Lisan yang Basah karena Zikir, Salah Satu Ibadah yang Dicintai Allah Ta'ala
Senin, 16 Desember 2024 - 18:56 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Zikir Laa Ilaa ha Illallah, Bacaan Zikir Paling Utama
Jika benar pengarahan dan ikhlas kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam hal itu maka ia lebih sempurna.
Kedua, zikir hati di sisi perintah dan larangan, maka ia melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang, karena mengharapkan pahala dan takut terhadap siksa-Nya.
Adapun zikir anggota tubuh, yaitu ia tenggelam dalam taat, dan dari itulah salat dinamakan zikir. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah (QS. al-Jum’at:9)
Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (QS. al-Ahzab:41)
Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh hamba-hamba-Nya agar berzikir dan bersyukur kepada-Nya, mempekerjakan lisannya dalam setiap kondisi mereka dengan tasbih, tahlil, tahmid dan takbir.
Menurut Mujahid, inilah bacaan-bacaan yang diucapkan orang yang bersuci, berhadats dan junub, dan ia berkata: Tiadalah seseorang banyak berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala sehingga ia berzikir sambil berdiri, duduk dan berbaring.
Baca juga: Zikir Ya Hayyu Ya Qayyum: Bacaan Zikir dan Cara Mengamalkannya
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menyatakan sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mewajibkan kepada hamba-Nya satu kewajiban kecuali menjadikan baginya batasan yang diketahui, kemudian ia memaafkan pelakunya di saat tidak bisa melakukan selain zikir. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menjadikan baginya batasan akhirnya dan tidak memaafkan seseorang dalam meninggalkannya kecuali yang terpaksa meninggalkannya.
Allah Ta’ala berfirman:
Jika benar pengarahan dan ikhlas kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam hal itu maka ia lebih sempurna.
Kedua, zikir hati di sisi perintah dan larangan, maka ia melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang, karena mengharapkan pahala dan takut terhadap siksa-Nya.
Adapun zikir anggota tubuh, yaitu ia tenggelam dalam taat, dan dari itulah salat dinamakan zikir. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
قال الله تعالى: ﴿ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ
Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah (QS. al-Jum’at:9)
قال تعالى: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (QS. al-Ahzab:41)
Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh hamba-hamba-Nya agar berzikir dan bersyukur kepada-Nya, mempekerjakan lisannya dalam setiap kondisi mereka dengan tasbih, tahlil, tahmid dan takbir.
Menurut Mujahid, inilah bacaan-bacaan yang diucapkan orang yang bersuci, berhadats dan junub, dan ia berkata: Tiadalah seseorang banyak berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala sehingga ia berzikir sambil berdiri, duduk dan berbaring.
Baca juga: Zikir Ya Hayyu Ya Qayyum: Bacaan Zikir dan Cara Mengamalkannya
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menyatakan sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mewajibkan kepada hamba-Nya satu kewajiban kecuali menjadikan baginya batasan yang diketahui, kemudian ia memaafkan pelakunya di saat tidak bisa melakukan selain zikir. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menjadikan baginya batasan akhirnya dan tidak memaafkan seseorang dalam meninggalkannya kecuali yang terpaksa meninggalkannya.
Allah Ta’ala berfirman:
قال تعالى :﴿ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ
Lihat Juga :