
loading...
A
A
A
Dalam kegiatan dakwahnya di tahun 1904, ia pun mengaku tidak hanya sebagai al-Masih dan al-Mahdi yang dijanjikan, tetapi ia juga mengaku sebagai Krishna. Ia merintis usahanya melalui majalah bulanan berbahasa Inggris sepertiReview of Religions from Qadian, sebagai media yang dianggap banyak menarik orang-orang Barat dengan mendapat tantangan melalui berbagai mass media. Memang yang menjadi misi kemahdiannya di berbagai negeri di Barat adalah untuk meluruskan pandangan mereka yang keliru terhadap Islam.
Rencananya ini lebih lanjut dikembangkan oleh pengikutnya sesudah ia wafat. Kemudian di tahun 1912 didirikan misi Islam di Inggris, sedangkan di Jerman Barat didirikan pada tahun 1922.
Keinginan menyebarkan ide kemahdiannya di Eropa ini, telah ia canangkan dalam karyanya Nurul Haq yang ditulis dua tahun sesudah ia mengaku sebagai al-Masih dan al-Mahdi yang dijanjikan.
Di samping keberhasilan yang dicapai juga tidak ringan tantangan yang dihadapinya dalam mewujudkan ide pembaharuannya, terutama tantangan dari intern umat Islam.
Lahirnya tantangan yang sengit ini adalah disebabkan oleh pembaharuan yang dimajukan Mirza, sangat kontradiktif dengan akidah yang telah dimiliki oleh ummat Islam yaitu masih adanya nabi sesudah Nabi Muhammad SAW. Apapun argumen yang dimajukannya, hal itu sulit dapat diterima oleh mayoritas umat Islam.
Baca juga: Nabi Palsu: Dari Mirza Ghulam Ahmad si Nabi Kecil sampai Joseph Smith
Akibat perbedaan yang prinsipal ini, lahirlah permusuhan dan fitnahan, sehingga terjadi saling mengafirkan antara satu dengan lainnya. Permusuhan ini kemudian diikuti oleh tindakan pemutusan hubungan kekeluargaan antara pengikut Ahmadiyah dengan Muslim lain yang non-Ahmadiyah.
Keadaan ini rupanya tidak jauh berbeda dengan peristiwa yang pernah menimpa umat Islam Indonesia, yaitu antara pengikut Islam Jama'ah dengan mereka yang bukan pengikut Islam Jama'ah. Dalam hubungan ini, Maulana Muhammad 'Ali menggambarkan, bahwa kekerasan dan permusuhan yang dialamatkan kepada aliran yang baru lahir itu, tampaknya mereka tidak mendapat pembelaan dari siapa pun.
Mereka dikucilkan melalui fatwa-fatwa Ulama, perkawinan dengan mereka dipandang tidak sah dan barang-barang milik mereka, halal dirampas tanpa dapat dituntut di pengadilan. Akan tetapi, mereka tetap tabah dan berdiri tegar menghadapi ujian yang datang dan golongan Islam, Hindu, dan Kristen itu.
Golongan Hindu dipimpin oleh Pandit Lekhram, 'Abdullah Atim dari golongan Kristen, dan Maulana Muhammad Husain dari Batala mewakili golongan 'Ulama Hadis dari kelompok Hanafi, Sunni, dan Syi'ah.
Dalam menghadapi ujian ini Mirza menyatakan:
Rencananya ini lebih lanjut dikembangkan oleh pengikutnya sesudah ia wafat. Kemudian di tahun 1912 didirikan misi Islam di Inggris, sedangkan di Jerman Barat didirikan pada tahun 1922.
Keinginan menyebarkan ide kemahdiannya di Eropa ini, telah ia canangkan dalam karyanya Nurul Haq yang ditulis dua tahun sesudah ia mengaku sebagai al-Masih dan al-Mahdi yang dijanjikan.
Di samping keberhasilan yang dicapai juga tidak ringan tantangan yang dihadapinya dalam mewujudkan ide pembaharuannya, terutama tantangan dari intern umat Islam.
Lahirnya tantangan yang sengit ini adalah disebabkan oleh pembaharuan yang dimajukan Mirza, sangat kontradiktif dengan akidah yang telah dimiliki oleh ummat Islam yaitu masih adanya nabi sesudah Nabi Muhammad SAW. Apapun argumen yang dimajukannya, hal itu sulit dapat diterima oleh mayoritas umat Islam.
Baca juga: Nabi Palsu: Dari Mirza Ghulam Ahmad si Nabi Kecil sampai Joseph Smith
Akibat perbedaan yang prinsipal ini, lahirlah permusuhan dan fitnahan, sehingga terjadi saling mengafirkan antara satu dengan lainnya. Permusuhan ini kemudian diikuti oleh tindakan pemutusan hubungan kekeluargaan antara pengikut Ahmadiyah dengan Muslim lain yang non-Ahmadiyah.
Keadaan ini rupanya tidak jauh berbeda dengan peristiwa yang pernah menimpa umat Islam Indonesia, yaitu antara pengikut Islam Jama'ah dengan mereka yang bukan pengikut Islam Jama'ah. Dalam hubungan ini, Maulana Muhammad 'Ali menggambarkan, bahwa kekerasan dan permusuhan yang dialamatkan kepada aliran yang baru lahir itu, tampaknya mereka tidak mendapat pembelaan dari siapa pun.
Mereka dikucilkan melalui fatwa-fatwa Ulama, perkawinan dengan mereka dipandang tidak sah dan barang-barang milik mereka, halal dirampas tanpa dapat dituntut di pengadilan. Akan tetapi, mereka tetap tabah dan berdiri tegar menghadapi ujian yang datang dan golongan Islam, Hindu, dan Kristen itu.
Golongan Hindu dipimpin oleh Pandit Lekhram, 'Abdullah Atim dari golongan Kristen, dan Maulana Muhammad Husain dari Batala mewakili golongan 'Ulama Hadis dari kelompok Hanafi, Sunni, dan Syi'ah.
Dalam menghadapi ujian ini Mirza menyatakan:
Lihat Juga :