Selain Syiah, Ternyata Ini 4 Agama Resmi di Iran, Apa Saja?
Senin, 23 Juni 2025 - 09:01 WIB
loading...
A
A
A
Sumber mazhab Syi’ah Iran adalah ajaran Ja’far al-Shadiq. Sejak Dinasti Qajar (1794-1925), golongan ulama Syi’ah memiliki Korps Hierarkis dan Otonom karena ada dana besar dari khumus. Khumus adalah kewajiban agama menurut mazhab Syi’ah dan tidak dibayarkan kepada negara. Karena itu, tidak aneh, jika pemerintah sesekali meminjam dana kepada para ulama yang hierarkis dan otonom ini.
Menurut al-Uzma Amin Rasti, salah satu yang menyebabkan kristalisasi mazhab Syi’ah dan menjadi mayoritas dan seperti berhadap-hadapan dengan Suni adalah akibat kekecewaan politik bangsa Persia terhadap bangsa Arab yang menindas.
Di samping itu ada pertemuan kultural Arab-Persia yang “terlembagakan” melalui pernikahan Imam Hussain dengan Syahr Banu putri kaisar Persia Yazdajird III.
Kaum Syi’ah di Iran memiliki hirarki keulamaan, mulai dari Hujatullah (Hujatul Islam wal Muslimin) dan Mullah (Ayatullah). Mereka adalah para penafsir al-Qur’an yang berwenang menerapkan hasil tafsirnya dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat.
Dalam tradisi intelektual, mereka melampaui dunia Islam Sunni terutama pada saat terjadi kekosongan ijtihad sejak abad pertengahan tahun Hijrah. Mereka giat mengembangkan warisan intelektual muslim Suni, dalam bidang filsafat Islam dan theosofi seperti yang dilakukan Suhrawardi. Lahirlah ilmuwan ulama seperti; Mulla Shadra, Shadr al-Din alQunnawy, dsb.
Di era modern lahir pula tokoh-tokoh ilmuwan ulama seperti Thabathaba’i, Muthahhari, Ali Syariati, dsb.
Pemerintah sering mempertemukan para tokoh agama minoritas dalam bentuk forum-forum keagamaan yang diselenggarakan, sehingga hubungan antar kaum minoritas menjadi sangat baik. Dalam pertemuan itu sering dibahas hal-hal yang berkaitan dengan usaha membangun kerukunan dan rekonsiliasi jika pernah konflik.
Para tokoh agamapun selalu penuh antusias untuk mengikutinya, karena sama-sama ingin meraih kedamaian yang sesungguhnya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Iran.
Menurut Mohammad Amin Rasti, pertemuan itu boleh jadi mirip dengan apa yang pernah dilakukan oleh Kementerian Agama di masa lalu, yaitu dialog antar agama yang tujuannya adalah juga menjaga hubungan baik antartokoh agama yang berbeda.
Baca juga: Masalah Keimaman bagi Kaum Syiah: Ajaran Ali Khamenei Sejajar dengan Al-Quran?
Menurut al-Uzma Amin Rasti, salah satu yang menyebabkan kristalisasi mazhab Syi’ah dan menjadi mayoritas dan seperti berhadap-hadapan dengan Suni adalah akibat kekecewaan politik bangsa Persia terhadap bangsa Arab yang menindas.
Di samping itu ada pertemuan kultural Arab-Persia yang “terlembagakan” melalui pernikahan Imam Hussain dengan Syahr Banu putri kaisar Persia Yazdajird III.
Kaum Syi’ah di Iran memiliki hirarki keulamaan, mulai dari Hujatullah (Hujatul Islam wal Muslimin) dan Mullah (Ayatullah). Mereka adalah para penafsir al-Qur’an yang berwenang menerapkan hasil tafsirnya dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat.
Dalam tradisi intelektual, mereka melampaui dunia Islam Sunni terutama pada saat terjadi kekosongan ijtihad sejak abad pertengahan tahun Hijrah. Mereka giat mengembangkan warisan intelektual muslim Suni, dalam bidang filsafat Islam dan theosofi seperti yang dilakukan Suhrawardi. Lahirlah ilmuwan ulama seperti; Mulla Shadra, Shadr al-Din alQunnawy, dsb.
Di era modern lahir pula tokoh-tokoh ilmuwan ulama seperti Thabathaba’i, Muthahhari, Ali Syariati, dsb.
Pemerintah sering mempertemukan para tokoh agama minoritas dalam bentuk forum-forum keagamaan yang diselenggarakan, sehingga hubungan antar kaum minoritas menjadi sangat baik. Dalam pertemuan itu sering dibahas hal-hal yang berkaitan dengan usaha membangun kerukunan dan rekonsiliasi jika pernah konflik.
Para tokoh agamapun selalu penuh antusias untuk mengikutinya, karena sama-sama ingin meraih kedamaian yang sesungguhnya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Iran.
Menurut Mohammad Amin Rasti, pertemuan itu boleh jadi mirip dengan apa yang pernah dilakukan oleh Kementerian Agama di masa lalu, yaitu dialog antar agama yang tujuannya adalah juga menjaga hubungan baik antartokoh agama yang berbeda.
Baca juga: Masalah Keimaman bagi Kaum Syiah: Ajaran Ali Khamenei Sejajar dengan Al-Quran?
(wid)
Lihat Juga :