Istri Nabi Luth dan Istri Nabi Nuh Alaaihissalam

Potret Buruk Sifat Istri yang Dilaknat Allah Ta'ala

loading...
Potret Buruk Sifat Istri yang Dilaknat Allah Taala
Bentuk pengkhianatan istri Nabi Luth adalah ia memberitahukan kedatangan tamu-tamu Nabi Luth (malaikat yang berwujud manusia tampan rupawan) kepada kaumnya yakni Kaum Sodom. Foto ilustrasi/ist
Sejak dahulu kala, perempuan mempunyai peran yang tidak bisa dipandang sebelah mata, apalagi dilupakan. Terutama jika ada pihak yang mengasuhnya dan membawanya kepada kebenaran dengan pendidikan yang baik. Dari pendidikannya tersebut akan menghasilkan perempuan yang mampu memberi buah yang teramat ranum dan pohon-pohonnya akan menaungi alam semesta dengan kedamaian dan kebaikan.

Dari sejarah peradaban manusia, ada contoh-contoh konkret yang menampilkan sosok perempuan seperti itu, yang tergambar dari istri-istri para nabi. Seperti Siti Hajar dan Siti Sarah, istri Nabi Ibrahim alaihissalam. Sebaliknya, ada juga sosok atau figur perempuan yang buruk, seperti istri Nabi Luth dan Nabi Nuh alaihissalam.

Sosok istri yang baik, sudah pasti harus kita ambil keteladanannya. Sebaliknya sosok yang buruk, tentu menjadi hikmah dan kita sebagai perempuan harus mengambil pelajaran darinya.

(Baca juga : Sabar dalam Kondisi Mampu Menurut Pandangan Ibnu Taimiyah)

Disarikan dari buku "Istri-istri Para Nabi" yang ditulis Ahmad Khalil Jam'ah dan Syaik Muhammad bin Yusuf Ad-Dimasyqi, inilah gambaran buruk Istri Nabi Luth dan Istri Nabi Nuh tersebut.

Istri Nabi Luth yang bernama Walihah merupakan figur seorang istri yang tidak sempat merasakan manisnya iman. Hatinya lebih condong kepada apa yang diikuti oleh orang banyak daripada kebenaran yang dibawa oleh suaminya. Walihah,justrumenyerukan maksiat kepada para tamu Nabi Luth.

Dia membela kepentingan kaumnya (menjadi mata-mata) yakni Kaum Sodom, karena tidak ingin dimusuhi dan dibenci oleh orang-orang yang selama ini mencintai dan menghormati dirinya. Ia berkhianat pada suaminya Nabi Luth. Pengkhiantan yang dilakukannya adalah bentuk kemunafikan dan atau hasutan. Maka kesenangan sesaat yang diterima Walihah itu, Allah gantikan dengan kebinasaan yang didapat bersama kaumnya.

(Baca juga :Sifat Malu Adalah Kunci dari Semua Kebaikan)

Sedangkan Istri Nabi Nuh yang bernama Wailah ikut tenggelam oleh banjir besar bersama kaumnya yang menyekutukan Allah dengan menyembah patung-patung orang saleh, sedangkan istri Nabi Luth ditelan bumi karena adzab Allah atas kaumnya yang melakukan liwath (homoseksual).

Semua cerita ini telah Allah rangkum dalam sebuah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing)” (QS. At Tahrim 10).

(Baca juga :Rekor Baru, Sehari 3.963 Orang Positif Covid-19)

Ibnu Abbas radhiyallahu‘anhu berkata mengenai firman Allah tersebut,

“Pengkhianatan yang dimaksud bukanlah perbuatan zina (mereka serong atau selingkuh.. Pengkhianatan istri Nabi Nuh yaitu ia mengatakan kepada kaumnya bahwa suaminya gila.

Sedangkan pengkhianatan istri Nabi Luth adalah ia memberitahukan kedatangan tamu-tamu Nabi Luth (malaikat yang berwujud manusia tampan rupawan) kepada kaumnya” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir & Tafsir Thobari Surat Tahrim: 10).

Pelajaran yang bisa diambil dari ayat di atas adalah hendaknya seorang istri tidak menjelek-jelekkan suaminya kepada orang lain karena dikhawatirkan itu termasuk bentuk khianat sebagaimana yang dilakukan oleh istri Nabi Nuh yang menjelek-jelekkan suaminya dengan sebutan gila.

(Baca juga :Curhat Pedagang Tradisional Alami 6 Bulan Terberat)

Karena khianat itu artinya:

أن يُؤْتَمَنَ الإِنْسانُ فلا يَنْصَحَ

“Seseorang dipercayai namun ia tidak memenuhi kepercayaan tersebut dengan baik” (Qamus Al Muhith).

Padahal pernikahan adalah sebuah perjanjian yang tidak boleh dikhianati, bahkan bukan sekedar perjanjian, namun perjanjian yang kuat. Demikian yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:

وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (QS. An Nisa: 24).

(Baca juga :Dengan Suara Terbata-bata, Anies: Selamat Jalan Putra Terbaik Jakarta)

Wallahu a’lam.
(wid)
cover top ayah
وَمَنۡ يَّقۡتُلۡ مُؤۡمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآؤُهٗ جَهَـنَّمُ خَالِدًا فِيۡهَا وَغَضِبَ اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهٗ وَاَعَدَّ لَهٗ عَذَابًا عَظِيۡمًا
Dan barangsiapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.

(QS. An-Nisa:93)
cover bottom ayah
preload video