Arti Ainul Yaqin dan Haqqul Yaqin beserta Penjelasannya
Jum'at, 13 Desember 2024 - 11:36 WIB
loading...
A
A
A
Penjelasan tersebut mencontohkan bahwa orang pada derajat haqqul yaqin memiliki keyakinan yang pasti tidak tergoyahkan oleh apa pun yang terjadi. Sebab, keyakinan itu sudah pernah dirasakan secara langsung hingga merasuki kalbu.
Sebagai contoh, orang dengan haqqul yaqin telah menjiwai ilmu dan amalan-amalannya, sehingga ketika ia terpeleset dalam perbuatan maksiat, seakan-akan ia langsung bisa merasakan siksanya. Begitu pula ketika berbuat taat, seakan-akan bisa langsung merasakan pahalanya.
Pada tingkatan tertentu, seorang mukmin mungkin bisa mendapatkan haqqul yaqin dengan merasakan akibat iman yang berkaitan dengan hati dan amalnya. Jika hatinya dapat merasakan keyakinan ini, maka ia bisa disebut telah mengalami haqqul yaqin.
Namun, untuk perkara-perkara akhirat seperti surga dan neraka, hari kiamat, melihat Allah dengan mata kepala sendiri, serta mendengar kalam Allah secara langsung, maka seorang mukmin tidak bisa mencapai tahap haqqul yaqin.
Hal ini karena haqqul yaqin bagi orang mukmin diyakini hanya akan bisa dirasakan ketika tiba saatnya kematian.
Sebagaimana firman Allah dalam Al Quran:
"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal kematian)." (QS. Al-Hijr: 99)
Menurut At-Tahanuwi, ayat di atas menerangkan bahwa kematian merupakan bagian dari haqqul yaqin, di mana orang mukmin benar-benar meyakini Allah tanpa ada sedikit pun keraguan setelah menghadapi kematian dan merasakan akibat dari perbuatan amalnya selama di dunia.
Baca juga: 5 Tingkatan Iman dalam Islam, Nomor Terakhir Paling Istimewa di Sisi Allah
Wallahu A'lam
Sebagai contoh, orang dengan haqqul yaqin telah menjiwai ilmu dan amalan-amalannya, sehingga ketika ia terpeleset dalam perbuatan maksiat, seakan-akan ia langsung bisa merasakan siksanya. Begitu pula ketika berbuat taat, seakan-akan bisa langsung merasakan pahalanya.
Pada tingkatan tertentu, seorang mukmin mungkin bisa mendapatkan haqqul yaqin dengan merasakan akibat iman yang berkaitan dengan hati dan amalnya. Jika hatinya dapat merasakan keyakinan ini, maka ia bisa disebut telah mengalami haqqul yaqin.
Namun, untuk perkara-perkara akhirat seperti surga dan neraka, hari kiamat, melihat Allah dengan mata kepala sendiri, serta mendengar kalam Allah secara langsung, maka seorang mukmin tidak bisa mencapai tahap haqqul yaqin.
Hal ini karena haqqul yaqin bagi orang mukmin diyakini hanya akan bisa dirasakan ketika tiba saatnya kematian.
Sebagaimana firman Allah dalam Al Quran:
وَاعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتّٰى يَاۡتِيَكَ الۡيَـقِيۡنُ
"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal kematian)." (QS. Al-Hijr: 99)
Menurut At-Tahanuwi, ayat di atas menerangkan bahwa kematian merupakan bagian dari haqqul yaqin, di mana orang mukmin benar-benar meyakini Allah tanpa ada sedikit pun keraguan setelah menghadapi kematian dan merasakan akibat dari perbuatan amalnya selama di dunia.
Baca juga: 5 Tingkatan Iman dalam Islam, Nomor Terakhir Paling Istimewa di Sisi Allah
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :