Kisah Delegasi Muslim yang Kurus dan Kumal Itu Bertemu Kaisar Persia
Selasa, 13 Oktober 2020 - 09:40 WIB
loading...
A
A
A
Waktu itu Rustum masih di Sabat, tak jauh dari Mada'in. la belum pergi ke Kadisiah untuk menghadapi Sa’ad dan pasukannya di tepi seberang Sungai Furat.
Rustum memang memperlambat kepergiannya sesuai dengan politik yang sudah disebutkannya kepada Yazdigird. Oleh karena itu, tatkala ia sampai di Sabat dengan perjalanan pasukannya itu ia merasa sudah cukup untuk menanamkan rasa aman dalam hati penduduk Sawad, begitu juga mengirimkan pasukannya untuk penduduk Flirah dan kota-kota lain yang tersebar di hilir sampai ke hulu Sawad dengan mengecam mereka karena kepercayaan mereka yang masih goyah akan kekuatan kerajaannya dan karena ketakutan mereka kepada Arab.
Ia menjanjikan mereka akan menceraiberaikan orang-orang Arab itu dan mencampakkan mereka ke Sahara Semenanjung, dan jangan sekali-kali mereka bermimpi hendak kembali ke Irak lagi. (Baca juga: Kisah Budak Taglabi yang Berhasil Membunuh Panglima Perang Persia )
Delegasi
Kebalikannya Sa’ad bin Abi Waqqas, ia harus melaksanakan perintah Khalifah Umar. Oleh karena itu ia mengirim delegasi yang terdiri dari orang- orang cerdik pandai, bijaksana dan berani kepada Yazdigird. Di antara mereka an-Nu'man bin Muqarrin, Furat bin Hayyan, al-Asy'as bin Qais, Amr bin Ma'di Karib, al-Mugirah bin Syu'bah, al-Mu'anna bin Harisah dan yang lain semacamnya.
Mereka mendapat perintah agar mengajaknya kepada Islam. Kalau ia menolak maka akan terjadi perang.
Bilamana delegasi itu sudah sampai di Mada'in, penduduk kota itu tak habis heran melihat mereka kurus-kurus, diperhatikannya sosok mereka, dari pakaian yang terjuntai di bahu, cambuk di tangan dan sandal di kaki, sampai kepada kuda yang begitu lemah menapak tanah dengan kakinya. Mereka bertanya-tanya antara sesama mereka: Bagaimana mereka berani memerangi kita, berambisi mengalahkan kita dan menyerbu ibu kota kita?!
Delegasi itu meminta izin hendak menghadap Yazdigird. Setelah ia memanggil para menteri dan bermusyawarah dengan mereka, delegasi itu diizinkan masuk. Dengan sikap sombong dan angkuh ia berkata kepada mereka: "Apa yang mendorong kalian datang ke negeri ini? Adakah kalian nekat mendatangi kami karena kami sedang sibuk dengan urusan kami sendiri?" (Baca juga: 100.000 Pasukan Persia Tewas, Bertahun-Tahun Mayatnya Tak Dikubur )
Nu'man bin Muqarrin menjawab dengan menyebutkan bahwa Allah telah mengutus seorang rasul dari kalangan Arab dengan membawa wahyu dari Allah, dan diajaknya ia masuk Islam. "Kalau Tuan-tuan menolak harus membayar jizyah, dan kalau masih juga menolak maka akan terjadi perang."
Dan ditutup dengan mengatakan: "Kalau Tuan-tuan menerima agama kami, kami tinggalkan bagi Tuan-tuan Kitabullah yang akan dapat Tuan-tuan jadikan pegangan dan menjalankan hukum atas dasar itu. Kami tidak akan mencampuri urusan Tuan-tuan. Tuan-tuan sendiri yang mengurus negeri Tuan-tuan ini. Kalau Tuan-tuan membayar jizyah kewajiban kami melindungi segala kepentingan Tuan-tuan."
Berat sekali dirasakan oleh Yazdigird mendengar kata-kata semacam itu. Tetapi dia memilih cara yang lebih arif dan bijaksana disertai ketabahan hati: "Kami tidak melihat ada suatu bangsa di dunia ini yang lebih malang, lebih kecil jumlahnya dan paling sering bertengkar seperti kalian ini," katanya kemudian. (Baca juga: Perang Irak: Kabilah Nasrani Perkuat Pasukan Muslimin )
Rustum memang memperlambat kepergiannya sesuai dengan politik yang sudah disebutkannya kepada Yazdigird. Oleh karena itu, tatkala ia sampai di Sabat dengan perjalanan pasukannya itu ia merasa sudah cukup untuk menanamkan rasa aman dalam hati penduduk Sawad, begitu juga mengirimkan pasukannya untuk penduduk Flirah dan kota-kota lain yang tersebar di hilir sampai ke hulu Sawad dengan mengecam mereka karena kepercayaan mereka yang masih goyah akan kekuatan kerajaannya dan karena ketakutan mereka kepada Arab.
Ia menjanjikan mereka akan menceraiberaikan orang-orang Arab itu dan mencampakkan mereka ke Sahara Semenanjung, dan jangan sekali-kali mereka bermimpi hendak kembali ke Irak lagi. (Baca juga: Kisah Budak Taglabi yang Berhasil Membunuh Panglima Perang Persia )
Delegasi
Kebalikannya Sa’ad bin Abi Waqqas, ia harus melaksanakan perintah Khalifah Umar. Oleh karena itu ia mengirim delegasi yang terdiri dari orang- orang cerdik pandai, bijaksana dan berani kepada Yazdigird. Di antara mereka an-Nu'man bin Muqarrin, Furat bin Hayyan, al-Asy'as bin Qais, Amr bin Ma'di Karib, al-Mugirah bin Syu'bah, al-Mu'anna bin Harisah dan yang lain semacamnya.
Mereka mendapat perintah agar mengajaknya kepada Islam. Kalau ia menolak maka akan terjadi perang.
Bilamana delegasi itu sudah sampai di Mada'in, penduduk kota itu tak habis heran melihat mereka kurus-kurus, diperhatikannya sosok mereka, dari pakaian yang terjuntai di bahu, cambuk di tangan dan sandal di kaki, sampai kepada kuda yang begitu lemah menapak tanah dengan kakinya. Mereka bertanya-tanya antara sesama mereka: Bagaimana mereka berani memerangi kita, berambisi mengalahkan kita dan menyerbu ibu kota kita?!
Delegasi itu meminta izin hendak menghadap Yazdigird. Setelah ia memanggil para menteri dan bermusyawarah dengan mereka, delegasi itu diizinkan masuk. Dengan sikap sombong dan angkuh ia berkata kepada mereka: "Apa yang mendorong kalian datang ke negeri ini? Adakah kalian nekat mendatangi kami karena kami sedang sibuk dengan urusan kami sendiri?" (Baca juga: 100.000 Pasukan Persia Tewas, Bertahun-Tahun Mayatnya Tak Dikubur )
Nu'man bin Muqarrin menjawab dengan menyebutkan bahwa Allah telah mengutus seorang rasul dari kalangan Arab dengan membawa wahyu dari Allah, dan diajaknya ia masuk Islam. "Kalau Tuan-tuan menolak harus membayar jizyah, dan kalau masih juga menolak maka akan terjadi perang."
Dan ditutup dengan mengatakan: "Kalau Tuan-tuan menerima agama kami, kami tinggalkan bagi Tuan-tuan Kitabullah yang akan dapat Tuan-tuan jadikan pegangan dan menjalankan hukum atas dasar itu. Kami tidak akan mencampuri urusan Tuan-tuan. Tuan-tuan sendiri yang mengurus negeri Tuan-tuan ini. Kalau Tuan-tuan membayar jizyah kewajiban kami melindungi segala kepentingan Tuan-tuan."
Berat sekali dirasakan oleh Yazdigird mendengar kata-kata semacam itu. Tetapi dia memilih cara yang lebih arif dan bijaksana disertai ketabahan hati: "Kami tidak melihat ada suatu bangsa di dunia ini yang lebih malang, lebih kecil jumlahnya dan paling sering bertengkar seperti kalian ini," katanya kemudian. (Baca juga: Perang Irak: Kabilah Nasrani Perkuat Pasukan Muslimin )
Lihat Juga :