Kemerdekaan, Makna dan Cinta Tanah Air dalam Perpekstif Islam
Minggu, 17 Agustus 2025 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
"Akan tetapi, setiap ibu telah dianugerahi Allah SWT suatu rasa kasih sayang kepada anak yang dilahirkannya sedemikian sempurnanya, sehingga setingkat hanya di bawah sifat Rahman (kasih sayang) daripada Allah sendiri," katanya.
Sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari penjajahan telah membakar semangat kebangsaan yang menggebu-gebu. Proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah tonggak bersejarah yang menandai awal dari perjalanan bangsa Indonesia sebagai negara merdeka.
"Cinta tanah air tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama, bahkan inklusif di dalam ajaran Al-Quran dan praktik Nabi Muhammad SAW," ujarnya.
Baca juga: Prabowo Umumkan Tema HUT ke-80 RI: Bersatu Berdaulat Rakyat Sejahtera Indonesia Maju
Hal ini bukan sekadar dibuktikan melalui ungkapan populer yang dinilai oleh sebagian orang sebagai hadis Nabi SAW, Hubbul wathan minal iman (Cinta tanah air adalah bagian dari iman), melainkan justru dibuktikan dalam praktek Nabi Muhammad SAW, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat.
Ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, beliau salat menghadap ke Bait Al-Maqdis. Tetapi, setelah enam belas bulan, rupanya beliau rindu kepada Makkah dan Kakbah, karena merupakan kiblat leluhurnya dan kebanggaan orang-orang Arab.
Begitu tulis Al-Qasimi dalam tafsirnya. Wajah beliau berbolak-balik menengadah ke langit, bermohon agar kiblat diarahkan ke Makkah, maka Allah merestui keinginan ini dengan menurunkan firman-Nya:
"Sungguh Kami (senang) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjid Al-Haram..." ( QS Al-Baqarah [2] : 144).
Cinta beliau kepada tanah tumpah darahnya tampak pula ketika meninggalkan kota Makkah dan berhijrah ke Madinah. Sambil menengok ke kota Makkah beliau berucap:
Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah bumi Allah yang paling aku cintai, seandainya bukan yang bertempat tinggal di sini mengusirku, niscaya aku tidak akan meninggalkannya.
Sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari penjajahan telah membakar semangat kebangsaan yang menggebu-gebu. Proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah tonggak bersejarah yang menandai awal dari perjalanan bangsa Indonesia sebagai negara merdeka.
Kebangsaan dan Cinta Tanah Air
Sementara itu, Prof Dr Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Quran" mengatakan rasa kebangsaan tidak dapat dinyatakan adanya, tanpa dibuktikan oleh patriotisme dan cinta tanah air."Cinta tanah air tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama, bahkan inklusif di dalam ajaran Al-Quran dan praktik Nabi Muhammad SAW," ujarnya.
Baca juga: Prabowo Umumkan Tema HUT ke-80 RI: Bersatu Berdaulat Rakyat Sejahtera Indonesia Maju
Hal ini bukan sekadar dibuktikan melalui ungkapan populer yang dinilai oleh sebagian orang sebagai hadis Nabi SAW, Hubbul wathan minal iman (Cinta tanah air adalah bagian dari iman), melainkan justru dibuktikan dalam praktek Nabi Muhammad SAW, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat.
Ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, beliau salat menghadap ke Bait Al-Maqdis. Tetapi, setelah enam belas bulan, rupanya beliau rindu kepada Makkah dan Kakbah, karena merupakan kiblat leluhurnya dan kebanggaan orang-orang Arab.
Begitu tulis Al-Qasimi dalam tafsirnya. Wajah beliau berbolak-balik menengadah ke langit, bermohon agar kiblat diarahkan ke Makkah, maka Allah merestui keinginan ini dengan menurunkan firman-Nya:
"Sungguh Kami (senang) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjid Al-Haram..." ( QS Al-Baqarah [2] : 144).
Cinta beliau kepada tanah tumpah darahnya tampak pula ketika meninggalkan kota Makkah dan berhijrah ke Madinah. Sambil menengok ke kota Makkah beliau berucap:
Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah bumi Allah yang paling aku cintai, seandainya bukan yang bertempat tinggal di sini mengusirku, niscaya aku tidak akan meninggalkannya.
Lihat Juga :