10 Keteladanan Nabi Ibrahim, Apa Saja?
Rabu, 21 Mei 2025 - 19:30 WIB
loading...
A
A
A
Kala itu, usia Ibrahim masih 16 tahun. Beliau sudah melakukan hal spektakuler, yakni menghancurkan patung-patung berhala yang ada di kampungnya.
Suatu malam menjelang hari raya yang dinantikan para penduduk Babilonia, Ibrahim muda secara diam-diam menghancurkan berhala yang ada di tempat persembahan dengan sebuah kapak. Setelah hancur, kapak itu diletakkannya di patung yang paling besar yang sengaja disisakan.
Keesokan paginya, Ibrahim dituduh sebagai pelaku perusakan itu. Dengan kecerdasannya, Nabi Ibrahim menjawab, “Bukan aku yang melakukannya, lihatlah kapak itu dipegang patung yang paling besar.”
Para pembesar mengatakan, tidak mungkin patung besar itu bisa menghancurkan patung lainnya karena ia tidak bisa berbuat sedikitpun. Di sinilah Ibrahim muda menimpali, jika memang tidak bisa berbuat sedikitpun, mengapa mereka memyembahnya.
Nabi Ibrahim melanjutkan pertanyaannya, “Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang menganiaya diri sendiri. Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu buat sendiri? Apakah berhala-berhala itu mendengar doa kalian? Dapatkah mereka memberi kebaikan kepadamu atau justru mudharat?”
Keberanian Nabi Ibrahim dalam melawan segala bentuk tiran, hingga akhirnya beliau menerima hukuman dibakar hidup-hidup dikisahkan Allah dalam Al-Quran surah Al-Anbiya [21]ayat 60-70.
Tindakan menghancurkan patung-patung berhala itu hanya berlaku pada zaman Nabi Ibrahim Alaihi salam. Adapun syariat Nabi Muhammad Shallallahu alahi wa salam, tindakan semacam itu tidak diperbolehkan, sebelum dilakukan dakwah secara maksimal. (lihat surah Al-Hajj [22]: ayat 40)
Tiba giliran Ibrahim Alaihi salam mendapat pertanyaan serupa dan beliau menjawab,”Allah”. Maka terjadilah adu argumen antara keduanya. Betapa kagetnya Namrud mendapat jawaban yang tak biasa. “Tuhanku yang menghidupkan dan mematikan,” kata Ibrahim.
Merasa dipermalukan, Namrud pun tidak mau kalah. Ia membantah argumentasi Ibrahim dan tetap bersikeras bahwa dirinya juga bisa menghidupkan makhluk atau mematikannya. Untuk membuktikan hal itu, Namrud kemudian mendatangkan dua orang tahanan. Satu tahanan dibunuh dan satunya lagi dibiarkan hidup.
Melihat jawaban Namrud, Ibrahim Alaihi salam mengutarakan argumentasi berikutnya tentang keberadaan Allah sebagai Tuhan semesta alam. Ibrahim menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mampu mendatangkan matahari dari ufuk timur lalu menenggelamkannya di belahan barat. “Bisakah engkau melakukan sebaliknya wahai Namrud?” tanya Ibrahim kepada Namrud.
Sang Diktator pun tak bisa berkutik dan kehabisan akal untuk kembali menyanggah pernyataan Ibrahim. Ia terdiam seribu bahasa. Merasa kalah, ia lantas memerintahkan pengawalnya untuk mengambil makanan yang telah diambil Nabi Ibrahim Alaihi salam.
Menurut Ibnu Katsir, Nabi Ibrahim Alaihi salam telah dianugerahi bimbingan sebelumnya, yaitu semenjak dia masih kecil. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengilhamkan kepadanya kebenaran dan hujjah untuk melawan kaumnya. Sedangkan menurut Quraish Shihab, Allah telah menganugerahkan kepada Nabi Ibrahim Alaihi salam hidayahNya yang sempurna sehingga beliau memperoleh kematangan daya pikir, kecerdasan serta kejernihan hati.
Sementara menurut tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah oleh Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, (professor fakultas Al-Quran Universitas Islam Madinah), bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi Nabi Ibrahim Alaihi salam argumen-argumen dan bukti-bukti yang dipakai untuk mendebat kaumnya, sehingga ia dapat mengalahkan mereka. Dan Allah telah memberinya ilmu, hikmah, dan keyakinan. Allah Maha Bijaksana dalam pengaturan-Nya.
Setelah kejadian pembakaran oleh Namrud, yakni pada 1922 SM, Ibrahim meninggalkan negerinya, Ur, Babilonia (sekarang wilayah Turki). Ia pergi dari negerinya menuju Kan’an (Palestina). Di sanalah Ibrahim kemudian menikah dengan Sarah. Wilayah Palestina yang ditempati oleh keluarga Ibrahim sekarang bernama Hebron (Al-Khalil).
Karena terjadi kekeringan yang panjang di wilayah Palestina, maka Ibrahim kemudian hijrah ke Mesir pada masa raja Ru`at (Hyksos). Ketika itu, Sarah dibawa ke Mesir dan raja tertarik kepadanya. Namun Allah menyelamatkannya dari kedzaliman raja Mesir.
Oleh raja Mesir, Ibrahim diberi hadiah yaitu Hajar. Lalu, Ibrahim, Sarah dan Hajar keluar dari Mesir kembali menuju ke Palestina dan menetap di sana.
Nabi Ibrahim kemudian menikahi Hajar dan dikarunia seorang putra laki-laki bernama Ismail. Ketika itu, Ibrahim berusia 86 tahun. Atas perintah Allah, Ibrahim bersama istrinya, Hajar dan anaknya, Ismail yang masih kecil, melakukan perjalanan dari Hebron ke Mekkah (berjarak ±1.500 km).
Setelahnya, Ibrahim beberapa kali melakukan perjalanan dari Palestina ke Mekkah untuk menemui anak dan istrinya.
Nabi Ibrahim dan kedua istrinya selaku orang tua, telah membuktikan bahwa mereka serius mendidik anak dan menjadikannya shaleh, beriman dan bertakwa. Ismail dan Ishaq menjadi sosok nabi dan rasul. Dari Ishaq lahir para nabi dan rasul keturunan Bani Israel (Ya’kub Alaihi salam). Demikian pula dengan Ismail sehingga Allah memilihjalur keturunannya terlahir rasul paling mulia, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa salam.
Suatu malam menjelang hari raya yang dinantikan para penduduk Babilonia, Ibrahim muda secara diam-diam menghancurkan berhala yang ada di tempat persembahan dengan sebuah kapak. Setelah hancur, kapak itu diletakkannya di patung yang paling besar yang sengaja disisakan.
Keesokan paginya, Ibrahim dituduh sebagai pelaku perusakan itu. Dengan kecerdasannya, Nabi Ibrahim menjawab, “Bukan aku yang melakukannya, lihatlah kapak itu dipegang patung yang paling besar.”
Para pembesar mengatakan, tidak mungkin patung besar itu bisa menghancurkan patung lainnya karena ia tidak bisa berbuat sedikitpun. Di sinilah Ibrahim muda menimpali, jika memang tidak bisa berbuat sedikitpun, mengapa mereka memyembahnya.
Nabi Ibrahim melanjutkan pertanyaannya, “Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang menganiaya diri sendiri. Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu buat sendiri? Apakah berhala-berhala itu mendengar doa kalian? Dapatkah mereka memberi kebaikan kepadamu atau justru mudharat?”
Keberanian Nabi Ibrahim dalam melawan segala bentuk tiran, hingga akhirnya beliau menerima hukuman dibakar hidup-hidup dikisahkan Allah dalam Al-Quran surah Al-Anbiya [21]ayat 60-70.
Tindakan menghancurkan patung-patung berhala itu hanya berlaku pada zaman Nabi Ibrahim Alaihi salam. Adapun syariat Nabi Muhammad Shallallahu alahi wa salam, tindakan semacam itu tidak diperbolehkan, sebelum dilakukan dakwah secara maksimal. (lihat surah Al-Hajj [22]: ayat 40)
5. Tajam dalam berargumentasi
Ketika menjelaskan surah al-Baqarah ayat 258, para ulama mengatakan, suatu hari, Nabi Ibrahim Alaihi salam datang menghadiri jamuan makan yang digelar Namrud. Para tamu undangan memilih berbagai menu yang terjamu di meja makan. Namrud bertanya pada tiap tamunya tentang siapakah tuhan mereka. Hampir tiap hadirin yang ia tanya menjawab, Namrud lah tuhan mereka.Tiba giliran Ibrahim Alaihi salam mendapat pertanyaan serupa dan beliau menjawab,”Allah”. Maka terjadilah adu argumen antara keduanya. Betapa kagetnya Namrud mendapat jawaban yang tak biasa. “Tuhanku yang menghidupkan dan mematikan,” kata Ibrahim.
Merasa dipermalukan, Namrud pun tidak mau kalah. Ia membantah argumentasi Ibrahim dan tetap bersikeras bahwa dirinya juga bisa menghidupkan makhluk atau mematikannya. Untuk membuktikan hal itu, Namrud kemudian mendatangkan dua orang tahanan. Satu tahanan dibunuh dan satunya lagi dibiarkan hidup.
Melihat jawaban Namrud, Ibrahim Alaihi salam mengutarakan argumentasi berikutnya tentang keberadaan Allah sebagai Tuhan semesta alam. Ibrahim menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mampu mendatangkan matahari dari ufuk timur lalu menenggelamkannya di belahan barat. “Bisakah engkau melakukan sebaliknya wahai Namrud?” tanya Ibrahim kepada Namrud.
Sang Diktator pun tak bisa berkutik dan kehabisan akal untuk kembali menyanggah pernyataan Ibrahim. Ia terdiam seribu bahasa. Merasa kalah, ia lantas memerintahkan pengawalnya untuk mengambil makanan yang telah diambil Nabi Ibrahim Alaihi salam.
Menurut Ibnu Katsir, Nabi Ibrahim Alaihi salam telah dianugerahi bimbingan sebelumnya, yaitu semenjak dia masih kecil. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengilhamkan kepadanya kebenaran dan hujjah untuk melawan kaumnya. Sedangkan menurut Quraish Shihab, Allah telah menganugerahkan kepada Nabi Ibrahim Alaihi salam hidayahNya yang sempurna sehingga beliau memperoleh kematangan daya pikir, kecerdasan serta kejernihan hati.
Sementara menurut tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah oleh Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, (professor fakultas Al-Quran Universitas Islam Madinah), bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi Nabi Ibrahim Alaihi salam argumen-argumen dan bukti-bukti yang dipakai untuk mendebat kaumnya, sehingga ia dapat mengalahkan mereka. Dan Allah telah memberinya ilmu, hikmah, dan keyakinan. Allah Maha Bijaksana dalam pengaturan-Nya.
6. Nabi yang paling panjang melakukan perjalanan hijrah dan dakwah
Imam Ath Thabari dalam kitabnya,Tarikh al Umam wa al Muluk mengisahkan perjalanan Nabi Ibrahim dalam hijrahnya menempuh jarak sekurangnya 1.500 kilometer dengan dipandu Malaikat Jibril.Setelah kejadian pembakaran oleh Namrud, yakni pada 1922 SM, Ibrahim meninggalkan negerinya, Ur, Babilonia (sekarang wilayah Turki). Ia pergi dari negerinya menuju Kan’an (Palestina). Di sanalah Ibrahim kemudian menikah dengan Sarah. Wilayah Palestina yang ditempati oleh keluarga Ibrahim sekarang bernama Hebron (Al-Khalil).
Karena terjadi kekeringan yang panjang di wilayah Palestina, maka Ibrahim kemudian hijrah ke Mesir pada masa raja Ru`at (Hyksos). Ketika itu, Sarah dibawa ke Mesir dan raja tertarik kepadanya. Namun Allah menyelamatkannya dari kedzaliman raja Mesir.
Oleh raja Mesir, Ibrahim diberi hadiah yaitu Hajar. Lalu, Ibrahim, Sarah dan Hajar keluar dari Mesir kembali menuju ke Palestina dan menetap di sana.
Nabi Ibrahim kemudian menikahi Hajar dan dikarunia seorang putra laki-laki bernama Ismail. Ketika itu, Ibrahim berusia 86 tahun. Atas perintah Allah, Ibrahim bersama istrinya, Hajar dan anaknya, Ismail yang masih kecil, melakukan perjalanan dari Hebron ke Mekkah (berjarak ±1.500 km).
Setelahnya, Ibrahim beberapa kali melakukan perjalanan dari Palestina ke Mekkah untuk menemui anak dan istrinya.
7. Sosok yang sangat peduli dengan keturunannya
Bagi Ibrahim, anak bukanlah sekadar pelanjut keturunan, namun sekaligus pewaris risalah tauhid. Sejarah membuktikan bahwa Ibrahim Alaihi salam berhasil menjadikan dan mengarahkan anaknya sebagai sarana meningkatkan takwa dan cinta kepada Allah.Dalam silsilah rasul, 19 dari 25 rasul adalah keturunan Nabi Ibrahim Alaihi salam.Nabi Ibrahim dan kedua istrinya selaku orang tua, telah membuktikan bahwa mereka serius mendidik anak dan menjadikannya shaleh, beriman dan bertakwa. Ismail dan Ishaq menjadi sosok nabi dan rasul. Dari Ishaq lahir para nabi dan rasul keturunan Bani Israel (Ya’kub Alaihi salam). Demikian pula dengan Ismail sehingga Allah memilihjalur keturunannya terlahir rasul paling mulia, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa salam.
Lihat Juga :