Pejabat Makin Kaya Rakyat Hidup dalam Kemiskinan, Bagaimana Pandangan Islam?
Rabu, 11 Juni 2025 - 11:04 WIB
loading...
Ajaran Islam menekankan pentingnya keadilan sosial dan kesejahteraan yang merata bagi semua lapisan masyarakat. Foto ilustrasi/dok sindonews
A
A
A
Potret pejabat yang hidup makin kaya, sementara rakyatnya hidup dalam kemiskinan bukan fiksi belaka, namun fakta adanya. Bahkan kondisi demikian terbukti ada di banyak negara, termasuk Indonesia. Lantas bagaimana pandangan Islam terhadap kesenjangan hidup seperti ini?
Sebenarnya syariat Islam tidak mengharamkan gaya hidup mewah, kalau pada dasarnya harta itu halal dan memang kekayaan itu 100% milik dirinya sendiri.
Konon dikabarkan seorang imam Ahmad bin Hanbal termasuk tokoh ulama yang gaya hidupnya terbilang mewah, setidaknya untuk ukuran rata-rata para ulama di masanya. Namun karena sumber kekayaannya 100% halal, lagi pula beliau tidak pernah pamer dan dengan semua kekayaannya, tidak ada seorang pun yang meributkan kekayaannya.
"Tetapi lain halnya dengan gaya hidup mewah yang dilakukan oleh para pejabat. Apalagi kalau semua orang sudah tahu bahwa sebelum jadi pejabat, sebenarnya termasuk jajaran orang kere yang mengontrak rumah petak bulanan pun masih nunggak berbulan-bulan.Tiba-tiba begitu jadi pejabat, lantas kehidupan perekonomiannya jadi baik, duitnya tiba-tiba jadi banyak, lantas menjalani gaya hidup mewah. Bahkan bukan hanya itu, tetapi malah kelihatan rada kampungan dengan memamerkan semua kekayaannya di tengah penderitaaan rakyatnya yang miskin,"ungkap Ustaz Ahmad Syarwat.
Menurutnya, walaupun 100% harta halal dan kita tidak boleh berburuk sangka, tetapi kalau penampilan norak dan kampungannya selalu ditampilkan dimana-mana, tentu saja rakyat tergoda untuk mempertanyakannya. " Dalam logika rakyat yang sederhana, amat wajar kalau ada pengusaha kaya menjalani gaya hidup mewah. Tetapi sangat tidak bisa diterima logika bahwa ada orang kere tiba-tiba jadi pejabat, mendadak kaya raya dan hidup mewah, kok kita dilarang bertanya dari mana kekayaanya" tegas dai yang berkhidmat di Rumah Fiqih ini.
Dalam pandangan Islam,ketimpangan kekayaan di mana pejabat menjadi kaya sementara rakyat banyak mengalami kemiskinan adalah masalah serius.Ajaran Islam menekankan pentingnya keadilan sosial dan kesejahteraan yang merata bagi semua lapisan masyarakat.Kekayaan harus digunakan untuk kebaikan bersama dan tidak boleh dikonsentrasi pada segelintir orang saja.
Baca juga: 10 Orang di Indonesia Lebih Kaya dari 114 Juta Penduduk, Hashim: Termasuk Keluarga Saya
Hal itu ditegaskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalan dalam sebuah hadis. Beliau bersabda, "Amanah itu mendatangkan rezeki, sedangkan khianat itu mendatangkan kemiskinan" (HR Dailami).
Hadis Rasulullah SAW itu dengan jelas menunjukkan, salah satu sebab timbulnyakemiskinanadalah khianat. Ini dapat terjadi dalam konteks kehidupan masyarakat sebagai bangsa, yakni tidak amanahnya para penguasa terhadap tanggung jawab. Demikian pula, para pejabat publik yang semestinya menjadi pelayan dan pengayom rakyat, justru mengkhianati segala amanat yang diembannya.
Sedikitnya, ada dua perilaku khianat yang menyebabkan timbulnya kemiskinan struktural.
Sebenarnya syariat Islam tidak mengharamkan gaya hidup mewah, kalau pada dasarnya harta itu halal dan memang kekayaan itu 100% milik dirinya sendiri.
Konon dikabarkan seorang imam Ahmad bin Hanbal termasuk tokoh ulama yang gaya hidupnya terbilang mewah, setidaknya untuk ukuran rata-rata para ulama di masanya. Namun karena sumber kekayaannya 100% halal, lagi pula beliau tidak pernah pamer dan dengan semua kekayaannya, tidak ada seorang pun yang meributkan kekayaannya.
"Tetapi lain halnya dengan gaya hidup mewah yang dilakukan oleh para pejabat. Apalagi kalau semua orang sudah tahu bahwa sebelum jadi pejabat, sebenarnya termasuk jajaran orang kere yang mengontrak rumah petak bulanan pun masih nunggak berbulan-bulan.Tiba-tiba begitu jadi pejabat, lantas kehidupan perekonomiannya jadi baik, duitnya tiba-tiba jadi banyak, lantas menjalani gaya hidup mewah. Bahkan bukan hanya itu, tetapi malah kelihatan rada kampungan dengan memamerkan semua kekayaannya di tengah penderitaaan rakyatnya yang miskin,"ungkap Ustaz Ahmad Syarwat.
Menurutnya, walaupun 100% harta halal dan kita tidak boleh berburuk sangka, tetapi kalau penampilan norak dan kampungannya selalu ditampilkan dimana-mana, tentu saja rakyat tergoda untuk mempertanyakannya. " Dalam logika rakyat yang sederhana, amat wajar kalau ada pengusaha kaya menjalani gaya hidup mewah. Tetapi sangat tidak bisa diterima logika bahwa ada orang kere tiba-tiba jadi pejabat, mendadak kaya raya dan hidup mewah, kok kita dilarang bertanya dari mana kekayaanya" tegas dai yang berkhidmat di Rumah Fiqih ini.
Dalam pandangan Islam,ketimpangan kekayaan di mana pejabat menjadi kaya sementara rakyat banyak mengalami kemiskinan adalah masalah serius.Ajaran Islam menekankan pentingnya keadilan sosial dan kesejahteraan yang merata bagi semua lapisan masyarakat.Kekayaan harus digunakan untuk kebaikan bersama dan tidak boleh dikonsentrasi pada segelintir orang saja.
Baca juga: 10 Orang di Indonesia Lebih Kaya dari 114 Juta Penduduk, Hashim: Termasuk Keluarga Saya
Kemiskinan dan Sifat Amanah Pemimpin
Kemiskinan yang melanda suatu daerah atau negara berkaitan dengan sifat amanah orang yang memimpin masyarakat setempat.Hal itu ditegaskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalan dalam sebuah hadis. Beliau bersabda, "Amanah itu mendatangkan rezeki, sedangkan khianat itu mendatangkan kemiskinan" (HR Dailami).
Hadis Rasulullah SAW itu dengan jelas menunjukkan, salah satu sebab timbulnyakemiskinanadalah khianat. Ini dapat terjadi dalam konteks kehidupan masyarakat sebagai bangsa, yakni tidak amanahnya para penguasa terhadap tanggung jawab. Demikian pula, para pejabat publik yang semestinya menjadi pelayan dan pengayom rakyat, justru mengkhianati segala amanat yang diembannya.
Sedikitnya, ada dua perilaku khianat yang menyebabkan timbulnya kemiskinan struktural.
1. Tidak berpihak kepada rakyat kecil
Ketidakberpihakan kepada rakyat kecil ini, maksudnya bahwa penguasa hanya membuat sistem peraturan dan kebijakan yang hanya menguntungkan kelompok tertentu atau bahkan golongannya sendiri. Akibatnya, muncul ketimpangan sosial. Di antara ciri-cirinya adalah berputarnya kekayaan dalam jumlah besar hanya pada segelintir orang.Lihat Juga :