Kisah di Medan Perang yang Bikin Baper
Jum'at, 25 September 2020 - 17:00 WIB
loading...
A
A
A
(Baca juga : Muslimah, Hati-hati dengan Tathayyur dan Tasya'um )
Dalam perjuangan dakwah Rasulullah selanjutnya, Shafiyyah menjadi orang yang dikenal gagah berani. Walaupun ia seorang perempuan dan berusia paruh baya, Shafiyyah ikut turun ke medan perang. Shafiyyah ikut berjuang dalam Perang Uhud dan perang Khandaq.
Ketika perang Uhud, Shafiyyah berusia sekitar 56 tahun. Bersama wanita muslimin lainnya, Shafiyyah merawat mujahid yang terluka, mengambilkan air untuk minum, hingga berperan memperbaiki panah yang rusak.
Kisah yang Bikin Baper
Dalam perang Uhud, kaum muslimin sempat menguasai keadaan dan menekan lawan. Saat kemenangan hampir di tangan, ternyata keadaan berbalik karena ada beberapa kaum muslimin tidak menuruti perintah Rasulullah. Kaum muslimin kembali berjuang melawan pasukan kaum kafir yang semakin menguasai keadaan.
(Baca juga : Uji Coba Vaksin Covid Suntik Indeks ke Zona Hijau )
Saat kondisi genting tersebut, Shafiyyah akhirnya turun ke medan perang. Untuk membantu kaum muslimin yang sedang kepayahan, ia maju dengan menggunakan senjata tombak.
Ketegaran Shafiyyah semakin tampak ketika ia hendak menghampiri jasad Hamzah bin Abdul Muthalib, saudaranya sekaligus paman Rasulullah, yang dibunuh dengan sadis oleh kaum kafir Quraisy. Rasulullah memerintahkan Zubair agar menjauhkan ibunya sehingga ia tidak melihat jasad Hamzah.
Shafiyyah kemudian menjawab dengan tegar, “Mengapa aku tidak boleh melihatnya? Aku mendengar saudaraku telah dibunuh dengan sadis, dan itu di jalan Allah”. Shafiyyah menunjukkan bahwa dirinya bisa rela dan ikhlas, karena yakin Hamzah meninggal di jalan Allah, sehingga Allah akan menempatkannya di tempat terbaik. Shafiyyah lalu diizinkan melihat jasad Hamzah dan menyolatinya.
(Baca juga : BPOM Bongkar Perdagangan Jamu dan Obat Tradisional Ilegal Senilai Rp3,25 M di Bekasi )
Dalam perjuangan dakwah Rasulullah selanjutnya, Shafiyyah menjadi orang yang dikenal gagah berani. Walaupun ia seorang perempuan dan berusia paruh baya, Shafiyyah ikut turun ke medan perang. Shafiyyah ikut berjuang dalam Perang Uhud dan perang Khandaq.
Ketika perang Uhud, Shafiyyah berusia sekitar 56 tahun. Bersama wanita muslimin lainnya, Shafiyyah merawat mujahid yang terluka, mengambilkan air untuk minum, hingga berperan memperbaiki panah yang rusak.
Kisah yang Bikin Baper
Dalam perang Uhud, kaum muslimin sempat menguasai keadaan dan menekan lawan. Saat kemenangan hampir di tangan, ternyata keadaan berbalik karena ada beberapa kaum muslimin tidak menuruti perintah Rasulullah. Kaum muslimin kembali berjuang melawan pasukan kaum kafir yang semakin menguasai keadaan.
(Baca juga : Uji Coba Vaksin Covid Suntik Indeks ke Zona Hijau )
Saat kondisi genting tersebut, Shafiyyah akhirnya turun ke medan perang. Untuk membantu kaum muslimin yang sedang kepayahan, ia maju dengan menggunakan senjata tombak.
Ketegaran Shafiyyah semakin tampak ketika ia hendak menghampiri jasad Hamzah bin Abdul Muthalib, saudaranya sekaligus paman Rasulullah, yang dibunuh dengan sadis oleh kaum kafir Quraisy. Rasulullah memerintahkan Zubair agar menjauhkan ibunya sehingga ia tidak melihat jasad Hamzah.
Shafiyyah kemudian menjawab dengan tegar, “Mengapa aku tidak boleh melihatnya? Aku mendengar saudaraku telah dibunuh dengan sadis, dan itu di jalan Allah”. Shafiyyah menunjukkan bahwa dirinya bisa rela dan ikhlas, karena yakin Hamzah meninggal di jalan Allah, sehingga Allah akan menempatkannya di tempat terbaik. Shafiyyah lalu diizinkan melihat jasad Hamzah dan menyolatinya.
(Baca juga : BPOM Bongkar Perdagangan Jamu dan Obat Tradisional Ilegal Senilai Rp3,25 M di Bekasi )
Lihat Juga :