Muslimah, Hati-hati dengan Tathayyur dan Tasya'um
Kamis, 24 September 2020 - 17:37 WIB
loading...
A
A
A
Bentuk penyelewengan akidah yang dilakukan perempuan ini, dijelaskan dalam kitab "“Mukhalafaat Nisaiyyah”, 100 Mukhalafah Taqa’u fiha al-Katsir Minan Nisa-i bi Adillatiha Asy-Syar’iyyah”, karya Abdul Lathif bin Hajis al-Ghomidi. Menurut Al-Ghomidi, bentuk tathayyur yang dilakukan kaum perempuan itu bermacam-macam.
(Baca juga : Isteri Berhak Meminta Nafkah Halal )
Di antara mereka ada yang menganggap sial karena hari-hari, tahun, dan bulan tertentu, seperti bulan shafar. Ada pula yang menganggap sial bilangan atau nomor-nomor tertentu, seperti nomer tujuh, sebelas, dan tiga belas. Yang lain ada yang menganggap sial jika melihat orang-orang tertentu, seperti melihat orang yang tidak ia sukai, atau pengumuman-pengumuman, warna-warna, kejadian-kejadian, tempat-tempat, lafazh-lafazh, bintang-bintang, hewan-hewan, dan mimpi. Perbuatan-perbuatan tersebut, semuanya dan sejenisnya hanya akan menafikkan kesempurnaan iman dan menodai kemurnian tauhid.
Dari Abu Hurairah diriwayatkan bahwa ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ صَفَرَ وَلاَ هَامَةَ
"Tidak ada ‘adwa (meyakini bahwa penyakit dapat menular sendiri tanpa takdir Allah), tidak "Tada thiyarah (menganggap sial karena melihat burung), tidak ada shafar (menganggap sial bulan shafar) dan hamah (meyakini bahwa tulang-tulang mayit menitis ke burung hantu) (Shahih Sunan Abi Dawud)
(Baca juga : Kemenag Siapkan Regulasi Umrah di Masa Pandemi COVID-19 )
Maka setiap muslimah, wajib bertawakkal kepada Allah azza wajalla dan tidak mengarahkan pendangannya ke masalah-masalah tersebut yang tidak akan bermanfaat bagi Allah sedikitpun. Hendaknya ia menyandarkan hatinya hanya kepada Allah Rabbnya, kerena tidak ada yang memiliki kunci-kunci segala permasalahan dan mengurusi segala keadaan, begitu pula kebaikan, keburukan, dan yang bisa memberikan manfaat maupun menolak madharat selain Allah azza wa jalla.
Allah Ta'ala berfirman,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
(Baca juga : Isteri Berhak Meminta Nafkah Halal )
Di antara mereka ada yang menganggap sial karena hari-hari, tahun, dan bulan tertentu, seperti bulan shafar. Ada pula yang menganggap sial bilangan atau nomor-nomor tertentu, seperti nomer tujuh, sebelas, dan tiga belas. Yang lain ada yang menganggap sial jika melihat orang-orang tertentu, seperti melihat orang yang tidak ia sukai, atau pengumuman-pengumuman, warna-warna, kejadian-kejadian, tempat-tempat, lafazh-lafazh, bintang-bintang, hewan-hewan, dan mimpi. Perbuatan-perbuatan tersebut, semuanya dan sejenisnya hanya akan menafikkan kesempurnaan iman dan menodai kemurnian tauhid.
Dari Abu Hurairah diriwayatkan bahwa ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ صَفَرَ وَلاَ هَامَةَ
"Tidak ada ‘adwa (meyakini bahwa penyakit dapat menular sendiri tanpa takdir Allah), tidak "Tada thiyarah (menganggap sial karena melihat burung), tidak ada shafar (menganggap sial bulan shafar) dan hamah (meyakini bahwa tulang-tulang mayit menitis ke burung hantu) (Shahih Sunan Abi Dawud)
(Baca juga : Kemenag Siapkan Regulasi Umrah di Masa Pandemi COVID-19 )
Maka setiap muslimah, wajib bertawakkal kepada Allah azza wajalla dan tidak mengarahkan pendangannya ke masalah-masalah tersebut yang tidak akan bermanfaat bagi Allah sedikitpun. Hendaknya ia menyandarkan hatinya hanya kepada Allah Rabbnya, kerena tidak ada yang memiliki kunci-kunci segala permasalahan dan mengurusi segala keadaan, begitu pula kebaikan, keburukan, dan yang bisa memberikan manfaat maupun menolak madharat selain Allah azza wa jalla.
Allah Ta'ala berfirman,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Lihat Juga :