5 Sikap Terbaik Menyikapi Wabah Berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah

loading...
5 Sikap Terbaik Menyikapi Wabah Berdasarkan Al-Quran dan Sunnah
Pengasuh Rumah Fiqih Indonesia (RFI), Ustaz Ahmad Sarwat Lc MA. Foto/dok RFI
Wabah Corona atau Covid-19 merupakan fenomena unik yang terjadi di masa sekarang. Berbeda dengan pandemi lainnya, pandemi ini terjadi secara cepat menyebar ke seluruh penjuru muka bumi tanpa bisa dihindari.

Tak hanya Indonesia, seluruh dunia pun ikut merasakan dampaknya. Bagi umat Islam, wabah Covid-19 ini memberi ujian besar terutama dalam menjalankan ibadah Haji dan Umrah. Pemandangan Masjid Al-Haram pun menjadi unik, aktivitas tawaf (mathaf) kosong melompong. Belum lagi dampak sosial yang memporak-porandakan ekonomi masyarakat. Semuanya tentu kehendak Allah Ta'ala karena Dialah pemilik kerajaan langit dan bumi. (Baca Juga: Kabar Gembira Terkait Obat Herbal Covid-19 Temuan Ustaz Adi Hidayat)

Lalu, bagaimanakah sikap bijaksana dalam menghadapi wabah seperti ini? Dalam Buku "Memetik Hikmah di Tengah Wabah" Ustaz Ahmad Sarwatmenyampaikan 5 sikap terbaik yang diajarkan Al-Qur'an dan Sunnah. (Baca Juga: Cara Orang Beriman Menghadapi Wabah dan Doa Para Nabi)

1. Berprasangka Baik Kepada Allah Ta'ala
Yang pertama kali sebagai seorang muslim kita tetap harus berprasangka baik kepada Allah Ta'ala, khususnya ketika sedang menghadapi bala' dan bencana. Allah Ta'ala berfirman: "(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka." (QS. Al-Ahzab: 10)



Hal itu juga disebutkan dalam Hadits Qudsi berikut ini: "Aku (Allah) sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku, karenanya hendaklah ia berprasangka semaunya kepada-Ku." Jika kita berprasangka buruk, maka kita pun akan mengalami keburukan. Sebaliknya, kalau kita berprasangka baik, tentu Allah Ta'ala pun akan memberikan yang terbaik buat kita.

2. Optimis dan Berkata Baik
Kita tetap wajib bersikap optimistis dalam menghadapinya dan berucap kata-kata yang baik. Hal ini sebagaimana diajarkan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم dalam hadits dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu. "Tidaklah penyakit menular tanpa izin Allah dan tidak ada pengaruh dikarenakan seekor burung, tetapi yang mengagumkanku ialah al-Fa'lu (optimisme), yaitu kalimah hasanah atau kalimat thayyibah (kata-kata yang baik)." (HR. Al-Bukhari,Muslim)

Para ahli medis mengatakan bahwa salah satu faktor yang memicu penyembuhan para pasien korban Covid-19 adalah mentalitas yang optimis serta tidak stress. Yang dibicarakan bukan angka-angka korban kematian, melainkan angka-angka kesembuhan. Selain itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga melarang kita untuk berbicara yang tidak baik. Kalau tidak bisa membicarakan yang baik-baik saja, maka sebaiknya diam saja. "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam." (HR. Bukhari Muslim)



3. Kewajiban Menghindari Wabah
Hal pertama yang mesti dilakukan seorang muslim dalam menghadapi wabah penyakit setelah ia menata akidahnya adalah berikhtiyar semaksimal mungkin untuk menghindarinya. Bahkan sikap ini merupakan perintah langsung dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan juga sekaligus diamalkan oleh beliau "Dan larilah dari penyakit lepra sebagaimana engkau lari dari kejaran singa." (HR. Al-Bukhari)
halaman ke-1 dari 2
cover top ayah
فَلۡيَـضۡحَكُوۡا قَلِيۡلاً وَّلۡيَبۡكُوۡا كَثِيۡرًا‌ ۚ جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوۡا يَكۡسِبُوۡنَ
Sekarang, biarkanlah mereka sedikit tertawa, nanti mereka akan banyak menangis, sebagai balasan atas perbuatan mereka.

(QS. At-Taubah:82)
cover bottom ayah
preload video