Dunia Sufi: Guru Palsu Bisa Jadi Tampak Seperti Asli
Jum'at, 04 September 2020 - 08:40 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
SETIAP orang, ketika mencapai jenjang tertentu karena kemampuan yang semata-mata bersifat personal, mengira bahwa ia bisa menemukan jalan menuju pencerahan melalui dirinya sendiri. (Baca juga: Jalaluddin Rumi dan Asal-Usul Tarekat Darwis Berputar)
Menurut Idries Shah dalam The Sufis , anggapan ini ditolak oleh para Sufi, sebab mereka mempertanyakan bagaimana seseorang bisa menemukan sesuatu sementara ia tidak tahu apa sebenarnya sesuatu tersebut. "Setiap orang menjadi pencari emas ," ucap Maulana Jalaluddin Rumi , "tetapi orang awam tidak mengetahuinya ketika ia melihatnya. Jika Anda tidak bisa mengenalinya, bergabunglah dengan orang bijak." (Baca juga: Jalaluddin Rumi, Raksasa Afghanistan yang Mempengaruhi Barat )
Orang awam, karena mengira ia berada di jalan pencerahan, seringkali hanya melihat pantulannya. Sinar mungkin bisa dipantulkan ke dinding; dinding tersebut merupakan tempat bagi sinar. "Jangan tempelkan dirimu ke batu-bata dari dinding itu, tetapi carilah (cahaya) asli yang abadi!" (Baca juga: Fabel Jalaluddin Rumi: Burung India )
"Air membutuhkan suatu perantara, sebuah tungku, antara tungku dan api itulah air dipanaskan dengan benar."
Bagaimana cara seorang Salik menemukan tugasnya dalam mencari jalan yang benar?
Pertama, ia tidak boleh mengabaikan kerja dan harus tetap "hidup" di dunia. "Jangan menyerah dan berhenti kerja!" perintah Rumi. Sungguh, "Khazanah yang engkau cari berasal darinya."
Baca juga: PKS Ingatkan Pemerintah Tak Asal Gunakan Vaksin Corona
Ini, menurut Idries Shah, merupakan satu alasan mengapa semua Sufi harus memiliki sebuah kegiatan konstruktif Meskipun demikian, kerja bukan saja kerja biasa atau bahkan kreativitas yang bisa diterima secara sosial. Ia meliputi kerja-diri; alkimia menjadikan seseorang berkepribadian sempurna: "Wool di tangan seorang yang berpengetahuan, menjadi permadani. Tanah menjadi istana. Kehadiran manusia spiritual menciptakan perubahan serupa."
Pada awalnya seorang yang bijak merupakan pembimbing seorang murid. Segera setelah memungkinkan, guru ini melepaskan si murid, sebagai orang yang memperoleh hikmahnya sendiri, dan kemudian ia melanjutkan kerja-dirinya.
Baca juga: Aplikasi Belajar Bahasa Inggris Neo Bisa Diakses Kartu Prakerja
Menurut Idries Shah dalam The Sufis , anggapan ini ditolak oleh para Sufi, sebab mereka mempertanyakan bagaimana seseorang bisa menemukan sesuatu sementara ia tidak tahu apa sebenarnya sesuatu tersebut. "Setiap orang menjadi pencari emas ," ucap Maulana Jalaluddin Rumi , "tetapi orang awam tidak mengetahuinya ketika ia melihatnya. Jika Anda tidak bisa mengenalinya, bergabunglah dengan orang bijak." (Baca juga: Jalaluddin Rumi, Raksasa Afghanistan yang Mempengaruhi Barat )
Orang awam, karena mengira ia berada di jalan pencerahan, seringkali hanya melihat pantulannya. Sinar mungkin bisa dipantulkan ke dinding; dinding tersebut merupakan tempat bagi sinar. "Jangan tempelkan dirimu ke batu-bata dari dinding itu, tetapi carilah (cahaya) asli yang abadi!" (Baca juga: Fabel Jalaluddin Rumi: Burung India )
"Air membutuhkan suatu perantara, sebuah tungku, antara tungku dan api itulah air dipanaskan dengan benar."
Bagaimana cara seorang Salik menemukan tugasnya dalam mencari jalan yang benar?
Pertama, ia tidak boleh mengabaikan kerja dan harus tetap "hidup" di dunia. "Jangan menyerah dan berhenti kerja!" perintah Rumi. Sungguh, "Khazanah yang engkau cari berasal darinya."
Baca juga: PKS Ingatkan Pemerintah Tak Asal Gunakan Vaksin Corona
Ini, menurut Idries Shah, merupakan satu alasan mengapa semua Sufi harus memiliki sebuah kegiatan konstruktif Meskipun demikian, kerja bukan saja kerja biasa atau bahkan kreativitas yang bisa diterima secara sosial. Ia meliputi kerja-diri; alkimia menjadikan seseorang berkepribadian sempurna: "Wool di tangan seorang yang berpengetahuan, menjadi permadani. Tanah menjadi istana. Kehadiran manusia spiritual menciptakan perubahan serupa."
Pada awalnya seorang yang bijak merupakan pembimbing seorang murid. Segera setelah memungkinkan, guru ini melepaskan si murid, sebagai orang yang memperoleh hikmahnya sendiri, dan kemudian ia melanjutkan kerja-dirinya.
Baca juga: Aplikasi Belajar Bahasa Inggris Neo Bisa Diakses Kartu Prakerja
Lihat Juga :