Bersatunya Islam Melawan Zionis Pintu Pembuka Kemenangan Muslim, Akankah Segera Terwujud?
Jum'at, 13 Juni 2025 - 15:21 WIB
loading...
Konvoi aktivis kemanusiaan untuk Gaza yang melibatkan 7.000 peserta dari hampir 32 negara yang membawa obat, makanan dan harapan menuju Gaza. Mereka bersatu bertujuan menghentikan perang genosida Israel di Gaza. Foto istimewa
A
A
A
AKSI kemanusiaan untuk Gaza yang melibatkan 7.000 peserta dari berbagai negara yang konvoi membawa obat, makanan dan harapan, baru-baru ini membuat ketar-ketir Zionis Israel.
Konvoi aktivis dari Afrika Utara sampai Asia, semua bersatu demi satu kata, kemanusiaan, dijuluki “Konvoi Ketahanan Maghreb” atau “Konvoi Soumoud”. Peserta konvoi memulai perjalanannya pada hari Senin (9/6) lalu dari Tunisia, dengan 300 kendaraan lebih. Kafilah protes tersebut mencakup aktivis dari Mauritania, Maroko, Aljazair, Tunisia, dan Libya dan diperkirakan akan memasuki Mesir pada hari Kamis sebelum tiba di Rafah dalam beberapa hari mendatang.
Inisiatif tersebut merupakan bagian dari gerakan global ribuan aktivis solidaritas dari 32 negara yang bertujuan menghentikan perang genosida Israel di Gaza , mengakhiri pengepungan, dan mengirimkan bantuan kepada lebih dari dua juta warga Palestina yang menghadapi ancaman kelaparan.
Akankah misi mereka berhasil? Dan bukan tidak mungkin aksi ini sebagai simbol bahwa bersatunya umat Islam dalam melawan zionis dianggap sebagai kunci penting menuju kemenangan dan kemanusiaan.
Namun, adakah secercah harapan bagi kaum Muslim di akhir zaman? Adakah balasan bagi kejahatan Yahudi Zionis ini? Ternyata ada. Dalam sebuah hadis Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menegaskan sisi yang kontras. Masa depan kaum Muslim ditutup dengan kemenangan. Sebaliknya, kaum Yahudi terhina karena menjadi pengikut Dajjal. Al-Jazâ’ min jins al-’amal. Balasan sesuai dengan jenis perbuatan.
Salamah bin Nufail radhiyallahu'anhu berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
"Pusat Dâr al-Islâm adalah di Negeri Syam (HR ath-Thabarani).
Al-Imam ash-Shan’ani (w. 1182 H) dalam Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr (VII/246) menguraikan bahwa seakan-akan Nabi SAW menunjukkan bahwa ibukota Khilafah tersebut terjadi pada masa tersebarnya fitnah. Negeri Syam ketika itu menjadi tempat paling aman. Kaum Muslim di dalamnya paling selamat. Hadis ini pun mendorong kaum Muslim untuk berpatokan pada Negeri Syam pada masa munculnya fitnah, sebagaimana banyak ditunjukkan oleh sejumlah hadis. Negeri Syam yang dimaksud adalah Palestina, Rasulullah saw. bersabda:
"Wahai putra Hawalah, jika engkau melihat Kekhalifahan telah berdiri di Tanah yang Suci (Palestina), maka sungguh telah dekat bencana gempa dan berbagai kesedihan serta perkara-perkara besar. Pada saat itu Hari Kiamat lebih dekat kepada umat manusia daripada tanganku ini ke kepalamu (HR Abu Dawud).
Mengomentari hadis ini, Asy-Syaikh Sa’id Hawa dalam Al-Asâs fî as-Sunnah (II/1025) menuturkan bahwa zhahir hadis ini mengabarkan Khilafah akan tegak dengan ibukotanya adalah Al-Quds. Isa bin Maryam as. akan menuju al-Quds setelah ia diturunkan di Damaskus. Ini menunjukkan bahwa Palestina pada saat itu dalam genggaman kaum Muslim dan bahwa Negara Yahudi akan sirna.
Khilafah yang dimaksud bukan Khilafah yang mengembalikan Palestina ke pangkuan Islam pada masa Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab ra., melainkan Khilafah pada akhir zaman. Kekhilafahan al-Imam al-Mahdi. Ini ditandai kalimat, “Pada saat itu Hari Kiamat lebih dekat kepada umat manusia…”
Baca juga: Israel Perintahkan Tentara Cegah Konvoi Bantuan Pro-Palestina 7.000 Orang Memasuki Gaza
Hal ini memastikan bahwa Bumi Al-Quds Palestina akan terbebas dari kaki-kaki kotor Zionis Yahudi dan para pendukungnya. Pada masa itulah kaum Muslim hidup dalam keberkahan dengan tegaknya syariah Islam secara total (kâffat[an]) dalam kehidupan, juga tegaknya masa futûhât dan jihad. Abu Sa’id al-Khudhri ra. berkata bahwa Nabi saw. pernah bersabda:
Tidaklah terjadi Hari Kiamat, kecuali setelah muka bumi dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan. Setelah itu keluarlah seorang lelaki dari kalangan keluargaku (Ahlul Bait), atau keturunanku, sehingga dia memenuhi dunia ini dengan keseimbangan dan keadilan, sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan (HR Ibn Hibban, Ahmad dan al-Hakim).
Sekretaris Jenderal Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS), Ali Al-Qaradaghi, pada bulan April 2025 lalu meminta umat Islam di seluruh dunia untuk segera turun tangan secara militer, ekonomi, dan politik guna menghentikan genosida yang tengah dilancarkan Israel di Jalur Gaza, Palestina.
Dalam pernyataan resmi, Qaradaghi menegaskan bahwa ketidakmampuan pemerintah Arab dan Islam dalam membela Gaza saat sedang dihancurkan merupakan kejahatan besar menurut hukum Islam. "Oleh karena itu, dan dalam rangka memenuhi kepercayaan yang diberikan Allah kepada para ulama, Komite Ijtihad dan Fatwa IUMS menyajikan keputusan-keputusan berikut tentang agresi Zionis yang sedang berlangsung," ujar Qaradaghi dalam fatwanya.
Qaradaghi merupakan salah satu tokoh agama paling dihormati di kawasan Timur Tengah. Fatwa yang dikeluarkannya amat berpengaruh di kalangan 1,7 miliar Muslim Sunni di dunia.
Fatwa merupakan keputusan hukum Islam yang tidak mengikat dan biasanya dikeluarkan oleh ulama terkemuka. Ulama mengeluarkan fatwa berdasarkan Al Quran atau sunnah (perkataan dan tindakan Nabi Muhammad SAW).
Baca juga: Palestina Bumi Ribath Akhir Zaman, Ini Beberapa Keutamaannya
Ulama kelahiran Irak mengeluarkan fatwa berisi 15 poin yang didukung oleh 14 ulama Muslim terkemuka lainnya.
Berikut 15 poin lengkap fatwa Qaradaghi.
1. Serukan jihad melawan Israel
2. Larang dukung Israel dalam bentuk apa pun
3. Larang pasok sumber daya
4. Serukan persatuan aliansi militer
5. Tinjau kembali perjanjian dengan Israel
6. Wajibkan jihad keuangan
7. Larang normalisasi
8. Desak ulama bersuara
9. Serukan boikot Israel dan sekutu
10. Tagih janji pemerintah AS
11. Serukan boikot perusahaan pendukung Israel
12. Minta Muslim pasok bantuan vital ke Gaza
13. Wajibkan Muslim bersatu
14. Berdoa untuk Gaza
15. Ucapan terima kasih
Pada poin terakhir, Komite Ijtihad dan Fatwa IUMS mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua negara, organisasi, komunitas, serta individu yang mendukung warga Gaza dalam bentuk apa pun.
Selain itu, bersatunya umat Islam dalam perjuangan ini juga dianggap sebagai bentuk respons yang tepat terhadap tindakan zionis dan sebagai bentuk pengingat akan amanah yang diemban umat Islam.
Solidaritas untuk palestina, maka kita sedang membicarakan jihad kemanusiaan, jihad melawan penjajahan, jihad mempertahankan tanah suci, dan jihad mempertahankan identitas umat Islam yang terus dilucuti oleh musuh-musuh agama ini.
Allah SWT berfirman:
Artinya “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu dan jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS Al Baqarah: 190)
Solidaritas terhadap Palestina adalah kewajiban keimanan dan kemanusiaan. Bukan sekadar empati, tetapi bentuk nyata dari ukhuwah Islamiyyah, tanggung jawab kolektif umat, dan implementasi jihad dalam konteks global. Jihad bukan semata-mata pertempuran bersenjata, melainkan juga, jihad dengan doa, harta, advokasi, pengetahuan, dan sikap politik yang tegas. Sehingga kemenangan itu akan terlihat nyata. Wallahu A'lam
Baca juga: Benarkah Perang Dunia ke-3 akan Menjadi Pertempuran Akhir Zaman?
Konvoi aktivis dari Afrika Utara sampai Asia, semua bersatu demi satu kata, kemanusiaan, dijuluki “Konvoi Ketahanan Maghreb” atau “Konvoi Soumoud”. Peserta konvoi memulai perjalanannya pada hari Senin (9/6) lalu dari Tunisia, dengan 300 kendaraan lebih. Kafilah protes tersebut mencakup aktivis dari Mauritania, Maroko, Aljazair, Tunisia, dan Libya dan diperkirakan akan memasuki Mesir pada hari Kamis sebelum tiba di Rafah dalam beberapa hari mendatang.
Inisiatif tersebut merupakan bagian dari gerakan global ribuan aktivis solidaritas dari 32 negara yang bertujuan menghentikan perang genosida Israel di Gaza , mengakhiri pengepungan, dan mengirimkan bantuan kepada lebih dari dua juta warga Palestina yang menghadapi ancaman kelaparan.
Akankah misi mereka berhasil? Dan bukan tidak mungkin aksi ini sebagai simbol bahwa bersatunya umat Islam dalam melawan zionis dianggap sebagai kunci penting menuju kemenangan dan kemanusiaan.
Harapan Kaum Muslim di Akhir Zaman
Kejahatan Zionis Israel yang dipertontonkan di depan mata dunia, mengulang tragedi berdarah di belahan Bumi Syam, Suriah sebelumnya, yang disikapi dunia tanpa aksi nyata, bagaikan tontonan film perang yang dianggap angin lalu saja. Potret tragis kondisi umat Muslim saat ini.Namun, adakah secercah harapan bagi kaum Muslim di akhir zaman? Adakah balasan bagi kejahatan Yahudi Zionis ini? Ternyata ada. Dalam sebuah hadis Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menegaskan sisi yang kontras. Masa depan kaum Muslim ditutup dengan kemenangan. Sebaliknya, kaum Yahudi terhina karena menjadi pengikut Dajjal. Al-Jazâ’ min jins al-’amal. Balasan sesuai dengan jenis perbuatan.
Palestina jadi Pusat Kekhilafahan Akhir Zaman
Rasulullah shallalalhu Alaihi Wassalam telah mengabarkan tegaknya kembali Khilafah yang ber-manhaj kenabian pada akhir zaman. Ini dipertegas dengan khabar tegaknya Kekhalifahan yang menjadikan Negeri Syam, khususnya Palestina , sebagai pusat Kekhalifahan.Salamah bin Nufail radhiyallahu'anhu berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
عُقْرُ دَارِ الْإِسْلَامِ بِالشَّامِ
"Pusat Dâr al-Islâm adalah di Negeri Syam (HR ath-Thabarani).
Al-Imam ash-Shan’ani (w. 1182 H) dalam Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr (VII/246) menguraikan bahwa seakan-akan Nabi SAW menunjukkan bahwa ibukota Khilafah tersebut terjadi pada masa tersebarnya fitnah. Negeri Syam ketika itu menjadi tempat paling aman. Kaum Muslim di dalamnya paling selamat. Hadis ini pun mendorong kaum Muslim untuk berpatokan pada Negeri Syam pada masa munculnya fitnah, sebagaimana banyak ditunjukkan oleh sejumlah hadis. Negeri Syam yang dimaksud adalah Palestina, Rasulullah saw. bersabda:
يا ابْنَ حَوَالَةَ، إِذَا رَأَيْتَ الْخِلَافَةَ قَدْ نَزَلَتْ أَرْضَ الْمُقَدَّسَةِ فَقَدْ دَنَتِ الزَّلَازِلُ وَالْبَلَابِلُ وَالْأُمُورُ الْعِظَامُ، وَالسَّاعَة يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنَ النَّاسِ مِنْ يَدِي هَذِهِ مِنْ رَأْسِكَ
"Wahai putra Hawalah, jika engkau melihat Kekhalifahan telah berdiri di Tanah yang Suci (Palestina), maka sungguh telah dekat bencana gempa dan berbagai kesedihan serta perkara-perkara besar. Pada saat itu Hari Kiamat lebih dekat kepada umat manusia daripada tanganku ini ke kepalamu (HR Abu Dawud).
Mengomentari hadis ini, Asy-Syaikh Sa’id Hawa dalam Al-Asâs fî as-Sunnah (II/1025) menuturkan bahwa zhahir hadis ini mengabarkan Khilafah akan tegak dengan ibukotanya adalah Al-Quds. Isa bin Maryam as. akan menuju al-Quds setelah ia diturunkan di Damaskus. Ini menunjukkan bahwa Palestina pada saat itu dalam genggaman kaum Muslim dan bahwa Negara Yahudi akan sirna.
Khilafah yang dimaksud bukan Khilafah yang mengembalikan Palestina ke pangkuan Islam pada masa Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab ra., melainkan Khilafah pada akhir zaman. Kekhilafahan al-Imam al-Mahdi. Ini ditandai kalimat, “Pada saat itu Hari Kiamat lebih dekat kepada umat manusia…”
Baca juga: Israel Perintahkan Tentara Cegah Konvoi Bantuan Pro-Palestina 7.000 Orang Memasuki Gaza
Hal ini memastikan bahwa Bumi Al-Quds Palestina akan terbebas dari kaki-kaki kotor Zionis Yahudi dan para pendukungnya. Pada masa itulah kaum Muslim hidup dalam keberkahan dengan tegaknya syariah Islam secara total (kâffat[an]) dalam kehidupan, juga tegaknya masa futûhât dan jihad. Abu Sa’id al-Khudhri ra. berkata bahwa Nabi saw. pernah bersabda:
لاَ تَقُوْمُ السَّاعَة حَتَّى تَمْتَلِيئَ الأَرْضُ ظُلْمًا وَعُدْوَانًا، ثمَّ يَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيَتِيْ أَوْ عِتْرَتِيْ فَيَمْلَؤُهَا قِسْطًا وَعَدْلا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَعُدْوَانًا
Tidaklah terjadi Hari Kiamat, kecuali setelah muka bumi dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan. Setelah itu keluarlah seorang lelaki dari kalangan keluargaku (Ahlul Bait), atau keturunanku, sehingga dia memenuhi dunia ini dengan keseimbangan dan keadilan, sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan (HR Ibn Hibban, Ahmad dan al-Hakim).
Fatwa Umat Islam Bersatu
Palestina sebagai pusat kekhalifahan Islam di akhir zaman , sudah menampakkan tanda-tandanya. Salah satunya dengan mulai bersatunya umat Islam yang digagas sejumlah ulama terkemuka di dunia dengan mengeluarkan fatwa langka yang mendesak seluruh umat Islam dan negara mayoritas Muslim melakukan jihad melawan Zionis Israel.Sekretaris Jenderal Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS), Ali Al-Qaradaghi, pada bulan April 2025 lalu meminta umat Islam di seluruh dunia untuk segera turun tangan secara militer, ekonomi, dan politik guna menghentikan genosida yang tengah dilancarkan Israel di Jalur Gaza, Palestina.
Dalam pernyataan resmi, Qaradaghi menegaskan bahwa ketidakmampuan pemerintah Arab dan Islam dalam membela Gaza saat sedang dihancurkan merupakan kejahatan besar menurut hukum Islam. "Oleh karena itu, dan dalam rangka memenuhi kepercayaan yang diberikan Allah kepada para ulama, Komite Ijtihad dan Fatwa IUMS menyajikan keputusan-keputusan berikut tentang agresi Zionis yang sedang berlangsung," ujar Qaradaghi dalam fatwanya.
Qaradaghi merupakan salah satu tokoh agama paling dihormati di kawasan Timur Tengah. Fatwa yang dikeluarkannya amat berpengaruh di kalangan 1,7 miliar Muslim Sunni di dunia.
Fatwa merupakan keputusan hukum Islam yang tidak mengikat dan biasanya dikeluarkan oleh ulama terkemuka. Ulama mengeluarkan fatwa berdasarkan Al Quran atau sunnah (perkataan dan tindakan Nabi Muhammad SAW).
Baca juga: Palestina Bumi Ribath Akhir Zaman, Ini Beberapa Keutamaannya
Ulama kelahiran Irak mengeluarkan fatwa berisi 15 poin yang didukung oleh 14 ulama Muslim terkemuka lainnya.
Berikut 15 poin lengkap fatwa Qaradaghi.
1. Serukan jihad melawan Israel
2. Larang dukung Israel dalam bentuk apa pun
3. Larang pasok sumber daya
4. Serukan persatuan aliansi militer
5. Tinjau kembali perjanjian dengan Israel
6. Wajibkan jihad keuangan
7. Larang normalisasi
8. Desak ulama bersuara
9. Serukan boikot Israel dan sekutu
10. Tagih janji pemerintah AS
11. Serukan boikot perusahaan pendukung Israel
12. Minta Muslim pasok bantuan vital ke Gaza
13. Wajibkan Muslim bersatu
14. Berdoa untuk Gaza
15. Ucapan terima kasih
Pada poin terakhir, Komite Ijtihad dan Fatwa IUMS mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua negara, organisasi, komunitas, serta individu yang mendukung warga Gaza dalam bentuk apa pun.
Kunci Kemenangan
Bersatunya umat Islam dalam melawan zionis dipandang sebagai kunci kemenangan dan jalan menuju pembebasan Palestina, seperti yang dinyatakan dalam fatwa ulama dunia. Fatwa ini menekankan kewajiban jihad bagi setiap muslim yang mampu, dan pentingnya dukungan negara-negara Islam baik dalam hal militer, ekonomi, maupun politik.Selain itu, bersatunya umat Islam dalam perjuangan ini juga dianggap sebagai bentuk respons yang tepat terhadap tindakan zionis dan sebagai bentuk pengingat akan amanah yang diemban umat Islam.
Solidaritas untuk palestina, maka kita sedang membicarakan jihad kemanusiaan, jihad melawan penjajahan, jihad mempertahankan tanah suci, dan jihad mempertahankan identitas umat Islam yang terus dilucuti oleh musuh-musuh agama ini.
Allah SWT berfirman:
وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ
Artinya “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu dan jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS Al Baqarah: 190)
Solidaritas terhadap Palestina adalah kewajiban keimanan dan kemanusiaan. Bukan sekadar empati, tetapi bentuk nyata dari ukhuwah Islamiyyah, tanggung jawab kolektif umat, dan implementasi jihad dalam konteks global. Jihad bukan semata-mata pertempuran bersenjata, melainkan juga, jihad dengan doa, harta, advokasi, pengetahuan, dan sikap politik yang tegas. Sehingga kemenangan itu akan terlihat nyata. Wallahu A'lam
Baca juga: Benarkah Perang Dunia ke-3 akan Menjadi Pertempuran Akhir Zaman?
(wid)
Lihat Juga :