Berikut Bacaan Surat Tiap Rakaat Pada Salat Witir
Minggu, 03 Mei 2020 - 16:22 WIB
loading...
A
A
A
Perbedaan Pendapat
Ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah sepakat bahwa yang disunnahkan dibaca pada dua rakaat awal salat witir adalah Surat al-A’la (rakaat pertama) dan al-Kafirun (rakaat kedua). Sedangkan untuk satu rakaat akhir, terdapat ikhtilaf (perbedaan pendapat).
Menurut Syafi’iyyah, yang dibaca adalah Surat al-Ikhlash dan al-Mu’awwidzatain (al-Falaq dan an-Nas), sementara menurut Hanabilah cukup Surat al-Ikhlash, tanpa al-Mu’awwidzatain.
Dasar yang dipakai kalangan Syafi’iyyah adalah hadis riwayat an-Nasai dan Ibnu Majah, ketika Sayyidah Aisyah ditanya, surat apa yang dibaca Nabi di dalam shalat witir, beliau menjawab, rakaat pertama surat al-A’la, rakaat kedua surat al-Kafirun, rakaat ketiga al-Ikhlash dan al-Mu’awwidzatain.
Syekh Zainuddin al-Malibari berkata: “Dan sunnah bagi orang yang berwitir tiga rakaat, membaca surat Sabbihis di rakaat pertama, surat al-Kafirun di rakaat kedua, surat al-Ikhlas dan al-Mu’awwidzatain di rakaat ketiga, karena mengikuti Nabi.” (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 290).
Ulama Hanabilah berargumen dengan hadis riwayat Ubay bin Ka’ab bahwa Nabi membaca di dalam salat witir surat al-A’la, al-Kafirun dan al-Ikhlash, tanpa menyebutkan al-Mu’awwidzatain.
Syekh Ibnu Quddamah menjelaskan: “Fasal, disunnahkan membaca di beberapa rakaat witir yang tiga, di rakaat pertama membaca surat Sabbihis, rakaat kedua qul ya ayyuhal kafirun dan rakaat ketiga qul huwa Allahu Ahad, ini adalah pendapatnya al-Tsauri, Ishaq dan para pemilik pendapat (Hanafiyyah).
Imam al-Syafii berkata, di rakaat ketiga membaca qul huwa Allahu Ahad dan al-Muawwidzatain, ini adalah ucapannya Imam Malik dalam kasus rakaat ganjil. Sedangkan untuk rakaat genap, Imam Malik berkata, tidak ada hadits yang diketahui menerangkan hal tersebut.”
Ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah sepakat bahwa yang disunnahkan dibaca pada dua rakaat awal salat witir adalah Surat al-A’la (rakaat pertama) dan al-Kafirun (rakaat kedua). Sedangkan untuk satu rakaat akhir, terdapat ikhtilaf (perbedaan pendapat).
Menurut Syafi’iyyah, yang dibaca adalah Surat al-Ikhlash dan al-Mu’awwidzatain (al-Falaq dan an-Nas), sementara menurut Hanabilah cukup Surat al-Ikhlash, tanpa al-Mu’awwidzatain.
Dasar yang dipakai kalangan Syafi’iyyah adalah hadis riwayat an-Nasai dan Ibnu Majah, ketika Sayyidah Aisyah ditanya, surat apa yang dibaca Nabi di dalam shalat witir, beliau menjawab, rakaat pertama surat al-A’la, rakaat kedua surat al-Kafirun, rakaat ketiga al-Ikhlash dan al-Mu’awwidzatain.
Syekh Zainuddin al-Malibari berkata: “Dan sunnah bagi orang yang berwitir tiga rakaat, membaca surat Sabbihis di rakaat pertama, surat al-Kafirun di rakaat kedua, surat al-Ikhlas dan al-Mu’awwidzatain di rakaat ketiga, karena mengikuti Nabi.” (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 290).
Ulama Hanabilah berargumen dengan hadis riwayat Ubay bin Ka’ab bahwa Nabi membaca di dalam salat witir surat al-A’la, al-Kafirun dan al-Ikhlash, tanpa menyebutkan al-Mu’awwidzatain.
Syekh Ibnu Quddamah menjelaskan: “Fasal, disunnahkan membaca di beberapa rakaat witir yang tiga, di rakaat pertama membaca surat Sabbihis, rakaat kedua qul ya ayyuhal kafirun dan rakaat ketiga qul huwa Allahu Ahad, ini adalah pendapatnya al-Tsauri, Ishaq dan para pemilik pendapat (Hanafiyyah).
Imam al-Syafii berkata, di rakaat ketiga membaca qul huwa Allahu Ahad dan al-Muawwidzatain, ini adalah ucapannya Imam Malik dalam kasus rakaat ganjil. Sedangkan untuk rakaat genap, Imam Malik berkata, tidak ada hadits yang diketahui menerangkan hal tersebut.”
(mhy)
Lihat Juga :