Kakbah dan Tempat-tempat Suci di Makkah
Selasa, 08 Juli 2025 - 10:37 WIB
loading...
Ketika menunaikan ibadah haji, tempat yang paling dinanti di Tanah Suci adalah Kakbah (Baitullah) di Kota Makkah. Foto istimewa
A
A
A
Ketika menunaikan ibadah haji , tempat yang paling dinanti di Tanah Suci adalah Kakbah . Apa dan bagaimana Kakbah ini? Serta tempat-tempat suci mana saja yang ada dalam proses pelaksanaan ibadah haji akan diulas dalam artikel ini.
"Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia adalah Baitullah yang ada di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah) niscaya akan aman. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." [QS. Âli `Imrân: 96-97];
Kemudian firman Allah:
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), 'Wahai Tuhan kami, terimalah (amal) kami. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui'." [QS. Al-Baqarah: 127]
Seperti dilansir Islamweb, Imam Ibnu Katsîr dalam tafsirnya menjelaskan, "Allah—Subhânahu wata`âlâ—menceritakan tentang hamba, rasul, pilihan, sekaligus kekasih-Nya, imam para pemeluk Agama tauhid dan bapak para nabi, Ibrahim—` bahwa ia telah membangun rumah tua (Baitullah) yang merupakan mesjid pertama yang dibangun untuk manusia secara umum, di mana mereka bisa menyembah Allah di sana. Allah juga telah menunjukkan tempat Baitullah itu kepada Nabi Ibrahim alaihissalam.
Yakni, membimbingnya ke tempat yang disediakan untuk Baitullah dan telah ditentukan untuk itu sejak Allah menciptakan langit dan bumi, sebagaimana jelas dinyatakan di dalam kitab Shahîh Al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, 'Bahwa negeri ini—yakni Makkah—Allah sucikan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Karenanya, negeri ini menjadi suci dengan kesucian Allah sampai hari Kiamat." Tidak ada disebutkan dalam hadits yang shahîh dari Nabi SAW—bahwa Baitullah sudah dibangun sebelum (masa) Nabi Ibrahim.
Sementara dalil orang yang mengatakan itu dengan berpegang pada firman Allah (yang artinya): 'Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah." [QS. Al-Hajj: 26], tidaklah kuat dan tidak jelas. Karena maksudnya adalah tempat Baitullah yang sudah diperkirakan dalam ilmu Allah, ditetapkan dalam kuasa-Nya, serta diagungkan tempatnya oleh para nabi sejak zaman Nabi Adam sampai zaman Nabi Ibrahim." [Al-Bidâyah wan Nihâyah, (1/53)]
Kemudian Ibnu Katsir menetapkan apa yang sudah menjadi ketetapan para ulama sebelumnya, bahwa kisah-kisah Israiliyat (riwayat-riwayat dari Ahlul Kitab) tidak bisa dibenarkan, tidak pula didustakan, dan juga tidak bisa dijadikan hujjah dengan sendirinya.
Nabi Ibrahim Alahissalam membangun masjid paling mulia di tempat yang paling mulia, di lembah tanpa tanaman. Ia lalu mendoakan keberkahan untuk keluarganya, agar mereka dikarunia rezeki buah-buahan, meskipun berada di tempat tandus dengan sedikit air sedikit, tanpa pepohonan, tanpa timbuh-tumbuhan, dan tanpa buah-buahan. Ia berdoa pula agar Allah menjadikan tempat itu sebagai lokasi yang suci lagi aman. Selain itu, Inrahim juga meminta kepada Allah agar di tempat itu Allah mengutus rasul dari kalangan mereka sendiri, yakni dari ras mereka dan dengan bahasa mereka.
1. Kakbah
Allah SWT berfirman :"Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia adalah Baitullah yang ada di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah) niscaya akan aman. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." [QS. Âli `Imrân: 96-97];
Kemudian firman Allah:
وَاِذۡ يَرۡفَعُ اِبۡرٰهٖمُ الۡقَوَاعِدَ مِنَ الۡبَيۡتِ وَاِسۡمٰعِيۡلُؕ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّا ؕ اِنَّكَ اَنۡتَ السَّمِيۡعُ الۡعَلِيۡمُ
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), 'Wahai Tuhan kami, terimalah (amal) kami. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui'." [QS. Al-Baqarah: 127]
Seperti dilansir Islamweb, Imam Ibnu Katsîr dalam tafsirnya menjelaskan, "Allah—Subhânahu wata`âlâ—menceritakan tentang hamba, rasul, pilihan, sekaligus kekasih-Nya, imam para pemeluk Agama tauhid dan bapak para nabi, Ibrahim—` bahwa ia telah membangun rumah tua (Baitullah) yang merupakan mesjid pertama yang dibangun untuk manusia secara umum, di mana mereka bisa menyembah Allah di sana. Allah juga telah menunjukkan tempat Baitullah itu kepada Nabi Ibrahim alaihissalam.
Yakni, membimbingnya ke tempat yang disediakan untuk Baitullah dan telah ditentukan untuk itu sejak Allah menciptakan langit dan bumi, sebagaimana jelas dinyatakan di dalam kitab Shahîh Al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, 'Bahwa negeri ini—yakni Makkah—Allah sucikan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Karenanya, negeri ini menjadi suci dengan kesucian Allah sampai hari Kiamat." Tidak ada disebutkan dalam hadits yang shahîh dari Nabi SAW—bahwa Baitullah sudah dibangun sebelum (masa) Nabi Ibrahim.
Sementara dalil orang yang mengatakan itu dengan berpegang pada firman Allah (yang artinya): 'Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah." [QS. Al-Hajj: 26], tidaklah kuat dan tidak jelas. Karena maksudnya adalah tempat Baitullah yang sudah diperkirakan dalam ilmu Allah, ditetapkan dalam kuasa-Nya, serta diagungkan tempatnya oleh para nabi sejak zaman Nabi Adam sampai zaman Nabi Ibrahim." [Al-Bidâyah wan Nihâyah, (1/53)]
Kemudian Ibnu Katsir menetapkan apa yang sudah menjadi ketetapan para ulama sebelumnya, bahwa kisah-kisah Israiliyat (riwayat-riwayat dari Ahlul Kitab) tidak bisa dibenarkan, tidak pula didustakan, dan juga tidak bisa dijadikan hujjah dengan sendirinya.
Nabi Ibrahim Alahissalam membangun masjid paling mulia di tempat yang paling mulia, di lembah tanpa tanaman. Ia lalu mendoakan keberkahan untuk keluarganya, agar mereka dikarunia rezeki buah-buahan, meskipun berada di tempat tandus dengan sedikit air sedikit, tanpa pepohonan, tanpa timbuh-tumbuhan, dan tanpa buah-buahan. Ia berdoa pula agar Allah menjadikan tempat itu sebagai lokasi yang suci lagi aman. Selain itu, Inrahim juga meminta kepada Allah agar di tempat itu Allah mengutus rasul dari kalangan mereka sendiri, yakni dari ras mereka dan dengan bahasa mereka.
Lihat Juga :