Kisah Sahabat Nabi

Ini Alasan Mengapa Umar bin Khattab Tak Biarkan Agama Lain Tumbuh di Jazirah Arab

loading...
Ini Alasan Mengapa Umar bin Khattab Tak Biarkan Agama Lain Tumbuh di Jazirah Arab
Ilustrasi/Ist
LANGKAH Khalifah Umar bin Khattab memerintahkan agar tawanan perang dari kaum murtad dikembalikan kepada keluarganya, benar-benar dapat mengambil hati orang-orang yang sudah tobat itu. Dari berbagai penjuru mereka cepat-cepat datang memenuhi seruan Khalifah untuk ikut mengambil bagian dalam perang di Irak. Mereka ingin membersihkan diri dari kemurtadan yang lalu. Selain itu, mereka juga berkeinginan mendapat rampasan perang seperti yang diperoleh Muslimin yang lain. (Baca juga: Spekulasi Mengapa Umar bin Khattab Habisi Karir Militer Khalid bin Walid)

Melihat respon positif ini membuat Umar senang. Ia merasa puas dengan karunia Allah Taala dalam mengatasi situasi yang begitu genting dihadapi pasukan Muslimin di luar Semenanjung Arab.

Selanjutnya pikirannya Umar tertuju ke arah lain yang pada dasarnya tidak menyimpang dari kebijaksanaan Rasulullah SAW dan kebijaksanaan Khalifah Abu Bakar, kendati dalam beberapa hal secara detail berbeda. (Baca juga: Tak Mudah bagi Umar bin Khattab untuk Jalankan Wasiat Khalifah Abu Bakar)

Kebebasan Beragama
Rasulullah SAW mengajak semua orang kepada agama Allah, tidak membeda-bedakan antara Ahli Kitab dengan yang lain. Tetapi orang-orang Yahudi Madinah melihat dakwah ini membahayakan mereka. Maka mereka pun mengadakan pendekatan dengan Rasulullah SAW dan mengadakan perjanjian tentang kebebasan beragama. (Baca juga: Sulit Menyakinkan Umat Islam, Begini Pengakuan Umar bin Khattab)

Hanya saja tak lama setelah kaum Yahudi ini melihat keadaan Nabi sudah stabil, mereka berkomplot memusuhinya. Rasulullah SAW menghadapi mereka dan dapat mengalahkan mereka sehingga kaum Yahudi dikeluarkan dari Madinah dan dari beberapa perkampungan mereka di Jazirah Arab.

Mereka yang masih tinggal hanya sebagian kecil, yang sesudah perang Khaibar mereka meminta damai untuk tetap tinggal dan bekerja di daerah mereka dengan ketentuan separuh dari hasil pertanian untuk Muslimin. (Baca juga: Pidato Pelantikan Umar bin Khattab yang Menggetarkan)



Adapun kaum Nasrani Najran mereka mengirim delegasi untuk berdebat dengan Nabi. Setelah Nabi mengajak mereka agar hanya menyembah Allah dan jangan mempersekutukan-Nya dengan siapa pun dan mereka tidak akan saling mempertuhan selain Allah, mereka menolak dan kembali ke negeri mereka.

Setelah itu mereka mengirim sebuah delegasi lagi meminta damai dengan membayar jizyah dengan imbalan mereka mendapat perlindungan dan kebebasan atas keyakinan agama mereka. (Baca juga:Kisah Pertentangan Ketika Khalifah Abu Bakar Menunjuk Umar sebagai Penggantinya)

Pihak Nasrani Najran juga memberikan pengakuan pada pemerintahan Khalifah Abu Bakar dan mengadakan perjanjian yang sama dengan perjanjian yang diadakan dengan Nabi. Juga perlakuan terhadap Yahudi Khaibar sama dengan perlakuan Rasulullah terhadap mereka.



Nasrani Najran
Tatkala menjabat khalifah, Umar menempuh suatu langkah baru. la memerintahkan kepada Ya'la bin Umayyah agar Nasrani Najran itu mengosongkan perkampungan mereka, dengan mengatakan: "Selesaikanlah urusan mereka dan janganlah mereka diganggu dari agama mereka. Keluarkanlah barang siapa yang masih berpegang pada agamanya. Tempatkanlah Muslim, dan berkelilinglah di tempat yang sudah dikosongkan. Kemudian biarlah memilih sendiri tempat lain. Katakan kepada mereka bahwa kita mengeluarkan mereka atas perintah Allah dan Rasul-Nya untuk tidak membiarkan ada dua agama di jazirah Arab.”
halaman ke-1 dari 4
cover top ayah
تَعۡرُجُ الۡمَلٰٓٮِٕكَةُ وَ الرُّوۡحُ اِلَيۡهِ فِىۡ يَوۡمٍ كَانَ مِقۡدَارُهٗ خَمۡسِيۡنَ اَلۡفَ سَنَةٍ‌ۚ‏
Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun.

(QS. Al-Ma'arij:4)
cover bottom ayah
preload video