Haji Pascapandemi, Abdirahman Mahamud: Kita Tidak Boleh Lengah!
Rabu, 28 Juni 2023 - 13:57 WIB
loading...
Kondisi Kakbah saat pandemi COVID-19, Juli 2020. Foto/Ilustrasi: Aljazeera
A
A
A
Dr Abdirahman Mahamuda adalah Direktur di Departemen Koordinasi Siaga dan Respons Program Kesehatan Darurat WHO. Ia melakukan perjalanan haji pada tahun 2019 saat pandemi COVID-19 mulai mewabah. Kini kondisi sudah normal. "Tetapi dengan berakhirnya pandemi COVID-19, kita tidak boleh lengah," ujarnya mengingatkan.
Dalam artikelnya berjudul "The Hajj is where spirituality, solidarity, and science intersect" yang dilansir Aljazeera 24 Juni 2023, Abdirahman Mahamuda mengingatkan haji tempo dulu .
Sewaktu masih anak-anak, Abdirahman Mahamuda mengaku, ia sering mendapat cerita tentang betapa beratnya mengerjakan haji tempo dulu. "Sebagai seorang anak," katanya, "ketika waktu haji tahunan semakin dekat, saya sering mendengar cerita yang sama dari ayah saya."
Dia bercerita tentang Syed Yussef, kerabat kakek buyut saya yang melakukan perjalanan ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji pada pergantian abad ke-20.
Baca juga: Haji Tempo Dulu: Menyingkap Dokumentasi Kereta Api Hejaz di Israel
Pada saat itu, perjalanan dari tanah air kami di Kenya utara ke tempat-tempat suci Islam merupakan perjalanan yang sulit dan banyak peziarah tidak berhasil kembali. Mereka menjadi korban penyakit, kelelahan, atau serangan bandit.
Mengetahui sepenuhnya bahaya ini, Syed Yussef berangkat ke Makkah dengan sangat gembira bahwa dia akan memenuhi kewajiban agamanya, mengalami perjalanan pemurnian spiritual dan merasakan lantai marmer yang sejuk di sekitar Kakbah Suci. Butuh waktu empat bulan – berjalan kaki, dengan perahu dan unta – untuk mencapai Tanah Suci.
"Lebih dari satu abad setelah kerabat jauh saya melintasi laut dan gurun untuk sampai ke Makkah, saya juga melakukan perjalanan – yang hanya memakan waktu beberapa jam dengan pesawat," tuturnya.
Berikut selengkapnya artikel Abdirahman Mahamuda tersebut:
Saat itu tahun 2019, setahun sebelum pandemi COVID-19. Saya ditunjuk sebagai anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia yang dikirim ke Arab Saudi untuk mendukung Kementerian Kesehatan dalam kesiapsiagaan krisis kesehatan dan pencegahan wabah penyakit selama musim haji.
Saya terkesan dengan langkah-langkah kesehatan masyarakat yang telah dilakukan oleh otoritas Saudi untuk menjaga keamanan jutaan orang yang berbondong-bondong datang.
Mereka telah memastikan bahwa para peziarah memiliki akses ke air bersih dan fasilitas sanitasi, makanan, transportasi dan perawatan medis. Orang tua, orang sakit dan orang cacat juga diakomodasi sehingga mereka dapat berpartisipasi penuh dalam haji. Tempat-tempat suci dijaga kebersihannya dan selalu ada pemantauan wabah penyakit.
Dalam artikelnya berjudul "The Hajj is where spirituality, solidarity, and science intersect" yang dilansir Aljazeera 24 Juni 2023, Abdirahman Mahamuda mengingatkan haji tempo dulu .
Sewaktu masih anak-anak, Abdirahman Mahamuda mengaku, ia sering mendapat cerita tentang betapa beratnya mengerjakan haji tempo dulu. "Sebagai seorang anak," katanya, "ketika waktu haji tahunan semakin dekat, saya sering mendengar cerita yang sama dari ayah saya."
Dia bercerita tentang Syed Yussef, kerabat kakek buyut saya yang melakukan perjalanan ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji pada pergantian abad ke-20.
Baca juga: Haji Tempo Dulu: Menyingkap Dokumentasi Kereta Api Hejaz di Israel
Pada saat itu, perjalanan dari tanah air kami di Kenya utara ke tempat-tempat suci Islam merupakan perjalanan yang sulit dan banyak peziarah tidak berhasil kembali. Mereka menjadi korban penyakit, kelelahan, atau serangan bandit.
Mengetahui sepenuhnya bahaya ini, Syed Yussef berangkat ke Makkah dengan sangat gembira bahwa dia akan memenuhi kewajiban agamanya, mengalami perjalanan pemurnian spiritual dan merasakan lantai marmer yang sejuk di sekitar Kakbah Suci. Butuh waktu empat bulan – berjalan kaki, dengan perahu dan unta – untuk mencapai Tanah Suci.
"Lebih dari satu abad setelah kerabat jauh saya melintasi laut dan gurun untuk sampai ke Makkah, saya juga melakukan perjalanan – yang hanya memakan waktu beberapa jam dengan pesawat," tuturnya.
Berikut selengkapnya artikel Abdirahman Mahamuda tersebut:
Saat itu tahun 2019, setahun sebelum pandemi COVID-19. Saya ditunjuk sebagai anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia yang dikirim ke Arab Saudi untuk mendukung Kementerian Kesehatan dalam kesiapsiagaan krisis kesehatan dan pencegahan wabah penyakit selama musim haji.
Saya terkesan dengan langkah-langkah kesehatan masyarakat yang telah dilakukan oleh otoritas Saudi untuk menjaga keamanan jutaan orang yang berbondong-bondong datang.
Mereka telah memastikan bahwa para peziarah memiliki akses ke air bersih dan fasilitas sanitasi, makanan, transportasi dan perawatan medis. Orang tua, orang sakit dan orang cacat juga diakomodasi sehingga mereka dapat berpartisipasi penuh dalam haji. Tempat-tempat suci dijaga kebersihannya dan selalu ada pemantauan wabah penyakit.
Lihat Juga :