4 Jenis Nikah Siri Beserta Hukumnya dalam Islam, Mana yang Sah dan Mana yang Tidak?
Senin, 20 Juli 2026 - 10:08 WIB
loading...
A
A
A
Beliau berkata: "Ini adalah nikah siri. Aku tidak mengizinkannya." (Al-Muwaththa')
Riwayat tersebut menunjukkan pentingnya menghadirkan saksi dalam akad nikah agar hak-hak suami, istri, dan anak terlindungi.
Dalam persoalan ini para ulama berbeda pendapat.
- Pendapat pertama, yang dipegang Imam Malik dan sebagian ahli hadis, menyatakan bahwa nikah seperti ini tidak sah.
- Sementara mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Syafi'i, dan Hanbali berpendapat bahwa akadnya tetap sah, tetapi menyelisihi sunnah karena Rasulullah SAW menganjurkan agar pernikahan diumumkan.
- Sebagian ulama juga menegaskan, apabila pernikahan yang dirahasiakan tersebut menimbulkan mudarat, membuka peluang fitnah, merugikan istri, atau berpotensi menghilangkan hak-hak anak, maka hukumnya dapat menjadi haram sebagaimana dijelaskan dalam Taqrib Fatawa Ibnu Taimiyyah.
Menurut hukum Islam, akad seperti ini tetap sah selama seluruh rukun dan syarat nikah telah terpenuhi. Namun, dari sisi hukum negara, pernikahan tersebut belum diakui karena tidak memiliki akta nikah sebagai bukti hukum.
Pemerintah mewajibkan setiap perkawinan dicatat sebagai bentuk perlindungan hukum terhadap suami, istri, dan anak. Kewajiban menaati aturan tersebut juga diperintahkan dalam Al-Qur'an.
Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian." (QS An-Nisa ayat 59)
Pencatatan perkawinan di KUA juga memberikan kepastian hukum bagi suami, istri, dan anak, sekaligus mencegah berbagai persoalan administrasi maupun sengketa hukum di kemudian hari.
Karena itu, para ulama menganjurkan agar setiap pasangan tidak hanya memastikan akad nikahnya sah menurut syariat, tetapi juga mencatatkannya sesuai ketentuan negara. Langkah ini lebih membawa kemaslahatan, melindungi hak seluruh anggota keluarga, dan menghindarkan berbagai kerugian di masa depan.
Baca juga: Nafkah Anak Setelah Perceraian: Berapa Besar yang Wajib Diberikan Ayah?
Riwayat tersebut menunjukkan pentingnya menghadirkan saksi dalam akad nikah agar hak-hak suami, istri, dan anak terlindungi.
3. Nikah Siri Dihadiri Wali dan Saksi, tetapi Dirahasiakan
Jenis ketiga adalah akad nikah yang telah memenuhi rukun, yakni dihadiri wali dan dua orang saksi, tetapi sengaja dirahasiakan atau tidak diumumkan kepada masyarakat.Dalam persoalan ini para ulama berbeda pendapat.
- Pendapat pertama, yang dipegang Imam Malik dan sebagian ahli hadis, menyatakan bahwa nikah seperti ini tidak sah.
- Sementara mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Syafi'i, dan Hanbali berpendapat bahwa akadnya tetap sah, tetapi menyelisihi sunnah karena Rasulullah SAW menganjurkan agar pernikahan diumumkan.
- Sebagian ulama juga menegaskan, apabila pernikahan yang dirahasiakan tersebut menimbulkan mudarat, membuka peluang fitnah, merugikan istri, atau berpotensi menghilangkan hak-hak anak, maka hukumnya dapat menjadi haram sebagaimana dijelaskan dalam Taqrib Fatawa Ibnu Taimiyyah.
4. Nikah Siri Memenuhi Rukun Nikah, tetapi Tidak Dicatat di KUA
Inilah bentuk nikah siri yang paling banyak dijumpai di Indonesia. Pernikahan dilaksanakan dengan wali, dua saksi yang sah, diumumkan kepada masyarakat, tetapi tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama (KUA).Menurut hukum Islam, akad seperti ini tetap sah selama seluruh rukun dan syarat nikah telah terpenuhi. Namun, dari sisi hukum negara, pernikahan tersebut belum diakui karena tidak memiliki akta nikah sebagai bukti hukum.
Pemerintah mewajibkan setiap perkawinan dicatat sebagai bentuk perlindungan hukum terhadap suami, istri, dan anak. Kewajiban menaati aturan tersebut juga diperintahkan dalam Al-Qur'an.
Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian." (QS An-Nisa ayat 59)
Dampak Nikah Siri yang Tidak Dicatat di KUA
Tidak mencatatkan pernikahan dapat menimbulkan sejumlah persoalan hukum, di antaranya:1. Status Anak Berpotensi Bermasalah Secara Administratif
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, anak yang lahir dari perkawinan yang tidak tercatat dapat menghadapi persoalan dalam pembuktian hubungan perdata dengan ayahnya apabila tidak ada penetapan pengadilan atau pembuktian hukum lainnya.2. Kesulitan Mengurus Dokumen Kependudukan
Anak tetap dapat memperoleh akta kelahiran, tetapi dalam kondisi tertentu pencantuman nama ayah memerlukan penetapan pengadilan apabila perkawinannya belum tercatat secara resmi.3. Lemahnya Perlindungan Hukum dalam Sengketa Waris
Walaupun menurut syariat Islam anak tetap memiliki hak-hak tertentu sesuai ketentuan fikih, dalam praktik hukum negara, tidak adanya pencatatan perkawinan dapat menyulitkan pembuktian hak-hak keperdataan, termasuk ketika terjadi sengketa waris di pengadilan.Mengapa Pernikahan Sebaiknya Dicatatkan?
Selain memenuhi rukun dan syarat nikah, Islam juga menganjurkan agar pernikahan diumumkan sehingga tidak menimbulkan fitnah di tengah masyarakat.Pencatatan perkawinan di KUA juga memberikan kepastian hukum bagi suami, istri, dan anak, sekaligus mencegah berbagai persoalan administrasi maupun sengketa hukum di kemudian hari.
Karena itu, para ulama menganjurkan agar setiap pasangan tidak hanya memastikan akad nikahnya sah menurut syariat, tetapi juga mencatatkannya sesuai ketentuan negara. Langkah ini lebih membawa kemaslahatan, melindungi hak seluruh anggota keluarga, dan menghindarkan berbagai kerugian di masa depan.
Baca juga: Nafkah Anak Setelah Perceraian: Berapa Besar yang Wajib Diberikan Ayah?
(wid)
Lihat Juga :