Harta Sesungguhnya Manusia Hanya 2 Macam, Apa Saja?
Senin, 09 Juni 2025 - 14:40 WIB
loading...
Pada hakikatnya harta adalah milik Allah, ada pun uang yang disimpan, rumah yang ditinggali, mobil yang terparkir di garasi, tanah yang luas berhektar-hektar, emas dan perhiasan yang dimiliki semua itu bisa pindah dan hilang kapan saja. Foto ilustrasi/ki
A
A
A
Sesungguhnya harta yang benar-benar menjadi miliki manusia itu hanya ada dua. Pertama, apa yang sudah dimakan, dan kedua apa yang sudah disedekahkan.
Harta yang dimakan akan menjadi kotoran, sedangkan harta yang disedekahkan akan kekal menjadi milik kita sampai diakhirat.
Ada pun uang yang disimpan, rumah yang ditinggali, mobil yang terparkir di garasi, tanah yang luas berhektar-hektar, emas dan perhiasan yang dimiliki semua itu bisa pindah dan hilang kapan saja.
Musnahnya harta bisa terkena banyak sebab. Entah itu karena rusak, karena ditimpa bencana alam, banjir, tanah longsor, gunung meletus, di terjang angin topan, kebakaran, hilang di ambil orang, atau tiba-tiba kita meninggal sehingga menjadi warisan.
Karena itu tidak sepantasnya sebagai seorang muslim begitu pelit dan bangga dengan banyaknya harta yang di simpan, sebab tidak ada jaminan harta itu akan tetap akan dimiliki.
Namun justru sebaliknya harta yang dimiliki harus menjadi sarana untuk kita semakin mudah dapat meraih banyak pahala dan melakukan amal saleh.
Shahabat Abdullah bin asy-Syikhr radhiallahu 'anhu berkata, "Aku menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika beliau sedang membaca surat :
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu"
Kemudian beliau bersabda,
"Anak Adam berkata, 'ini hartaku.. ini hartaku..."
Baca juga: 7 Ayat Al-Qur'an tentang Kekayaan, Harta Bisa Menjadi Siksaan
Setelah itu Beliau melanjutkan,
"Hai anak adam, kamu tidak memiliki dari hartamu kecuali yang telah kamu makan lalu habis, atau pakaian yang kamu gunakan lalu pakaian itu rusak, atau yang kamu sedekahkan maka itulah yang tersisa." (HR. Muslim).
Ditambahkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu,
"Adapun selain itu (harta yang disedekahkan,pen), maka ia akan sirna dan ditinggalkan bagi manusia (ahli warisnya)."
(HR. Muslim).
Oleh karenanya selagi Allah Ta'ala masih memberikan kesempatan hidup, maka hendaknya gunakan harta yang dimiliki untuk meraih banyak pahala. Yakni dengan membiasakan diri untuk bersedekah dan membagi sebagian rezeki di jalan Allah.
Harta pemberian Allah jangan digunakan untuk foya-foya, jangan bersikap pelit, jangan hanya di simpan saja. Sebab, pada hakikatnya, harta yang kita sedekahkan itulah yang benar-benar akan menjadi milik kita, sedangkan apa yang kita simpan bisa kapan saja hilang, rusak, habis atau menjadi warisan.
Seorang mukmin hendaknya amanah terhadap hartanya. Yakni membelanjakan harta itu di jalan Allah. Mukimin harus gemar sedekah dan infaq, selain tidak boleh lupa dengan zakatnya. Ingatlah, ada hak orang lain yang fakir dan miskin di dalam harta kita.
Walllahu A'lam
Baca juga: Mutiara Hadis: Hakikat Harta yang Sebenarnya
Harta yang dimakan akan menjadi kotoran, sedangkan harta yang disedekahkan akan kekal menjadi milik kita sampai diakhirat.
Ada pun uang yang disimpan, rumah yang ditinggali, mobil yang terparkir di garasi, tanah yang luas berhektar-hektar, emas dan perhiasan yang dimiliki semua itu bisa pindah dan hilang kapan saja.
Musnahnya harta bisa terkena banyak sebab. Entah itu karena rusak, karena ditimpa bencana alam, banjir, tanah longsor, gunung meletus, di terjang angin topan, kebakaran, hilang di ambil orang, atau tiba-tiba kita meninggal sehingga menjadi warisan.
Karena itu tidak sepantasnya sebagai seorang muslim begitu pelit dan bangga dengan banyaknya harta yang di simpan, sebab tidak ada jaminan harta itu akan tetap akan dimiliki.
Namun justru sebaliknya harta yang dimiliki harus menjadi sarana untuk kita semakin mudah dapat meraih banyak pahala dan melakukan amal saleh.
Shahabat Abdullah bin asy-Syikhr radhiallahu 'anhu berkata, "Aku menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika beliau sedang membaca surat :
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu"
Kemudian beliau bersabda,
يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي، مَالِي، قَالَ: وَهَلْ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْت
"Anak Adam berkata, 'ini hartaku.. ini hartaku..."
Baca juga: 7 Ayat Al-Qur'an tentang Kekayaan, Harta Bisa Menjadi Siksaan
Setelah itu Beliau melanjutkan,
"Hai anak adam, kamu tidak memiliki dari hartamu kecuali yang telah kamu makan lalu habis, atau pakaian yang kamu gunakan lalu pakaian itu rusak, atau yang kamu sedekahkan maka itulah yang tersisa." (HR. Muslim).
Ditambahkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu,
وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ، وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ
"Adapun selain itu (harta yang disedekahkan,pen), maka ia akan sirna dan ditinggalkan bagi manusia (ahli warisnya)."
(HR. Muslim).
Oleh karenanya selagi Allah Ta'ala masih memberikan kesempatan hidup, maka hendaknya gunakan harta yang dimiliki untuk meraih banyak pahala. Yakni dengan membiasakan diri untuk bersedekah dan membagi sebagian rezeki di jalan Allah.
Harta pemberian Allah jangan digunakan untuk foya-foya, jangan bersikap pelit, jangan hanya di simpan saja. Sebab, pada hakikatnya, harta yang kita sedekahkan itulah yang benar-benar akan menjadi milik kita, sedangkan apa yang kita simpan bisa kapan saja hilang, rusak, habis atau menjadi warisan.
Seorang mukmin hendaknya amanah terhadap hartanya. Yakni membelanjakan harta itu di jalan Allah. Mukimin harus gemar sedekah dan infaq, selain tidak boleh lupa dengan zakatnya. Ingatlah, ada hak orang lain yang fakir dan miskin di dalam harta kita.
Walllahu A'lam
Baca juga: Mutiara Hadis: Hakikat Harta yang Sebenarnya
(wid)