Sifat Malu Adalah Kunci dari Semua Kebaikan

loading...
Sifat Malu Adalah Kunci dari Semua Kebaikan
Sifat malu, adalah akhlak yang membuat seorang hamba bersemangat untuk mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan, meninggalkan hal-hal yang tidak pantas dan tidak patut. Foto ilustrasi/ist
Di antara akhlak mulia yang wajib dimiliki oleh seorang mukmin yaitu sifat malu, baik itu malu kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Karena malu itu adalah kunci dari semua kebaikan.

Ibnul Qayyim di dalam kitab 'Miftah Daris Sa’adah' menggolongkan malu ini kedalam sifat yang utama lagi luhur yang sangat bermanfaat bagi orang-orang yang memilikinya. Dan malu sendiri merupakan ciri khas manusia. Sehingga kita dibedakan dengan hewan ataupun makhluk hidup lainnya dengan malu itu. Karena kita manusia memiliki rasa malu, sementara makhluk-makhluk lainnya tidak memiliki sifat itu. Dan kita dianggap tidak memiliki kebaikan jika tidak memiliki akhlak yang mulia ini.

Dalam ceramahnya Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary, menyampaikan, tanpa malu, niscaya tidak ada tamu yang dimuliakan, janji yang ditepati, amanah yang ditunaikan, kebutuhan orang lain yang dipenuhi,keteladanan yang diikuti, perbuatan keji yang ditinggalkan, aurat yang ditutupi dari pandangan mata.

(Baca juga :Hati-hati Dalam Membelanjakan Harta)

"Itulah yang mengistimewakan manusia dengan makhluk-makhluk lainnya. Malu inilah yang mendorong kita untuk menunaikan kewajiban, memenuhi hak-hak orang lain, menyambung tali silaturahim dan kita berbakti kepada orang tua kita, menghormati yang tua, menyayangi yang muda, semua itu karena kita memiliki rasa malu,"ungkap dai yang menulis buku "Mencetak Generasi Rabbani" itu, dalam ceramah online-nya di laman radiorodja Jakarta, Senin (4/9) kemarin. Berikut paparan lengkapnya;



Malu, adalah akhlak yang membuat seorang hamba bersemangat untuk mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan, meninggalkan hal-hal yang tidak pantas dan tidak patut. Dengan inilah kita menjadi makhluk yang paling utama dan mulia di muka bumi dan berbeda dengan yang lainnya.

(Baca juga :Hemat dalam Hidup, Ternyata Sifat Istri Berkarakter Surgawi)

Malu ini merupakan salah satu bagian dari iman. Seorang mukmin harus memiliki sifat ini. Dan Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam adalah teladan yang tertinggi dalam memiliki rasa malu. Beliau adalah hamba yang sangat pemalu, bahkan malu Beliau melebihi gadis yang sedang dipingit yang selalu berada di dalam kamarnya.

Apabila Rasulullah melihat sesuatu yang tidak disukai, maka para sahabat dapat melihat dan mengetahui itu dari raut wajah beliau. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa seorang wanita pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam tentang cara bersuci dari haid, maka Nabi pun mengajarkannya, Nabi menyuruhnya untuk membubuhkan wewangian ke kapas lalu digunakan untuk membersihkan atau bersuci. Wanita itu bertanya: “Bagaimana cara membersihkan dengan kapas tersebut?” Nabi berkata: “Subhanallah, bersucilah kamu dengannya,” beliau berkata demikian seraya menutup wajah dengan tangan. Melihat keadaan itu ‘Aisyah segera menarik wanita tadi ke dekatnya karena memahami apa yang ingin beliau sampaikan maka ‘Aisyah menjelaskan: “Berikanlah bekas darah haidmu dengan kapas itu.”

(Baca juga :Pentingnya Muslimah Terus Meng-Upgrade Ilmu)



Ini kita dapat saksikan bagaimana malu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Dan malu Rasulullah terlihat jelas dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.Saat itu Beliau berkali-kali menghadap Allah untuk meminta keringanan perihal kewajiban salat yang ditetapkan atas umat beliau. Sebagaimana anjuran Nabi Musa, beliau meminta kepada Allah agar jumlah shalat itu dikurangi dari 50 kali menjadi 5 kali. Setelah ditetapkan 5 waktu, Nabi Musa masih menyuruh Nabi untuk meminta keringanan, akan tetapi Nabi menolaknya dan berkata: “Aku sudah berkali-kali meminta keringanan kepada Rabbku hingga aku malu. Sekarang aku rela dan menerima ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadilah 5 waktu sehari semalam kewajiban salat atas kaum muslimin.

Demikian Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, beliau adalah seorang yang memiliki rasa malu yang sangat tinggi dan kita wajib untuk meneladani dan meniru beliau.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّـهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh pada diri Nabi itu ada teladan yang baik bagimu untuk diikuti.” (QS. Al-Ahzab : 21)

(Baca juga :Ketua KPK: Pilkada Bersih Isyarat Demokrasi di Indonesia Sehat)

Bukan hanya dari apa yang Beliau contohkan, apa yang beliau tunjukkan kepada umat beliau, beliau juga berwasiat kepada kita semua agar menjaga akhlak ini pada diri kita, jangan sampai hilang. Malu itu benar-benar akhlak mulia dan akan membawa kebaikan. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan:

إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإِنَّ خُلُقَ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ

“Setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.” (HR. Ibnu Majah)

Kaum muslimin memiliki keistimewaan dari pada umat-umat yang lainnya dari sisi ini. Karena Nabi kita diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR Al-Bukhari)

(Baca juga :Dulu Nganggur, Kini 36% Peserta Kartu Prakerja Jadi Wirausaha)

Wallahu A'lam
(wid)
cover top ayah
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا فِى الۡبِلَادِؕ
Jangan sekali-kali kamu teperdaya oleh kegiatan orang-orang kafir yang bergerak di seluruh negeri.

(QS. Ali 'Imran:196)
cover bottom ayah
preload video