Tragedi Perang Jembatan dan Sikap Umar bin Khattab yang Lembut

Selasa, 22 September 2020 - 14:18 WIB
loading...
Tragedi Perang Jembatan...
Ilustrasi/Ist
A A A
GUGURNYA para komandan perang muslim membuat semangat pasukan menjadi lemah. Banyak di antara mereka yang kembali ke jembatan, masing-masing mau menyelamatkan diri. Keberadaan mereka dengan pasukan itu menjadi tak ada artinya lagi. Pemimpin mereka sudah tak ada, disiplin sudah rusak dan barisan mereka pun sudah kacau-balau. (Baca juga: Tragedi Perang Jembatan: Langgar Pesan Umar Bin Khattab, Pasukan Muslim Berguguran )

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul “ Umar bin Khattab ” menceritakan melihat keadaan begitu genting Al-Musanna bin Harisah maju merebut bendera pimpinan. la sudah tidak ingin lagi bertempur dan mencari kemenangan sesudah musibah menimpa pasukan Muslimin. Tetapi ia ingin menyusun kembali organisasinya lalu menyeberang sungai kembali ke Marwahah. (Baca juga: Perang Irak di Era Khalifah Umar bin Khattab, Jalankan Wasiat Abu Bakar )

Setelah itulah ia nanti akan menentukan langkah. Sementara ia sedang menyusun rencana akan kembali itu tiba-tiba Abdullah bin Marsad as-Saqafi merintangi perahu-perahu yang akan menyeberangi jembatan sambil berteriak sekuat-kuatnya: "Saudara-saudara! Matilah seperti pemimpin-pemimpin kita, atau menang!" (Baca juga: Ini Alasan Mengapa Umar bin Khattab Tak Biarkan Agama Lain Tumbuh di Jazirah Arab )

Merasa ngeri melihat apa yang dilakukan oleh Ibn Marsad, mereka yang tidak sabar berlompatan terjun ke sungai, dan banyak di antara mereka yang tenggelam. Musanna khawatir akan terjadi kekacauan.

Ia berdiri sambil berseru dengan bendera di tangan. "Saudara-saudara! Saya di belakangmu, menyeberanglah menurut cara-cara kalian dan jangan panik, tidak akan kami tinggalkan kalian sebelum kami melihat kalian sudah di seberang!" (Baca juga: Spekulasi Mengapa Umar bin Khattab Habisi Karir Militer Khalid bin Walid )

Setelah Ibn Marsad dijemput dan dibawa ia mendapat pukulan sebagai hukuman. Kapal yang sudah pecah dihimpun dan dijadikan jembatan penyeberangan. Mereka mulai kembali ke tempat semula dengan menyeberanginya. Di belakang mereka Musanna terus bertempur.

Ia dan pasukannya menghalang-halangi pasukan Persia. Dalam posisinya yang demikian itu Musanna terkena sasaran panah sehingga ia mengalami luka-luka dan meninggalkan sebuah lingkaran di baju besinya. Tetapi dia terus bertempur bersama Abu Zaid at-Ta'i an-Nasrani melindungi pasukan Muslimin. (Baca juga: Tak Mudah bagi Umar bin Khattab untuk Jalankan Wasiat Khalifah Abu Bakar )

Keberanian Salit bin Qais tidak kurang dari Musanna. Dengan demikian pasukan Muslimin yang masih ada dapat menyeberang ke Marwahah. Musanna tidak beranjak di tempatnya tanpa menghiraukan luka-luka yang dideritanya.

Sesudah melihat rekan-rekannya semua menyeberang, baru ia sendiri bertolak di belakang mereka, dengan meninggalkan Salit bin Qais yang gugur sebagai syahid, darahnya bercampur aduk dengan tanah medan pertempuran yang telah mengubur ribuan pahlawan Islam. (Baca juga: Sulit Menyakinkan Umat Islam, Begini Pengakuan Umar bin Khattab )

Banyak yang Terbunuh
Musanna tetap waspada adanya kemungkinan pasukan Bahman Jadhuweh, komandan perang tentara Persia, masih akan membuntutinya. Oleh karenanya, cepat-cepat ia dan pasukannya meluncur turun dari Marwahah ke Hirah, kemudian terus menyusur ke selatan menuju Ullais. Pengejarannya ini sudah diperhitungkannya seribu kali.

Mengapa tidak, mengingat dalam pertempuran itu anggota pasukan Muslimin sudah begitu banyak yang terbunuh, tenggelam di Furat dan dua ribu orang lagi dari Madinah lari menyelamatkan diri! (Baca juga: Pidato Pelantikan Umar bin Khattab yang Menggetarkan )

Tetapi mata Abu Ubaid yang sudah tertutup oleh kedudukan dan oleh besarnya jumlah orang, sehingga ia terdorong ingin menyeberangi sungai itu sampai akhirnya dia sendiri menemui ajalnya dan sekaligus menjerumuskan Muslimin ke dalam malapetaka, rupanya masih akan melindungi Musanna.

Sementara masih dalam pertempuran itu Bahman mendapat berita bahwa pasukan Persia di Mada'in terpecah dua, sebagian berpihak kepada Rustum dan yang sebagian lagi di pihak Fairuzan menentang Rustum. Itu sebabnya ia dan pasukannya kembali ke ibu kota. Yang masih tinggal hanya Javan dan Mardan Syah dengan sejumlah kecil pasukan. (Baca juga: Kisah Umar bin Khattab Meyakinkan Khalifah Abu Bakar tentang Pengumpulan Al-Qur'an )

Kedua pasukan inilah yang mengejar Musanna dengan anggapan bahwa mereka mampu menghadapinya. Mengenai berita-berita sekitar Persia oleh penduduk Ullais disampaikan kepada Musanna. la dan pasukannya disertai sejumlah besar penduduk Ullais segera bergerak, dan berhasil menawan Javan dan Mardan Syah. Mereka semua akhirnya dibunuh.

Baca juga: Menkeu Sebut Indonesia Masuk Epinsetrum Covid-19 Dunia

Dengan demikian Javan menemui ajalnya sebagai akibat pengkhianatannya kepada Abu Ubaid ketika ditawan di Namariq, ia pun dilindungi setelah meminta perlindungan kepada yang menawannya. Bahwa kemudian Javan berkhianat dan menyalahi janji
dengan memerangi kembali pihak Muslimin, maka hukuman mati ini sungguh adil sekali.

Sikap Umar
Pertama sekali pasukan Muslimin yang terlibat Perang Jembatan memasuki Madinah ialah Abdullah bin Zaid. Khalifah Umar bin Khattab melihatnya ketika ia memasuki Masjid. “Ada apa, Abdullah?” tanya Khalifah Umar kemudian. Abdullah melaporkan semua berita itu kepada Umar, tetapi Umar menerima berita itu dengan sikap tenang, tidak tampak sedih.

Baca juga: Positif Covid-19, Kondisi Menag Fachrul Razi Membaik

Kemudian menyusul datang mereka yang lari dari medan pertempuran itu ke Madinah dengan kepala menekur karena rasa malu atas kekalahan yang mereka alami sampai mereka melarikan diri itu. Yang lain, yang juga lari, mereka turun ke lembah-lembah karena malu akan menemui keluarga, yang akan menganggap mereka pengecut.

Melihat keadaan mereka Umar merasa kasihan. Ia berusaha menghibur dan membela mereka dari kritik dan kemarahan orang, dengan mengatakan: "Setiap Muslim sudah dibebaskan dari sumpahnya kepadaku. Saya adalah pasukan setiap Muslim. Barang siapa menjumpai musuh lalu merasa ngeri maka sayalah pasukannya. Saudara-saudara Muslimin, janganlah kalian bersedih hati! Saya termasuk pasukanmu dan kalian telah bergabung kembali kepada saya. Semoga Allah mengampuni Abu Ubaid! Sekiranya dia bergabung kepada saya niscaya sayalah pasukannya."

Baca juga: Larangan Umrah Siap Dicabut, Umrah akan Dilakukan Secara Bertahap

Ketika itu Mu'az penghafal Qur'an dari Banu Najjar termasuk yang melarikan diri ke Madinah dari pertempuran di jembatan itu. Dia menangis setiap membaca firman Allah ini: Barang siapa berbalik ke belakang hari itu — kecuali untuk suatu muslihat perang atau mundur ke pasukan sendiri — ia akan mendapat kemurkaan Allah, dan tempatnya adalah neraka, tempat kembali yang terburuk.

Untuk itu Umar berkata: "Mu'az, janganlah menangis. Saya pasukan Anda, Anda mundur berarti kembali kepada saya."

Sikap Umar terhadap mereka yang lari dan kembali ke Madinah sesudah mengalami kekalahan di jembatan, mengingatkan kita kepada sikap Rasulullah terhadap pasukan Muslimin yang kembali dari ekspedisi Mu'tah setelah perwira-perwira mereka terbunuh. Khalid bin Walid mulai menyusun siasat perangnya dengan anggota pasukan yang masih ada, -kemudian kembali ke Madinah tanpa dapat mengalahkan musuh. Penduduk Madinah berdatangan menaburkan tanah kepada pasukan itu seraya mengatakan: "Hai orang-orang pelarian! Kamu lari dari jalan Allah!"

Baca juga: Pilkada Dilanjutkan, Cakada Didorong Beri Teladan untuk Protokol Kesehatan

Tetapi Rasulullah berkata: "Mereka bukan pelarian, tetapi orang-orang yang akan tampil kembali, insya Allah."

Tetapi mundurnya Muslimin di Mu'tah tidak seperti kehancuran Muslimin di jembatan itu, sangat mengerikan dan akibatnya buruk sekali. Juga sikap Umar tidak seperti sikap Rasulullah yang penuh kasih sayang dan lembah lembut. Sungguhpun begitu, Umar cukup belas kasihan kepada yang sudah mengalami malapetaka di jembatan itu, bahkan ia menempatkan diri sebagai pasukan mereka, di pihak mereka dan membela mereka.

Baca juga: Minta Tunda Pilkada, Pengusaha Logistik: Menyelamatkan Nyawa Lebih Utama Dibanding Pendapatan

Menurut Haekal, dengan memperlihatkan sikap kasih sayang itu, mereka dapat dibuat lebih tenang dan beban aib karena kekalahan itu terasa lebih ringan. Tidak heran, dia sudah menjadi pemimpin mereka, menjadi Amirulmukminin, ia harus bersikap penuh kasih dan lebih menyantuni mereka. Lebih-lebih belas kasihannya kepada kaum yang lemah, kendati terhadap kaum yang kuat ia tetap tegar dan keras, dan memperlihatkan tangan besi terhadap orang-orang yang zalim.

Baca juga: Guru Besar UIN Golput di Pilkada, Pengamat: Banyak, Tapi Tak Menampakkan

Demikian keadaan Umar dan mereka yang berbalik dari pertempuran Jembatan itu. Tetapi Musanna selama beberapa waktu masih bertahan di Ullais setelah Javan, Mardan Syah dan pasukannya dihancurkan. Sesudah beristirahat dan mengumpulkan pasukannya, pikirannya tercurah mengenai posisinya terhadap Irak dan nasib umat Islam di sana. Sudah tentu ini merupakan hal yang sungguh rumit. (bersambung)
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Rahasia Keharmonisan...
Rahasia Keharmonisan Rumah Tangga Menurut Kisah Umar bin Khattab
Doa Umar bin Khattab...
Doa Umar bin Khattab agar Bisa Meninggal di Tanah Suci
Kisah Runtuhnya Kekaisaran...
Kisah Runtuhnya Kekaisaran Sassaniyah: Transformasi Jati Diri Bangsa Persia di Bawah Islam
Asal-usul Nama Iran:...
Asal-usul Nama Iran: Mengapa Identitas Persia Ditinggalkan?
Raja Yazdigird Terasing...
Raja Yazdigird Terasing : Runtuhnya Kekuasaan Persia di Tangan Khalifah Utsman bin Affan
Jejak Hormuz dan Khalid...
Jejak Hormuz dan Khalid bin Walid: Dari Duel Maut hingga Gerbang Penaklukan Persia
Rekomendasi
Ilmuwan Jepang Kembangkan...
Ilmuwan Jepang Kembangkan Kapal Pesiar untuk Hasilkan Energi Bersih dari Topan
Jawaban Menakutkan Mengapa...
Jawaban Menakutkan Mengapa Sungai Colorado Tidak Lagi Mencapai Laut Terkuak
Parasit Pemakan Daging...
Parasit Pemakan Daging Manusia Menteror Amerika Serikat
Artikel Terkini
Dakwah di Media Sosial...
Dakwah di Media Sosial : Cara Menebar Kebaikan dan Meraih Pahala Jariyah
Keutamaan Menutup Aib...
Keutamaan Menutup Aib Orang Lain dalam Islam, Allah Janjikan 3 Balasan Luar Biasa
Kisah Nabi Musa dan...
Kisah Nabi Musa dan Pendosa 40 Tahun, Bukti Allah Menutupi Aib Hamba yang Bertobat
Doa Agar Allah Menutupi...
Doa Agar Allah Menutupi Aib Kita, Lengkap Arab, Latin, Artinya, dan Hadis Nabi
4 Cara Mengetahui Aib...
4 Cara Mengetahui Aib Diri Sendiri Menurut Islam, Jangan Sibuk Mencari Aib Orang
Tanda Allah Menutup...
Tanda Allah Menutup Aib Seseorang, Ini Pesan Mendalam Habib Umar bin Hafizh
Infografis
Penemuan-penemuan Ilmuwan...
Penemuan-penemuan Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved