Kisah Preman Pasar Ukaz Umar bin Khattab Masuk Islam
Jum'at, 20 Desember 2024 - 18:36 WIB
loading...
A
A
A
Tak lama kemudian matahari pun mulai bergeser ke tempat peraduannya. Orang ramai pun sudah mulai pergi, masing-masing kembali ke tempatnya.
Baca juga: Prestasi Umar bin Khattab Selama Menjadi Khalifah
Umar berjalan terus masuk ke dalam pasar diikuti teman-teman pengagumnya, dan dibalas Umar dengan senyum, senyum yang jarang sekali mereka lihat memalut wajah laki-laki itu.
Senyum demikian tidak hanya untuk teman-temannya. Ketika ia lalu di depan orang banyak dilihatnya mereka juga memandang bangga kepadanya; gadis-gadis pun saling berebut ingin mendapat kesempatan kalau-kalau tertangkap pandangan matanya atau akan jatuh cinta melihat paras yang elok. Hatinya merasa lega dan semua ini terpantul dalam senyumnya itu.
Begitu malam tiba diajaknya teman-temannya singgah di tempat hiburan yang terdapat di sisi pasar. Di belakang pasar itu membentang padang Sahara sejauh mata memandang.
Umar mencari tempat terdekat ke Sahara. Setelah mengucapkan selamat malam kepada orang-orang yang dikenalnya saat ia lalu di depan mereka, mereka juga membalas salamnya disertai rasa kagum dan bangga.
Seorang gadis pelayan warung bertubuh ramping melangkah gontai dengan pandangan mata dan senyum merekah di bibir memperlihatkan seuntai giginya yang manis, yang hanya tertuju kepada pemuda yang telah berjaya itu.
Dalam percakapannya dengan gadis itu Umar memperlihatkan sikap begitu lembut, yang sejak pasar ada tak pernah terlihat demikian. Tak lama setelah itu ia kembali datang lagi membawa khamar (minuman keras) yang sudah cukup matang untuk para pelanggan yang setia, yang selama pekan pasar setiap malam selalu datang ke warung itu.
Baca juga: Pesan Sholat Umar bin Khattab Menjelang Izrail Menjemputnya
Di tengah-tengah teman-temannya Umar paling banyak minum dibandingkan mereka. Sampai jauh malam pemuda-pemuda masih asyik minum-minum dan bergadang, hanyut mengobrol, dari soal yang bersungguh-sungguh sampai ke soal remeh, dari soal mencumbu perempuan sampai ke soal menunggang kuda, dari cerita-cerita petualangan sampai ke soal silsilah.
Pengetahuan Umar dalam soal ini memang cukup banyak, ditambah lagi dengan minuman khamar dan kemenangannya bertarung melawan pemuda pedalaman tadi lidahnya makin lancar.
Umar adalah pemuda yang sangat fanatik terhadap agama nenek moyangnya. Ia sangat menentang dakwah Nabi Muhammad SAW. Lalu bagaimana asal mula Umar bin Khattab masuk Islam?
Berikut ini penuturan Umar:
Saya memang jauh dari Islam. Saya pecandu minuman keras di zaman jahiliah, saya sangat menyukainya dan saya menjadi peminum. Kami mempunyai tempat sendiri tempat kami berkumpul dengan pemuka-pemuka Quraisy.
Suatu malam saya keluar akan menemui teman-teman duduk itu. Tetapi tak seorang pun yang ada di tempat itu. Dalam hati saya berkata: Sebaiknya saya mendatangi si polan, pedagang khamar itu.
Dia di Makkah berdagang khamar; kalau-kalau di tempat itu ada khamar, saya ingin minum. Saya pun pergi ke sana. Tetapi tak ada orang.
Dalam hati saya berkata lagi: Sebaiknya saya ke Kakbah, berkeliling tujuh kali atau tujuh puluh kali. Maka saya pergi ke Masjid akan bertawaf di Kakbah.
Akan tetapi ternyata di sana ada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam sedang salat. Ketika itu jika ia salat menghadap ke Syam, dan Kakbah berada di antara dia dengan Syam, tempat salatnya di antara dua sudut hajar aswad dengan sudut Yamani.
Baca juga: Kisah Umar Bin Khattab dan Unta yang Disewanya
Ketika kulihat kataku: Sungguh, saya sangat mengharap malam ini dapat menguping Muhammad sampai saya dapat mendengar apa yang dikatakannya.
Saya khawatir dia akan terkejut kalau saya dekati. Maka saya datang dari arah Hijr. Saya masuk ke balik kain Kakbah; saya berjalan perlahan hingga saya berdiri di depannya berhadap-hadapan; antara saya dengan dia hanya dibatasi kain Kakbah, sementara Rasulullah SAW sedang salat dengan membaca Qur'an. Setelah saya dengar Qur'an itu dibacanya, hati saya rasa tersentuh.
Saya menangis; Islam sudah masuk ke dalam hati saya. Sementara saya masih tegak berdiri menunggu sampai Rasulullah SAW selesai salat.
Kemudian ia pergi pulang menuju rumahnya. Saya ikuti dia, hingga sudah dekat ke rumahnya saya dapat menyusulnya. Mendengar suara gerak-gerik saya ia sudah mengenal saya dan dikiranya saya menyusul hendak menyakitinya.
Ia menghardikku seraya katanya: "Ibn Khattab, apa maksud kedatangan Anda?"
Saya menjawab: "Kedatangan saya hendak beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya serta kepada segala yang datang dari Allah."
Setelah menyatakan alhamdulillah ia berkata: "Umar, Allah telah memberi petunjuk kepada Anda."
Kemudian ia mengusap dada saya dan mendoakan saya agar tetap tabah. Setelah itu saya pun pergi meninggalkan Rasulullah sebagai orang yang sudah beriman kepada agamanya."
Baca juga: Perubahan Tarawih di Masa Khalifah Umar bin Khattab
Baca juga: Prestasi Umar bin Khattab Selama Menjadi Khalifah
Umar berjalan terus masuk ke dalam pasar diikuti teman-teman pengagumnya, dan dibalas Umar dengan senyum, senyum yang jarang sekali mereka lihat memalut wajah laki-laki itu.
Senyum demikian tidak hanya untuk teman-temannya. Ketika ia lalu di depan orang banyak dilihatnya mereka juga memandang bangga kepadanya; gadis-gadis pun saling berebut ingin mendapat kesempatan kalau-kalau tertangkap pandangan matanya atau akan jatuh cinta melihat paras yang elok. Hatinya merasa lega dan semua ini terpantul dalam senyumnya itu.
Begitu malam tiba diajaknya teman-temannya singgah di tempat hiburan yang terdapat di sisi pasar. Di belakang pasar itu membentang padang Sahara sejauh mata memandang.
Umar mencari tempat terdekat ke Sahara. Setelah mengucapkan selamat malam kepada orang-orang yang dikenalnya saat ia lalu di depan mereka, mereka juga membalas salamnya disertai rasa kagum dan bangga.
Seorang gadis pelayan warung bertubuh ramping melangkah gontai dengan pandangan mata dan senyum merekah di bibir memperlihatkan seuntai giginya yang manis, yang hanya tertuju kepada pemuda yang telah berjaya itu.
Dalam percakapannya dengan gadis itu Umar memperlihatkan sikap begitu lembut, yang sejak pasar ada tak pernah terlihat demikian. Tak lama setelah itu ia kembali datang lagi membawa khamar (minuman keras) yang sudah cukup matang untuk para pelanggan yang setia, yang selama pekan pasar setiap malam selalu datang ke warung itu.
Baca juga: Pesan Sholat Umar bin Khattab Menjelang Izrail Menjemputnya
Di tengah-tengah teman-temannya Umar paling banyak minum dibandingkan mereka. Sampai jauh malam pemuda-pemuda masih asyik minum-minum dan bergadang, hanyut mengobrol, dari soal yang bersungguh-sungguh sampai ke soal remeh, dari soal mencumbu perempuan sampai ke soal menunggang kuda, dari cerita-cerita petualangan sampai ke soal silsilah.
Pengetahuan Umar dalam soal ini memang cukup banyak, ditambah lagi dengan minuman khamar dan kemenangannya bertarung melawan pemuda pedalaman tadi lidahnya makin lancar.
Umar adalah pemuda yang sangat fanatik terhadap agama nenek moyangnya. Ia sangat menentang dakwah Nabi Muhammad SAW. Lalu bagaimana asal mula Umar bin Khattab masuk Islam?
Berikut ini penuturan Umar:
Saya memang jauh dari Islam. Saya pecandu minuman keras di zaman jahiliah, saya sangat menyukainya dan saya menjadi peminum. Kami mempunyai tempat sendiri tempat kami berkumpul dengan pemuka-pemuka Quraisy.
Suatu malam saya keluar akan menemui teman-teman duduk itu. Tetapi tak seorang pun yang ada di tempat itu. Dalam hati saya berkata: Sebaiknya saya mendatangi si polan, pedagang khamar itu.
Dia di Makkah berdagang khamar; kalau-kalau di tempat itu ada khamar, saya ingin minum. Saya pun pergi ke sana. Tetapi tak ada orang.
Dalam hati saya berkata lagi: Sebaiknya saya ke Kakbah, berkeliling tujuh kali atau tujuh puluh kali. Maka saya pergi ke Masjid akan bertawaf di Kakbah.
Akan tetapi ternyata di sana ada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam sedang salat. Ketika itu jika ia salat menghadap ke Syam, dan Kakbah berada di antara dia dengan Syam, tempat salatnya di antara dua sudut hajar aswad dengan sudut Yamani.
Baca juga: Kisah Umar Bin Khattab dan Unta yang Disewanya
Ketika kulihat kataku: Sungguh, saya sangat mengharap malam ini dapat menguping Muhammad sampai saya dapat mendengar apa yang dikatakannya.
Saya khawatir dia akan terkejut kalau saya dekati. Maka saya datang dari arah Hijr. Saya masuk ke balik kain Kakbah; saya berjalan perlahan hingga saya berdiri di depannya berhadap-hadapan; antara saya dengan dia hanya dibatasi kain Kakbah, sementara Rasulullah SAW sedang salat dengan membaca Qur'an. Setelah saya dengar Qur'an itu dibacanya, hati saya rasa tersentuh.
Saya menangis; Islam sudah masuk ke dalam hati saya. Sementara saya masih tegak berdiri menunggu sampai Rasulullah SAW selesai salat.
Kemudian ia pergi pulang menuju rumahnya. Saya ikuti dia, hingga sudah dekat ke rumahnya saya dapat menyusulnya. Mendengar suara gerak-gerik saya ia sudah mengenal saya dan dikiranya saya menyusul hendak menyakitinya.
Ia menghardikku seraya katanya: "Ibn Khattab, apa maksud kedatangan Anda?"
Saya menjawab: "Kedatangan saya hendak beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya serta kepada segala yang datang dari Allah."
Setelah menyatakan alhamdulillah ia berkata: "Umar, Allah telah memberi petunjuk kepada Anda."
Kemudian ia mengusap dada saya dan mendoakan saya agar tetap tabah. Setelah itu saya pun pergi meninggalkan Rasulullah sebagai orang yang sudah beriman kepada agamanya."
Baca juga: Perubahan Tarawih di Masa Khalifah Umar bin Khattab
Lihat Juga :