9 Cara Menghindari Dosa Dusta dan Ghibah

loading...
9 Cara Menghindari Dosa Dusta dan Ghibah
Ustaz Rikza Maulan, Dai yang juga Dewan Dewan Pengawas Syariah Rumah Zakat. Foto/dok lazis amaliyah astra
Setiap manusia pasti pernah terjerumus dalam perbuatan maksiat. Kemasiatan yang paling mudah menjerumuskan seseorang adalah maksiat mata dan maksiat lisan. Dan di antara kemasiatan lisan adalah dusta dan ghibah. Padahal, kedua kemaksiatan ini (ghibah dan dusta) adalah kategori dosa-dosa besar.

(Baca Juga: Satgas: Lindungi Keluarga dari Ancaman Virus Corona)

Ustaz Rikza Maulan, Dai yang juga Dewan Dewan Pengawas Syariah Rumah Zakat menjelaskan, dusta adalah dosa besar yang disejajarkan dengan syirik dan durhaka pada orang tua. Sementara ghibah diumpamakan seperti memakan bangkai saudara kita sendiri yang telah mati. Atau seperti orang yang melakukan riba yang paling berat dan berbahaya. Betapa besarnya dosa jika setiap hari kita 'mengonsumsi' dusta dan ghibah.

Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap penyakit tentu ada obatnya. Demikian juga penyakit hati dan lisan, seperti dusta dan ghibah. Allah Ta'ala memberi berbagai jalan untuk manusia agar dapat mengobati dirinya dari penyakit-penyakit seperti ini. (Baca Juga: 3 Jenis Dusta yang Diperbolehkan Dalam Syariat, Apa Saja?)

Berikut cara agar bisa menghindari dusta dan ghibah sebagaimana disampaikan Ustaz Rikza Maulan:



1. Meningkatkan rasa 'muraqabatullah'’ yaitu sebuah rasa dimana kita senantiasa tahu bahwa Allah mengetahui segala tindak tanduk yang kita lakukan, baik ketika seorang diri maupun di saat bersama-sama. Baik ketika orang yang kita bicarakan ada di antara kita ataupun tidak ada. Allah pasti mengetahuinya.

2. Meningkatkan keyakinan kita bahwa setiap orang yang kita bicarakan, pasti akan dimintai pertanggung jawabannya dari Allah Ta'ala kelak. Dalam salah satu ayatnya, Allah berfirman: "Tidak ada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir."

3. Menahan emosi dan mencegah amarah. Karena keduanya merupakan faktor yang dapat membawa seseorang pada ghibah dan dusta. (Baca Juga: Apa Beda Ghibah dan Fitnah? Ini Penjelasan Habib Geys Assegaf)

4. Tabayyun (mengecek) terhadap informasi yang datang dari seseorang, sebelum membicarakannya pada orang lain. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."

5. Beramal dan berusaha untuk dapat menciptakan suasana yang 'Islami', di lingkungan kerja, rumah, dan sebagainya dengan membuat kesepakatan dan keteladanan untuk tidak membicarakan kejelekan orang lain, apalagi berbohong. Di samping itu juga keharusan adanya teguran, kepada orang yang secara sengaja atau tidak dalam membicarakan orang lain.



6. Jika kita merupakan orang yang menjadi objyek pembicaraan, kitapun harus menanggapinya dengan akhlak yang baik dan bijaksana. Kita mencek kembali, mengapa mereka membicarakan kita, siapa saksinya kemudian diselesaikan dengan baik.

7. Imbauan secara khusus kepada orang-orang yang menjadi panutan, baik dalam kantornya, masyarakatnya atau di mana saja, untuk menjauhi hal ini (ghibah dan dusta), supaya mereka yang berada di bawahnya dapat mencontoh. Karena apabila para panutan ini memberikan keteladanan yang buruk, maka para bawahannya pun akan mengikutinya.

8. Mengajak orang lain untuk menghindari diri dari penyakit ini dengan cara tidak membicarakan orang lain. Tidak mendengarkan jika ada orang yang membicarakan orang lain, memberikan teguran dan lain sebagainya.

9. Mengingat-ingat kembali tentang hukum dusta dan ghibah serta akibat yang akan ditimbulkan dari adanya hal seperti ini.

(Baca Juga: Menpan RB Segera Terbitkan Aturan Sistem Kerja Baru, 75% ASN DKI Bakal WFH)

Karena itu, hendaknya kita memperbaharui taubat kita kepada Allah Ta'ala dan berjanji untuk tidak terjerumus kembali pada ghibah dan dusta, semampu kita. Apalagi jika kita merenungi bahwa salah satu sifat mukmin adalah sebagaimana yang digambarkan dalam hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ (رواه البخاري)

Dari Abdullah bin Amru RA, Rasulullah SAW bersabda: "Seorang muslim adalah seseorang yang menjadikan muslim lainnya selamat (terjaga) dari lisan dan tanganya. Sedangkan muhajir adalah orang yang meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah Ta'ala. (HR. Al-Bukhari). (Baca Juga: Jauhi Ghibah! Istri Nabi Pernah Ditegur Gara-gara Sebut si Fulan Pendek)

Wallahu Ta'ala A'lam
(rhs)
cover top ayah
وَمَا عَلَّمۡنٰهُ الشِّعۡرَ وَمَا يَنۡۢبَغِىۡ لَهٗؕ اِنۡ هُوَ اِلَّا ذِكۡرٌ وَّقُرۡاٰنٌ مُّبِيۡنٌۙ
Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya. Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang jelas,

(QS. Yasin:69)
cover bottom ayah
preload video