10 Keteladanan Nabi Ibrahim, Apa Saja?
Rabu, 21 Mei 2025 - 19:30 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Mukjizat Nabi Ibrahim dan Kisahnya yang Luar Biasa
Kesholehan Ishaq dan Ismail bukan diperoleh secara instan atau tiba-tiba. Kehebatan keduanya adalah buah dari pendidikan dan bimbingan orangtuanya, yaitu Nabi Ibrahim dan Hajar serta Sarah.
Doa Nabi Ibrahim untuk keturunannya diabadikan dalam Al-Quran:
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim [14]: 40)
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian….” (QS. Al-Baqarah [2]: 126).
Ada yang menarik dari ayat di atas, Nabi Ibrahim berdoa supaya keturunannya diberi rizki berupa buah-buahan. Pertanyaannya, mengapa tidak meminta gandum atau makanan pokok lainnya?. Prof. Quraisy Syihab menjelaskan, buah-buahan adalah simbol seseorang dapat memenuhi kebutuhan gizi yang cukup. Jika seseorang mampu membeli buah-buahan, secara otomatis makanan pokoknya sudah terpenuhi.
“Wahai Bapakku tersayang, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?” (QS. Maryam [19]: 42.
Mengutip buku berjudul“Kisah Bapak dan Anak dalam Al-Quran”oleh Adil Musthafa Abdul Halim, Nabi Ibrahim alaihi salam terus mengulangi kata-kata nasihat itu dengan cara yang lembut. Beliau tidak pernah mencap bapaknya sebagai orang yang bodoh lantaran menyembah berhala.
Nabi Ibrahim tak lantas marah ketika ayahanda menolak dakwahnya. Dengan kelembutan, Ibrahim berkata, “… aku akan memohon kepada Allah, agar Dia mau memberikan hidayah kepadamu, serta mau mengampuni dosa-dosamu, Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (QS. Maryam [19]: 47).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:
“Orang yang pertama kali memberi suguhan kepada tamu adalah Ibrahim.” [Ash-Shahîhah, 725].
Syaikh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Sesungguhnya memberi jamuan kepada tamu (dhiyâfah) termasuk sunnah (tradisi) Nabi Ibrahim yang Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan umatnya untuk mengikuti millah (ajaran) beliau. “
Baca juga: Simbol Ketakwaan Sejati Dicontohkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
Wallahu A'lam
Kesholehan Ishaq dan Ismail bukan diperoleh secara instan atau tiba-tiba. Kehebatan keduanya adalah buah dari pendidikan dan bimbingan orangtuanya, yaitu Nabi Ibrahim dan Hajar serta Sarah.
Doa Nabi Ibrahim untuk keturunannya diabadikan dalam Al-Quran:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (ابراهيم [١٤]: ٤٠)
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim [14]: 40)
8. Memikirkan kesejahteraan keturunannya
Nabi Ibrahim Alaihi salam juga mendoakan agar anak keturunannya dikaruniai rizki yang melimpah guna menopang ibadah mereka. Hal itu diabadikan dalam Al-Quran:وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ…. (البقرة [٢]: ١٢٦)
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian….” (QS. Al-Baqarah [2]: 126).
Ada yang menarik dari ayat di atas, Nabi Ibrahim berdoa supaya keturunannya diberi rizki berupa buah-buahan. Pertanyaannya, mengapa tidak meminta gandum atau makanan pokok lainnya?. Prof. Quraisy Syihab menjelaskan, buah-buahan adalah simbol seseorang dapat memenuhi kebutuhan gizi yang cukup. Jika seseorang mampu membeli buah-buahan, secara otomatis makanan pokoknya sudah terpenuhi.
9. Sangat lembut hatinya
Nabi Ibrahim alaihi salam adalah sosok yang begitu lembut hatinya lagi penyantun. Sifat lembutnya itu terwujud salah satunya dalam sikap dan caranya menyampaikan dakwah kepada ayahandanya Azar, seorang pembuat, penjual, sekaligus penyembah patung berhala.إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِى عَنكَ شَيْـًٔا (مريم [١٩]: ٤٢)
“Wahai Bapakku tersayang, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?” (QS. Maryam [19]: 42.
Mengutip buku berjudul“Kisah Bapak dan Anak dalam Al-Quran”oleh Adil Musthafa Abdul Halim, Nabi Ibrahim alaihi salam terus mengulangi kata-kata nasihat itu dengan cara yang lembut. Beliau tidak pernah mencap bapaknya sebagai orang yang bodoh lantaran menyembah berhala.
Nabi Ibrahim tak lantas marah ketika ayahanda menolak dakwahnya. Dengan kelembutan, Ibrahim berkata, “… aku akan memohon kepada Allah, agar Dia mau memberikan hidayah kepadamu, serta mau mengampuni dosa-dosamu, Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (QS. Maryam [19]: 47).
10. Sangat senang menerima tamu
Memberi jamuan kepada tamu, merupakan kebiasaan mulia yang sudah berkembang sejak sebelum risalah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa salam diturunkan. Orang yang pertama kali melakukan perbuatan yang mulia ini, ialah Nabi Ibrahim Alaihi salam.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:
كَانَ أَوَّلَ مَنْ ضَيَّفَ الضَيْفَ اِبْرَاهِيْمُ
“Orang yang pertama kali memberi suguhan kepada tamu adalah Ibrahim.” [Ash-Shahîhah, 725].
Syaikh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Sesungguhnya memberi jamuan kepada tamu (dhiyâfah) termasuk sunnah (tradisi) Nabi Ibrahim yang Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan umatnya untuk mengikuti millah (ajaran) beliau. “
Baca juga: Simbol Ketakwaan Sejati Dicontohkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :